Helo Indonesia

Alquran dan Kita (3): Cara Mengenal Allah

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 27 Juni 2025 11:07
    Bagikan  
R
R

R - Gufron Azis Fuandi

ALQURAN itu unik. Susunan surat surat dalam Alquran juga unik. Alquran dimulai dengan surat Al Fatihah sebagai pembuka, surat yang bertema besar tentang Allah dan kekuasaannya atas alam semesta yang kemudian ditutup dengan surat An Nas yang bertema tentang Kekuasaan Allah dan manusia.

Padahal keduanya adalah surat Makiyah, surat yang diturunkan di Kota Mekah diawal Islam sebelum hijrah. Begitupun dengan surat Al Kafirun yang disusun berdampingan dengan surat An Nashr, padahal jarak waktu diturunkannya sangat jauh, 15 tahun lebih.

Baca juga: Alquran dan Kita (1) Kenapa Mualaf Islamnya Kuat

Baca juga: Alquran dan Kita (2): Bagaimana Bisa Jatuh Cinta dengan Alquran

Mengapa?

Ini karena, menurut Amru Khalid dalam buku "Khowatir Qur'aniyah", ayat ayat dalam setiap surat memiliki korelasi yang kuat. Setiap surat juga memiliki kesatuan tema dan tujuan.Tentu masih panjang jawabannya. Semoga lain waktu insya Allah.

Alquran diawali dengan surat Al Fatihah, "pembuka" sesuai dengan namanya. Ini adalah surat yang paling agung sebagaimana sebuah hadits: "Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Alquran. Sahabat bertanya, Surat apa itu wahai Rasulullah? Kemudian Rasulullah Saw membaca Al Fatihah sampai akhir surat..."
(Hr. Bukhari, Muslim dan lainnya)

Surat pertama ini diawali dengan ma'rifatullah (pengenalan tentang Allah) yang merupakan tema sentral dalam keseluruhan isi Alquran. Hal ini karena ma'rifatullah adalah ma'rifah (pengenalan) yang paling penting dalam kehidupan kita.

Sebab ma'rifatullah akan membawa kita untuk ma'rifah kepada yang lainnya seperti marifatur rasul, ma'rifatul insan, marifat pada alam semesta baik yang nyata maupun yang ghaib serta ma'rifah kepada hari akhirat. Juga ma'rifah terhadap jalan atau cara untuk ma'rifah terhadap semua hal tersebut.

Ketika kita berbicara tentang ma'rifatullah sesungguhnya kita bicara tentang Rabb,  Ilah, Malik dan Asma' wa shifat. Yang dalam bahasa kita kadang semuanya diterjemahkan dengan kata "Tuhan", mungkin memang tidak ada padanan kata yang lebih pas selain kata "Tuhan".

"Rabb" dalam istilah Alquran bisa dipahami sebagai (Tuhan)  Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Seperti yang dapat kita lihat dalam awal awal surat al Fatihah. Sedangkan "ilah" mengandung makna (Tuhan) Yang dicintai, Yang ditakuti dan sebagai tempat berharap serta yang kita rela didominasi oleh nya.

Sebagaimana dapat kita baca dalam 3 ayat pertama surat An-Nas dan ayat dan surat lainnya.

Malik, bahwa Allah adalah satu-satunya Raja yang berkuasa penuh atas seluruh alam semesta dan makhluk-Nya. Ini berarti Allah adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk menentukan hukum dan aturan bagi seluruh mahluk, dan seluruh makhluk wajib tunduk pada kekuasaan dan kehendak-Nya.

Adapun asma' wa shifat merujuk pada nama nama dan shifat Allah yang baik yang yang diungkapkan oleh Alquran (dan Sunnah). Meyakini bahwa nama dan shifat yang sempurna, yang tidak mungkin dimiliki dan tercandak oleh manusia dan makhluk lainnya.

Oleh karena itu ada riwayat yang mengatakan bahwa awal mula beragama adalah mengenal Allah (Awaluddin ma'rifatullah).

Dengan ma'rifatullah kita tidak saja akan mengenal Allah tetapi juga mengenal diri kita. Tentang dari mana kita, siapa kita, bagaimana kedudukan kita, apa misi hidup kita, apa tanggung jawab kita serta ke mana kita sesudah mati.

Allah berfirman dalam surat Muhammad, 19: "Ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu."

Ayat ini diawali dengan sighah a@amr (perintah), itu artinya kita wajib memahaminya sebagai perintah dan melaksanakannya. Dalam konteks ayat ini adalah perintah wajibnya memahami La ilaha ilallah.

Dengan ma'rifatullah kita juga akan mengetahui bahwa Allah adalah sumber ilmu, baik ilmu kauniyah (yang Allah bentangkan dalam alam semesta) maupun ilmu qauliyah (yang Allah wahyukan dalam Alquran dan kitab lainnya yang asli).

Dalam Asma'ul husna, Allah disebut sebagai Al 'Alim (Maha Mengetahui) karena ilmunya tidak terbatas. Dia (Allah) mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi, yang terdahulu, yang sekarang dan yang akan datang, serta yang gaib dan yang nyata sebagaimana firman Nya:

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi?" (Al Hajj: 70) "Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
(Al Hasyr: 22)

Ilmu Allah sangat luas dan tak terbatas. Allah berfirman dalam surat
Al khafi' 109: "Katakanlah (Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'"

Itulah mengapa imam Syafi'i mengatakan: "Setiap kali saya mempelajari satu ayat dari Alquran, saya merasa semakin bertambah kebodohan saya."

Ungkapan ini tentu bukan berarti beliau memang bodoh, tetapi menunjukkan bahwa semakin dalam seseorang mempelajari Alquran, semakin ia menyadari betapa luas dan dalamnya ilmu Allah, sehingga merasa diri masih sangat kurang dan perlu terus belajar.

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)

 -