Oleh Herman Batin Mangku*
DI Kota Bandarlampung, ada tempat nongkrong keren baru yang mengusung suasana elegan dengan live music berbagai gendrenya "pecah" di luar ruang tepi jalan samping RM Begadang Resto, Jl. Diponegorio, Telukbetung Utara: All Round Cafe.
Digagas Harry Kohar, Erlan, Oni, mereka membuat panggung sesuai nama cafenya bagi lintas pemain musik, penyanyi, dan para penggemar musik rock, jazz, pop, blues, dll bebas saling mengekspresikan kepiawaian selera musiknya.

Para dedengkot musik kerap nongkrong di cafe yang didekor bak ruang VIP suatu pesta di gedung mewah. Para penyanyi legend daerah ini, Andi Ahmad kerap nongkrong bersama kawan-kawannya di cafe terbuka tepi jalan.
Sound system berkualitas yang "nendang" dari Mika Band memastikan mereka yang datang menikmati live music yang tak kaleng-kaleng. Di cafe ini, ada musik profesional dan kehangatan interaksi para pemusik dan pengunjung.
Tak hanya itu, lidah mengunjung dan semilir malam bisa semakin lengkap dengan menu yang disuguhkan All Round Cafe: sop asparagus aop buntut, sate ayam, steak, nasi goreng, berbagai minuman, jus, dan aneka snack.

Ketika saya bersama pengqgemar musik rock Syamsul Arifin, SH, MH, advokat top berdedkasi, menengoknya, Jumat (8/8/2025), para pemusik yang turun ke gelanggang malam itu cukup dikenal di kalangan komunitas musik: Kiki (drumer), Benny (gitar), Doni (kiboard), Jack (bas).
Setiap malam, mereka yang naik panggung kompalk bergantian dari geng musik yang satu ke geng musik lainnya. All Round Cafe berhasil melunturkan perbedaan gendre musik dan ego para pemusik dan grup band daerah ini.
Mulai pukul 20.00 WIB, lagu-lagu mengalir dari para penyanyi dan pengunjung dimulai dari musik bernada jazz, pop masa lalu dan masa kini, hingga musik rock dari Led Zeplin, The Purple, dan lainnya.

Biasanya, setiap kali Harry Kohar yang naik panggung, suasana dipastikan makin pecah, selain musiknya, aktraksinya kerap memberot andrenalin ikut terbawa cadasnya musik rock. Jadi cirinya, tiang mik bisa berbalik meninju langit atau memainkan organ dengan cara tak biasa.
Di panggung, walau usianya sudah tak muda lagi, Harry menjadi cadas. Begitu pula mereka yang datang, ada gairah yang memgalir deras di cafe ini yang lumayan buat merefresh diri agar tetap semangat berselancar mengarungi ombak kehidupan.

Jika boleh usul, kata Syamsul Arifin. posisi panggung tetap dipertahankan. Hanya, cahaya lebih di tata agar menggiring penonton tetap fokus ke panggung dan meja-meja pengunjung ditambah privacynya dengan meredupkan lampu, bila perlu pakai lilin artifisial.
Even-even juga perlu digelar untuk menjadikan All Round Cafe central pertemuan antara para dedengkot musik dengan para penggemar musik. Oke, usia pasti terus menggelinding, tapi tetap bergairah lewat musik adalah pilihan. yeeeach!
* Pemred Club
-
