Oleh Muzzamil*
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- "Drama" harga dan mutu singkong agaknya bakal berjilid-jilid. Setelah tiga kali demo anjloknya harga singkong, aksi keempat antiklimaks setelah para aktivis aksi hujan batu agar harga singkong naik di Pemprov Lampung, Senin (5/5/2025).
Selang sehari, para pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka (PPTT) langsung membalasnya dengan stop pembelian ubi kayu lewat surat yang dilansir Selasa (6/5/2025).
Baca juga: 27 Pabrik Stop Beli Singkong Sehari Setelah Aliansi Demo Hujan Batu
Yang merasakan akibatnya, petani singkong. Dampak lanjutannya, seorang mahasiswa, anak petani singkong yang juga aktivis, harus ikut merasakan akibat tak enak dari carut-marut harga singkong.
"Nangis gak sih lu Bang? Bokap gua, ya Allah, dia bilang: irit-irit ya Nak, kamu yang prihatin," ujarnya. "Sedih Bang, orangtua susah akibat harga singkong jatuh, siapa ini sebenarnya yang zolim?" tanyanya kepada Helo Indonesia, Selasa (6/5/2025).
Baca juga: Demo Harga Singkong Hujan Batu, Mirza Yakinkan Massa Dirinya Peduli Petani
Petani dan pengusaha jadi kontradiksi, antagonis, jadi air sama minyak, walau sudah keputusan Menteri Pertanian bahkan Presiden Prabowo sekalipun, harga tak ketemu antara keinginan petani dan pengusaha.
"Sepertinya betul yang Iyay Mirza bilang, sesuai temuan KPPU, petani menghadapi oligopoli!" ujar sang mahasiswa-aktivis yang sebagian besar keluarganya adalah petani singkong.
Baca juga: Gubernur Mirza Keluarkan 3 Intruksi ke Kepala Daerah dan Pengusaha Tapioka
Sang aktivis dapat memahami, kegelisahan kolektif para pelaku industri tapioka di Lampung. Selain syarat kualitas singkong yang dibeli dari petani, ada pertimbangan faktor X: tata niaga impor.
Bayangkan, dengan harga Rp1.350 per kilogram, dipotong rafaksi maksimal 30 persen, tersisa Rp945. Lalu dipotong rerata ongkos kuli Rp200, tinggal tersisa Rp745 yang bisa dibawa pulang petani.
"Gua sampe bilang, apa Bapak ganti tanam cokelat aja. Apa jawaban Bokap, cocot-mu le," katanya tanpa ada jalan keluar, solusi pascaaksi Aliansi Masyarakat Peduli Petani Singkong Indonesia (AMPPSI) Lampung.
Aksi yang dipimpin Maradoni diwarnai chaos. Dia memimpin aksi 12 organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus Lampung, yakni HMI Bandarlampung pimpinan Tohir Bahnan, DPD IMM Lampung pimpinan Jefri Ramdani.
Lainnya, PD Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Lampung pimpinan Nengah Chandra, PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung pimpinan M Yusuf Kurniawan didampingi Ketua PMII Bandarlampung Alandra Pratama.

Terakhir, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung pimpinan Redho Balaw.
Di pintu gerbang Pemprov Lampung hujan batu, setelah diskusi dengan perwakilan massa yang juga dihadiri Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar dan Ketua Pansus Tata Niaga Ubikayu DPRD Lampung Mikdar Ilyas, Gubernur Mirza merilis Instruksi Gubernur No 2/2025.
"Bola" nasib 9,45 juta jiwa rakyat Lampung kini ada di tiga meja: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Presiden Prabowo Subianto. Semoga Allah tidak tidur, ada keajaiban soal singkong ini.
* Penulis dan aktivis demokrasi.
