HELOINDONESIA.COM -Bioetanol sering dipromosikan sebagai bahan bakar ramah lingkungan karena berasal dari biomassa seperti jagung, tebu, dan tanaman berpati.
Bahan bakar ini dinilai bisa mengurangi ketergantungan pada minyak bumi sekaligus menekan emisi karbon. Namun, sejumlah kajian menunjukkan bioetanol juga memiliki dampak lingkungan dan efisiensi yang perlu dikritisi.
Kelebihan Bioetanol
Bioetanol menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Tanaman penghasilnya juga menyerap CO₂ selama masa tumbuh, sehingga dapat menyeimbangkan emisi pembakaran.
Selain itu, karena berasal dari tanaman yang bisa dibudidayakan ulang, bioetanol tergolong sumber energi terbarukan yang mendukung perekonomian pertanian di daerah penghasil biomassa.
Kekurangan Bioetanol
Di sisi lain, perluasan lahan untuk tanaman bahan baku bioetanol kerap memicu deforestasi dan mengancam keanekaragaman hayati.
Penggunaan air dan pupuk yang tinggi juga menekan sumber daya alam dan mencemari lingkungan. Selain itu, pemanfaatan tanaman pangan seperti jagung untuk bahan bakar menimbulkan persaingan dengan kebutuhan pangan manusia, yang bisa memicu kenaikan harga pangan.
Proses produksinya pun tidak sepenuhnya “bersih”. Tahapan penanaman, pengolahan, dan distribusi bioetanol membutuhkan energi tambahan, sehingga potensi pengurangan emisinya bisa berkurang atau bahkan berbalik menambah emisi.
Soal Efisiensi dan Biaya
Pemerintah berencana menerapkan campuran bahan bakar etanol 10 persen (E10) mulai 2026. Harga E10 memang lebih murah sekitar Rp800 per galon dibanding bensin murni karena sebagian bahannya berasal dari sumber nabati.
Namun, dari sisi efisiensi, kendaraan yang menggunakan E10 menempuh jarak lebih pendek sekitar 8 persen lebih boros dibanding bensin biasa.
Dalam simulasi perjalanan tahunan 54.400 km, penggunaan bensin murni justru bisa menghemat hingga Rp2,43 juta dibanding E10.
Tabel Perbandingan
| Faktor | Bensin Murni | Campuran Etanol 10% (E10) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Harga per liter | Rp14.000 (≈$0.875) | Rp13.200 (≈$0.825) | E10 lebih murah Rp800 per liter |
| Jarak tempuh | 18,8 km/liter (≈44,1 mil/galon) | 17,2 km/liter (≈40,5 mil/galon) | E10 menurun sekitar 8% |
| Efisiensi jarak tempuh | 100% | 91,5% | Perbandingan terhadap bensin murni |
| Efisiensi biaya (km per rupiah) | 0,00134 km/Rp | 0,00130 km/Rp | Semakin tinggi semakin efisien |
| Konsumsi tahunan (33.800 mil ≈ 54.400 km) | 2.894 liter | 3.165 liter | E10 butuh lebih banyak bahan bakar |
| Total biaya tahunan | Rp40,5 juta (≈$2.530) | Rp41,7 juta (≈$2.605) | Selisih penghematan ≈Rp1,2 juta (≈$75) per tahun |
Dengan demikian, meski bioetanol memiliki potensi sebagai energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, penerapannya tetap harus memperhitungkan dampak ekologis dan efisiensi nyata agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.(AGj)
Sumber:
- Pure Gas vs. 10% Ethanol - A Comparison @rav4world.com
- Why E10 petrol costs you more at the pumps and is your @telegraph.co.uk/cars/advice/e10-vs-e5-petrol-pumps-fuel-cost-calculator
- flamecrafters.co.uk.***
