Helo Indonesia

Kode Alam? Budiyono the Next Rektor Unila?

Herman Batin Mangku - Opini
54 menit lalu
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - HBM

Oleh Herman Batin Mangku
Jurnalis

TIGA akademisi yang merasa paling pantas menggantikan posisi Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M. sebagai Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031 sudah mendaftarkan diri dalam penjaringan. Mereka adalah Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D.; Dr. Budiyono, S.H., M.H.; dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes.

Pendaftaran calon rektor yang dibuka sejak 14 Agustus dan baru akan ditutup 4 September 2026 masih menyisakan ruang bagi mereka yang merasa memiliki bekal, keberanian, dan keyakinan untuk memimpin universitas tertua dan terbesar di Provinsi Lampung ini.

undefined

Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D.; Dr. Budiyono, S.H., M.H.; dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes.

Dalam pertarungan merebut kursi nomor satu di kampus, tentu saja yang dipertaruhkan bukan sekadar kursi.
Ada reputasi, gagasan, jaringan, rekam jejak, dan harapan. Dan, tentu saja, ada suara.

Namun, dari ketiga pendaftar itu, saya menangkap satu "penampakan" yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan proses penjaringan. Atau mungkin justru ada? Saya katakan saja: barangkali kebetulan. Barangkali fenomena alam. Barangkali kode alam.

Atau, kalau mau sedikit puitis, mungkin sekadar tanda-tanda kecil yang lewat di depan mata. Namanya juga ikhtiar. Mereka yang mendaftar tentu sudah mempersiapkan diri. Mental harus siap. Penampilan fisik juga kudu prima dan sip. 

Bahkan, sebelum gagasan tentang masa depan Unila disampaikan, penampilan lebih dulu berbicara.
Pakaian, celana, sepatu, peci, parfum, sampai sisiran rambut—semuanya seperti ingin berkata: Saya siap berangkat. Dan dari semuanya itu, pakaian menjadi yang paling menarik.

Sebab pakaian, meski tidak pernah bisa menentukan nasib seseorang, kadang-kadang mampu menjadi bahasa yang paling jujur sebelum mulut mulai berbicara.

Sekali lagi, entah sudah diniatkan atau hanya kebetulan, dua pendaftar, Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D. dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes., memilih mengenakan pakaian yang sama: seragam batik identitas lembaganya: rapi, formal, institusional.

Sementara Dr. Budiyono, S.H., M.H. tampil berbeda. Ia memilih baju putih dengan dua kantong di dada. Nah! Di sinilah imajinasi mulai bekerja. Apakah ini kode alam? Wallahu a'lam bissawab.

Baju putih itu pernah menjadi semacam seragam kebangsaan pada Rezim Jokowi. Di era Prabowo, model serupa juga masih menjadi pakaian yang akrab dengan para pejabat dan aparaturnya. Bedanya sedikit, baju Budiyono dibuat baru ada dua kantong di atas. Dua kantong tambahan di bagian bawah lupa dijahit barangkali.

Tapi, ah... Apalah arti sepotong pakaian? Toh, rektor tidak dipilih berdasarkan warna baju, jumlah kantong, apalagi merek sepatu. Selain sudah ada catatannya di Lauhul Mahfuz, proses pemilihan Rektor Unila harus tunduk pada aturan. Ada Statuta Unila. Ada Permendikbudristek tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Di sanalah pertarungan sebenarnya berlangsung.

Rektor Unila berada dalam persilangan suara Senat dan Kementerian. Senat Unila periode 2025-2030 memiliki bobot 65 persen, sementara 35 persen merupakan hak Kementerian Pendidikan. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari siapa yang paling tinggi suaranya di Senat.
Sebab 65 persen belum berarti 100 persen.

Di situlah menariknya. Pemilihan rektor bukan hitam-putih seperti menghitung jumlah kursi di ruang sidang. Di belakang angka 65-35 itu ada dinamika, komunikasi, perspektif, kepentingan, dan tentu saja kalkulasi.
Calon yang memperoleh suara tertinggi di Senat belum otomatis duduk di kursi rektor.

