Helo Indonesia

Alquran dan Kita (2): Bagaimana Bisa Jatuh Cinta dengan Alquran

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 27 Juni 2025 10:46
    Bagikan  
D
D

D - Gufron Aziz Fuandi

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi*

ABDULLAH bin Umar berkata:
"Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Alquran. Saat diturunkan kepada Nabi Saw, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Alquan. Namun hari ini Aku menyaksikan orang belajar Alquran sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.”
(Hr. Al-Baihaqiy dan disahihkan oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy)

Ungkapan Abdullah bin Umar RA di atas disampaikan kepada generasi berikutnya, generasi tabiin, apa kiranya yang akan Beliau ungkapkan bila bertemu dengan generasi muslim masa kini? Yang jangankan memahami Alquran dengan pemahaman yang komprehensif dan mendalam, membacanya saja terbata bata dan cepat lelah.

Ya, cepat lelah, karena kita tidak memahami dan tidak bisa menikmati apa yang kita baca. Sesuatu yang kita tidak bisa merasa menikmatinya, pasti akan membuat kita enggan berlama-lama. Seperti menunggu sesuatu atau seseorang.

Sebaliknya bila kita bisa mendapatkan kenikmatan maka kita tidak ingin segera menyudahinya. Seperti pecinta musik (dangdut), meski hanya dalam pertunjukan organ tunggal, para penikmatnya akan goyang terus sampai pagi. Padahsejak pukul 21.00 WIB.

Baca juga: Alquran dan Kita (1) Kenapa Mualaf Islamnya Kuat

Baca juga: Alquran dan Kita (3): Cara Mengenal Allah

Kita tidak bisa menikmati keagungan dan keindahan Alquran karena kita tidak memiliki kuncinya. Dan kunci pertama adalah beriman sebelum yang lainnya. Iman, meyakini dengan sepenuh hati, kepada Allah Yang Maha Suci yang tidak punya kebutuhan apa apa dari kita kecuali bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada kita.

Mengimani bahwa Malaikat yang membawa wahyu (kitab Allah) adalah mahluk Allah yang tidak memiliki keinginan menyimpang sedikitpun dari perintah Nya. Juga beriman bahwa wahyu Allah dalam Kitab Suci Alquran adalah benar dari Allah sebagai manual produk bagi manusia dan alam semesta agar selamat nyaman dunia akhirat.

Mengimani bahwa Rasulullah adalah manusia pilihan yang tidak mungkin berbohong, dusta dan menyembunyikan kebenaran dari Nya. Karena semua nabi memiliki sifat sidiq, amanah, fathanah dan tabligh.

Juga beriman pada hari kiamat/hari akhir termasuk kehidupan akhirat sehingga kita merasa tertarik dan senang mempelajari dan memgetahui apa itu hari akhir. Sebagaimana kita sering ingin mengetahui destinasi wisata yang ingin kita kunjungi, baik makanan khasnya, hotel penginapannya, telaga, pantai atau gunung yang perlu dikunjungi serta keramah tamahan penduduknya. Dan tidak lupa tentang biaya atau harga dan syarat untuk masuk kesana.

Begitupun dengan iman kepada qadha dan qadar. Dengan landasan iman ini, maka saat kita mempelajari Alquran akan menemukan, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar diatas, bahwa Alquran berisi setidaknya 5 hal:
1). Pengenalan tentang Allah.
2). Pengenalan tentang manusia.
3). Pengenalan tentang tata cara hidup.
4). Pengenalan tentang sejarah hidup manusia.
5). Pengenalan tentang akhirat yang bila hanya dengan nalar dan pikiran kita tidak mungkin bisa memikirkannya.

Lima poin mendasar ini, bila kita tadabbur kembali dengan seksama, dapat kita temukan pada surat Al Fatihah. Kita tahu bahwa Al Fatihah adalah surat pembuka dan fungsi pembukaan dalam sebuah tulisan, seperti paragraf pembuka, kata pengantar, atau pembukaan presentasi, adalah untuk memperkenalkan topik-topik yang akan dibahas, menarik perhatian pembaca atau audiens, memberikan konteks, dan membangun dasar untuk isi selanjutnya.

Secara naluri, semua manusia ingin bergantung dengan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya (tuhan/dewa). Sehingga mereka mencari dan menetapkan sesuatu yang lebih perkasa dari dirinya menjadi tuhan/dewa yang mereka sembah. Tuhan itu pada akhirnya bukan hanya pohon besar, batu, patung, bulan dan matahari tetapi juga bisa akal pikiran dan hawa nafsu nya sendiri. Ilahahu hawahu...

Saya teringat dengan pelajaran PMP saat SMA kelas 1, dimana guru saya menjelaskan tentang sang causa prima.
Causa Prima adalah istilah Latin yang berarti "penyebab pertama" atau "sebab utama". Dalam konteks filsafat dan teologi, causa prima merujuk pada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dan penyebab pertama dari semua yang ada, tanpa ada penyebab lain sebelumnya. Jadi
causa prima adalah konsep yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki penyebab.

Pikiran manusia yang paling tinggi sekalipun, hanya mampu berkesimpulan bahwa alam semesta ini ada karena Ada yang menyebabkannya. Siapa Dia?
Ya sang causa prima atau sang hyang Tunggal!

Maka, Maha Benarlah Allah ketika menceritakan kisah nabi Ibrahim:

"فَلَمَّا رَأَى ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ"

"Maka ketika dilihatnya bulan terbit, dia (Ibrahim) berkata, "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."
(Al An'am: 77).

Manusia hanya akan tahu Allah, bila Allah sendiri yang memperkenalkan Nya. Dimana? Di dalam firman Nya, Alquran yang suci.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
[ طه: 14]

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
(ThaHa: 14)

Tanpa ilmu atau pemberitahuan dari Nya, manusia akan tersesat dan menuhankan sesuatu selain -Nya. Karena akal pikiran manusia sangat terbatas sedangkan Allah tidak terbatas!

Wallahu a'lam bi shawab.
(Gaf)


 -