LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Keresahan menyelimuti hati sepasang orangtua yang menitipkan harapan pada sebuah lembaga pendidikan berbasis asrama. Putri mereka, seorang siswi berinisial DCP, dilaporkan hilang dari Pondok Pesantren Darurrahman Mulya Kencana, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba).
Sudah sepekan DCP tidak diketahui keberadaannya. Informasi yang dihimpun pada Senin (20/4/2026) menyebutkan, siswi tersebut diduga tidak lagi berada di lingkungan pondok sejak pertengahan April 2026.
Ibu kandung DCP, RY, mengungkapkan bahwa keluarga pertama kali menerima kabar hilangnya sang anak dari wali kelasnya, Anwar Sahid, pada Sabtu (11/4/2026). Sejak saat itu, kecemasan tak henti menghantui.
“Pada Jumat (17/4/2026), kami sudah melaporkan bahwa anak kami tidak ada di asrama. Sampai sekarang belum ada kejelasan keberadaannya,” ujar RY dengan nada cemas.
Upaya konfirmasi kepada pihak pondok pesantren belum membuahkan hasil. Saat didatangi, seorang perempuan yang mengaku sebagai istri petugas keamanan menyampaikan bahwa pengurus pondok sedang tidak berada di tempat.
“Bapak lagi ke Dayamurni, Mas. Ada urusan, mungkin habis Ashar dia pulang,” ujarnya singkat. Ketiadaan informasi yang pasti membuat kegelisahan keluarga kian memuncak.
Mereka kini mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian, sebagai upaya mencari kejelasan dan pertanggungjawaban.
Sementara itu, Hendri Bahrul yang diduga sebagai penanggung jawab pondok pesantren belum memberikan tanggapan saat dihubungi melalui telepon seluler.
Di sisi lain, sejumlah pengurus pondok pesantren di wilayah Tubaba menjelaskan bahwa lembaga pendidikan berbasis asrama pada umumnya menerapkan pengawasan ketat terhadap santri.
Setiap aktivitas harian—mulai dari bangun tidur, ibadah berjamaah, kegiatan belajar, hingga waktu istirahat—seharusnya berada dalam pemantauan langsung pengurus.
“Santri wajib berada di asrama sesuai waktu yang ditentukan dan tidak diperkenankan keluar tanpa izin resmi. Pengawasan dilakukan dari bangun hingga kembali beristirahat,” ujar salah satu pengurus yang enggan disebutkan namanya.
Sistem tersebut, kata dia, diterapkan demi menjaga keamanan, kedisiplinan, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif. Namun, dalam kasus ini, tanda tanya besar justru muncul: bagaimana seorang siswi bisa hilang tanpa jejak dari lingkungan yang semestinya terjaga?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pondok Pesantren Darurrahman terkait hilangnya DCP, termasuk penjelasan mengenai sistem pengawasan santri di lingkungan tersebut.
Bagi keluarga, waktu terus berjalan tanpa kepastian. Harapan sederhana mereka kini hanya satu—DCP segera ditemukan dalam keadaan selamat. (Rohman)
