Oleh Herman Batin Mangku*
SETELAH 27 tahun vacum alias tak terlaksana rencana pembangunan sirkuit di Kemiling, Yayasan Bakti IMI Lampung (YBIL) tiba-tiba bangkit dari "kubur", mendadak semuanya menggeliat "panas". Saya berusaha menyelusuri puzzle-puzzle informasi dari banyak pihak beberapa bulan ini.
Reformasi 1998 yang menjadi penyumbang besar porak-porandanya mimpi Tommy Soeharto, Bob Nasution, Almatsir ZAP (Acil), serta Rohata Ali dkk tersebut. Ada benarnya, roda akhirnya berputar, rezim terus berganti, kini mantan mantu "Cendana" kembali berjaya:, Prabowo Subianto RI-1.
Baca juga: Bom Waktu, 157 Ha Lahan Yayasan Tommy Soeharto di Kemiling
Mimpi yang telah jadi mumi itu berlahan bangkit lagi seolah menemukan kembali atmosfirnya. Namun, dunianya sudah berubah tak lagi lahan kosong bagi surganya balap mobil dan adu jumping trail, sudah ada kawasan wisata, perumahan, hotel, dll.
Bukit turun-naiknya lintasan sirkuit sudah digerus penambang bertahun-tahun yang pergi begitu saja tanpa sanksi bulan lalu karena disegel Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lampung. Baru pekan lalu malah, Wali Kota Eva Dwiana ngecor beton jalan membelah kawasan sirkuit pakai duit negara pakai gimik trimakasih dari warga pakai benner.

Baca juga: Tanah YBIL Tommy Soeharto, Ada Tokenya Bernama Syafei, Pemilik King Supermarket
Baiklah, kita mundur lagi jauh ke belakang, saya mulai kisahnya dari jauh sebelum Chandra Supermarket menguasai Lampung, Syafei Sani Tjakra raja mall pertama daerah ini pada tahun 80-an yang menguasai Lampung lewat King Supermarket. Bisa dibilang, dia salah satu warga keturunan yang tajir pada masa itu
Namun, setelah cuan-nya tersedot buat pembebasan lahan 157 hektare atas nama Yayasan Bakti IMI Lampung pada tahun 96-an ditambah desas-desusnya juga dampak prilakunya yang tak patut dicontoh, dia bersama rencananya ikut "kelelep" bersama vacumnya YBIL pasca-Reformasi 1998.
Baca juga: Tanah Tommy Soeharto Diduga Dicaplok Jadi Hotel, Cafe, Perumahan, dll
Sebagai pengusaha tajir masa itu, dari dompetnya yang tebal, Safei mengganti rugi semua tanaman para penggarap lahan bekas perkebunan karet Zaman Belanda yang di-landreform Menteri Agraria No. SKP.15/Depag/1965 tertanggal 20 Februari 1964. Tahun 1980, dengan berakhirnya HGU PT Langkapura, 4 September 1980, lahan digarap warga.
Mungkin pengaruh Tommy Soeharto, anak Presiden Soeharto yang masih berkuasa masa itu, "Pengeran Cendana" dan "Raja Mall Lampung" Syafei Sani Tjakra menguasai 15 persen lahan dari lahan HGU PT Langkapura seluas 1.036 Ha pada tahun 1996.
Ketiga pendiri YBIL -- Tommy Soeharto, Bob Nasution, dan Almatsir ZAP (Acil) -- mengikat janji lewat Surat Perjanjian No. 33 Tahun 1996 dengan perusahaan Syafei Sani Tjakra sebagai pemodal pembebasan lahan dan pembangunan sirkuit 40 hektare.
Manusia bebas bermimpi, namun takdir hak prerogatif Sang Pencipta Langit dan Bumi. Usai pembebasan lahan, dua tahun kemudian, tanggal 21 Mei 1998, reformasi. Rezim Soeharto tersungkur dipaksa mundur ribuan mahasiswa.

Rencana sirkuit otomotif, kawasan wisata dan perumahan ikut terlantung-lantung. Tommy Soeharto juga mengalami masalahnya sendiri. Cendana tiarap hingga 27 tahun kemudian mulai melirik kembali gagasan lama Yayasan Bakti IMI Lampung.
Lahan seluas 157 hektare sudah morat-marit. YBIL hanya merasa melepas 20 hektare yang dihimbahkan untuk Sekolah Polisi Negara (SPN) Keliling pada tahun 2003 yang ditandatangani salah seorang dari tiga pendiri YBIL, yakni Bob Nasution.
Safei Sani Tjakra ikut memberikan persetujuan sebagai pihak ketiga yang memiliki kontrak dengan YBIL atas pengelolaan lahan 157 ha, termasuk 40 hektare buat sirkuit berikut tribunnya,. Selebihnya, 117 hektare, yang dapat dikelola Safei Sani Tjakra buat perumahan dan wisata.
Mantab mimpi mereka yang kala itu berusia kuadragebarian, usia titik awal menujuk kesuksesan, 40-49 tahun. Istilah lainnya, usia para baby boomers yang lahir pasca-Perang Dunia II, 1946-1964, yang cirinya memiliki semangat kerja keras dan nilai-nilai tradisional.

Mimpi itu telah porak-poranda. Lahan kocar-kacir lepas dari tangan Syafei di luar sirkuit. Lainnya, termasuk sirkuit dijual anak-anak yang merasa bapaknya ada di YBIL. Kini, bak halilintar di siang bolong, Tommy Soeharto sebagai pembina yayasan -- informasi dari orang dekatnya -- merasa tak pernah melepas semua lahan tersebut.
Kebijakan YBIL ada di tangan "Sang Pengeran". Lewat pengacaranya, Elsya Syarif dan timnya mulai menyusun kembali puzzle-puzzle mimpi YBIL. Semua yang bermukim dan menguasai lahan mulai gerah. Namun, saya melihat masih ada celah buat merangkai kembali mimpi itu tanpa banyak yang tersakiti.
Tommy Soeharto bermimpi sejak tahun 1996, Lampung punya sirkuit otomotif bergengsi internasional. Jika di indahnya pantai NTB, ada Sirkuit Mandalika. Lampung punya Sirkuit Kemiling berviuw Teluk Lampung di kawasan bukit nansejuk Kemiling, Kota Bandarlampung.
Ayo geh dirangkai kembali mimpi indah Lampung punya sirkuit otomotif bak Mandalika, sesuai motto olahraga: Veni vidi Vici, saya datang, saya melihat, dan saya menang. Move on coy, legacy generasi baby boomers buat generasi alpa.
Pemprov Lampung dan Pemkot Bandarlampung kudu ikutan untuk menggenapkan motto wisata Lampung "The Treasure of Sumatera" sekaligus biar ada sirkuit buat menyalurkan energi anak-anak alpa yang selama ini kucing-kucingan di jalan umum sampai aksi Joget Prau di jalan tol.
* Koordinator Pemred Club, Pimred Helo Indonesia.
-