Masih ada 35 persen suara Kementerian. Dan barangkali, masih ada cerita yang belum ditulis. Apalagi calonnya hanya tiga. Sebanyak 35 persen hak Kementerian Pendidikan tentu sangat menentukan siapa yang kelak menjadi the next Rektor Unila periode 2027-2031.

Lalu, pertanyaannya sederhana: siapa sosok yang paling pas? Bukan hanya paling pintar membuat visi-misi.
Bukan hanya paling tinggi gelarnya. Bukan pula paling pandai menyusun kalimat akademik yang melangit.
AI pun sekarang bisa membantu membuat visi-misi yang terdengar seperti hendak membawa Unila sampai ke bulan.

Yang dibutuhkan Unila mungkin lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit: pemimpin yang mampu membuat gagasan turun dari langit dan menjadi kerja nyata di bumi. Saya yakin Senat Unila akan berorientasi pada kemajuan kampus, baik secara fisik maupun kualitas akademiknya.

Tetapi kemajuan itu membutuhkan rektor yang tidak hidup di dalam tempurung. Rektor yang tidak hanya sibuk membesarkan nama sendiri.
Rektor yang tahu bahwa universitas tidak dibangun hanya dengan teori, rapat, dan dokumen perencanaan.
Universitas juga dibangun dengan jejaring, pertemanan, komunikasi, kemampuan mengetuk pintu-pintu kekuasaan tanpa kehilangan martabat akademik.

Unila yang mulai dituntut semakin mandiri dan fighter membutuhkan sosok yang mampu mengajak jaringan, teman, sahabat, bahkan mereka yang memiliki kekuasaan untuk bersama-sama membangun kampus. Urusan dapur internal kampus, sudah ada empat wakil rektor.

Yang dibutuhkan rektor adalah kemampuan membawa nama Unila keluar dari pagar kampus. Sebab dunia di luar pagar kampus tidak selalu membaca jurnal. Mereka membaca pengaruh, komunikasi, siapa yang datang membawa gagasan dan siapa yang datang hanya membawa jabatan.

Karena itu, visi dan misi seorang calon rektor boleh saja dibuat setinggi langit.
Tetapi bagaimana melibatkan stakeholder, pemerintah, dunia usaha, alumni, tokoh masyarakat, dan berbagai jejaring agar ikut memperhatikan dan membangun Unila, membutuhkan talenta yang berbeda. Talenta untuk bergaul, membuka pintu, menjadikan kawan sebagai jaringan kebajikan bagi kampus.

Dan dalam kategori ini, Dr. Budiyono, S.H., M.H. rasanya patut diperhitungkan. Sosok egaliter ini sudah lama tidak hanya dekat dengan mahasiswa, tetapi juga memiliki banyak kawan di luar kampus. Termasuk berteman dengan mereka yang memiliki kewenangan dan kebijakan untuk menentukan "nak ngebangun apo" kampusnya.

Ini bukan perkara kecil. Ini aset. Dan aset, kalau tidak digunakan untuk kepentingan institusi, hanya akan menjadi angka di neraca. Unila membutuhkan orang yang bisa membawa jejaring itu masuk ke halaman kampus—bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk memperbesar daya dobrak universitas.

Rugi kalau peluang seperti ini tidak ditangkap. Saya tak perlu merinci detail "kegaulannya". Kalian pasti lebih jago melihatnya. Mungkin karena itu pula saya kembali kepada baju putih tadi. Bisa jadi hanya pakaian, kebetulan, tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa depan Unila.

Namun, bukankah dalam hidup ini, tanda-tanda kecil sering kali baru terasa maknanya setelah sebuah perjalanan selesai? Hari ini kita hanya melihat seseorang memakai baju putih dengan dua kantong. Besok, lusa, atau beberapa bulan lagi, mungkin kita baru tahu apa yang sebenarnya sedang ia bawa di dalam kantong-kantong itu.

Kehadiran Budiyono pas buat melengkapi para pemimpinnya muda Lampung, satu frekuensi. Okelah, biarlah Senat Unila dan Kementerian yang menentukan. Kita cukup membaca tanda-tandanya saja.
Budiyono the Next Rektor Unila? Cocok? Gas, brooo! ***