Helo Indonesia

KLa Project Buka Pintu Waktu, Ribuan Penonton Harmony of Java 2026 Terbawa Arus Nostalgia

51 menit lalu
    Bagikan  
 KLa Project Buka Pintu Waktu, Ribuan Penonton Harmony of Java 2026 Terbawa Arus Nostalgia

Penampilan vokalis KLa Project Katon Bagaskara dalam Harmony of Java 2026 di PRPP. Histeria para KLanis menyambut aksi sang idola.

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Begitu jarum jam melewati pukul 21.00 WIB, suasana di area Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, Semarang, mendadak bergemuruh.

Dari balik sorot lampu panggung, Lilo, Adi, dan Katon Bagaskara melangkah maju. Tanpa jeda lama, petikan melodi “Gerimis” membumbung ke udara, menyambut ribuan pasang mata yang telah menanti sejak sore.

Malam puncak perayaan Hari Jadi ke-81 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertajuk ''Harmony of Java 2026'', Sabtu malam (22/8/2026), menjelma menjadi panggung pemersatu generasi. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, dan Sekda Sumarno.

klanis

Aksi KLa Project tak ubahnya mesin waktu yang membawa ingatan melintasi zaman. Deretan tembang legendaris seperti Menjemput Impian, Belahan Jiwa, Semoga, hingga Lagu Baru dilahap habis oleh para KLanis yang hadir.

Suara khas Katon, raungan gitar Lilo, serta dentingan kibor Adi memicu gelombang nostalgia massal. Uniknya, saat hits bertema kesedihan seperti  Terpuruk dibawakan, ribuan penonton justru menyanyikannya dengan wajah berseri-seri.

Bagi sebagian penonton, ada sesuatu yang jauh lebih personal ketimbang sekadar berdendang bersama, yakni kenangan. Ketika KLa Project berdiri di atas panggung, seolah pintu waktu terbuka.

Tatkala cahaya panggung berpijar dibarengi suara khas Katon, raungan gitarnya Lilo, dan dentingan kibor Adi, masa lalu seperti kembali menemukan jalannya. Lagu-lagu yang pernah membersamai masa muda sebagian besar penonton.

“Kalian ini gimana, lagu Terpuruk kan liriknya sedih tapi kalian kok tetap saja nyanyinya ceria? Baiklah kita ganti liriknya jadi bahagia ya, bahagia tak terkira,” ujar Katon.

Malam itu KLa Project berikhtiar membawa kembali ke masa saat kaset masih menjadi benda penting, radio menjadi teman perjalanan, dan lirik lagu kerap menjadi cara sederhana untuk menyampaikan perasaan.

Ulang Masa Lalu

Satu di antaranya Eli Rahmawati, warga Salatiga, yang datang bersama lima sahabatnya. Mereka tidak sekadar ingin melihat konser. Mereka ingin mengulang penggalan masa lalu.

Eli dan teman-temannya bersedia menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dan menunggu hingga malam demi bernostalgia bersama KLa Project.

“Kebetulan ini gratis, jadi pada minat semua teman-teman. Bisa bernostalgia, terutama untuk kami yang seusia, yang masih tahun 80-an,” kata Eli.

Baca juga: KH Anwar Iskandar Dijadwalkan Lantik Pengurus MUI Jateng 2026-2031 Senin Besok

Nostalgia rupanya menjadi bahasa yang paling mudah menyatukan mereka malam itu. Usia boleh bertambah, rambut mungkin tak lagi sama, tetapi beberapa lagu memiliki kemampuan ajaib untuk mengembalikan seseorang pada masa ketika semuanya terasa lebih sederhana.

Eli tersenyum menikmati suasana. Bukan hanya karena tembang-tembang yang didendangkan, tetapi KLanis satu ini bisa menikmatinya bersama orang-orang yang memiliki cerita masa lalu yang sama.

“Kesannya luar biasa menyenangkan. Semoga pesta rakyat ini menjadi dedikasi dan inspirasi untuk berikutnya ada acara yang selanjutnya,” ujarnya.

Penonton lain, Antonius, warga Kota Semarang, mengaku jauh-jauh hari sudah persiapan akan datang. Maklum, dia penggemar berat KLa Project sejak Kayon cs mulai dikenal publik pada 1988 lewat lagu “Tentang Kita”.

Antonius datang ditemani istri dan dua anaknya. Ia menikmati konser dengan cara sederhana: melewatkan bersama orang tercinta, bernyanyi, dan bahagia menikmati suasana.

“Mengikuti konser ini asyik, Mas. Mantap,” katanya sembari mengacungkan ibu jari.

Penampilan KLa Project menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Lagu-lagu mereka bukan hanya dikenal oleh satu generasi. Musik yang telah bertahan puluhan tahun itu masih mampu mempertemukan orang tua, anak, dan generasi yang tumbuh setelahnya dalam satu ruang yang sama.

Antonius dan Eli menaruh harapan besar agar konser serupa tetap hadir pada perayaan-perayaan berikutnya.

“Mungkin bisa kembali dihadirkan artis-artis yang populer, yang legendaris dan gratis. Tetap harus merakyat,” ujarAntonius.

Di sinilah kekuatan KLa Project malam itu. Ia tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga memori. Sebuah lagu bisa menjadi “mesin waktu”. Sekali terdengar, seseorang bisa tetiba teringat pada teman lama, perjalanan masa muda, cinta yang pernah tumbuh, atau hari-hari di mana belum dipenuhi bertumpuk persoalan.

Maka ketika KLa Project tampil di panggung Harmony of Java 2026, yang terdengar bukan hanya suara musik. Ada masa lalu yang kembali mengetuk ingatan. Ada generasi yang pernah tumbuh bersama.

Dan ada generasi yang mungkin baru mengenal lagu KLa Project, tetapi ikut menikmati energi yang sama. Nyatanya, saat Tak Bisa Kelain Hati dan Yogyakarta dibawakan, banyak pula penonton usia belia yang ikut melantunkannya.

Baca juga: Fun Run HUT ke-81 Jateng, Langkah Awal Bangkitkan Wisata Maerokoco Semarang

Panggung Harmony of Java 2026 mampu menghadirkan penggalan nostalgia melalui harmoni yang nyawiji. Ada Eli dan sahabatnya yang datang membawa nostalgia. Ada Antonius yang mengajak keluarganya.

Bahkan ada ribuan penonton yang datang dengan alasan masing-masing. Semua bertemu , di bawah cahaya panggung dan gegap gempitanya KLa Project.

Malam itu, Jawa Tengah tidak hanya merayakan usia 81 tahun. Ia juga merayakan ingatan, kebersamaan, dan sebuah hal sederhana: bernostalgia dengan bahagia.

Sebagaimana lirik “Tentang Kita” yang menjadi lagu pamungkas;  ''Kembali, kembalilah kini, segala asa berseri. Benahi, benahilah kini, kepekaan nurani. Kembali, kembalilah kini, segala asa berseri…”. (Aji)