HELOINDONESIA.COM -Seorang warga negara Malaysia, yang dikenal dengan nama Santi (nama samaran), baru-baru ini menceritakan pengalamannya yang mengejutkan saat menghadiri acara internasional, yakni Djakarta Warehouse Project (DWP).
Dalam situasi yang penuh keramaian saat DJ Steve Aoki sedang tampil, Santi mengalami pemerasan oleh oknum polisi, Minggu, 15 Desember 2015.
Kejadian tersebut berlangsung di sisi kiri lokasi acara, di mana tiba-tiba seorang polisi berpakaian sipil muncul dengan maksud mengambil sampel narkotika.
Penggemar Red Sparks bersorak
Baca juga: Dengan Pemain Cadangan Red Sparks Mampu Kalahkan GS Caltex di Putaran ke 3
"Kami sedang bersenang-senang dan melompat-lompat ketika beberapa orang yang mengaku sebagai 'polisi' meminta kami untuk mengikuti mereka ke belakang. Saya pun menuruti permintaan itu," jelasnya saat diwawancarai pada Kamis, 19 Desember 2024.
Santi melanjutkan bahwa oknum polisi tersebut mengambil paspornya dan melakukan serangkaian tes kesadaran. Beberapa orang lainnya juga menjalani tes urine. Tes kesadaran yang dilakukan meliputi membaca angka di jari dan berjalan untuk mengecek apakah seseorang tampak linglung atau tidak.
Lho lho lho
Baca juga: Oknum Polisi Menantang Carok Warga, Auto Viral
Dalam proses tersebut, Santi menyadari bahwa oknum polisi di Indonesia cenderung meminta suap. Tanpa berpikir panjang, ia pun memberikan uang sebesar Rp200 ribu. "Setelah membayar, mereka hanya bilang 'ya sudah' dan setelah melihat berita, saya baru tahu bahwa banyak orang lain juga menjadi korban," imbuhnya.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Polisi Susatyo Purnomo Condro, enggan memberikan banyak komentar terkait banyaknya warga negara Malaysia yang mengalami pemerasan. Ia menyarankan agar pertanyaan tersebut diajukan kepada Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya. "Silakan koordinasi dengan Narkoba Polda," ujarnya.
Informasi yang beredar menunjukkan bahwa lebih dari 400 penonton DWP menjadi korban pemerasan oleh oknum polisi, dengan total kerugian mencapai 9 juta ringgit atau sekitar Rp32 miliar.
Sebelumnya, penyelenggara DWP, Ismaya Live, merilis pernyataan resmi mengenai isu pemalakan dan pemerasan yang terjadi. "Kepada keluarga besar DWP kami yang luar biasa, kami mendengar kekhawatiran Anda dan sangat menyesal atas tantangan serta frustrasi yang Anda alami," tulis mereka di Instagram pada 19 Desember 2024.
DWP berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dan pemerintah dalam menyelidiki insiden ini secara menyeluruh. "Kami secara aktif berkolaborasi dengan pihak berwenang untuk memastikan langkah-langkah konkret diterapkan guna mencegah insiden serupa di masa depan," tambah mereka. Keselamatan dan kesejahteraan pengunjung tetap menjadi prioritas utama bagi penyelenggara.
Polri kemudian merespons laporan tersebut dengan mencari para oknum karena tindakan mereka tidak bisa ditolerir.
“Jumlah terduga oknum personel yang diamankan sebanyak 18 personel, terdiri dari personel Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, dan Polsek Metro Kemayoran,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, dikutip dari Tribunnews, Jumat (20/12/2024).
Tetapi, Truno enggan membeberkan identitas polisi yang diamankan dalam kasus tersebut. Selain itu, Korps Bhayangkara segera bertindak mengusut kasus tersebut untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap institusinya melalui tindakan nyata.***
