Helo Indonesia

Mahasiswa Lampung Tak Tolol: Menang Melawan Amarah dengan Demokrasi

Herman Batin Mangku - Opini
Senin, 1 September 2025 18:28
    Bagikan  
Mahasiswa Lampung Tak Tolol: Menang Melawan Amarah dengan Demokrasi
HELO LAMPUNG

HBM

Oleh Herman Batin Mangku*

SAAT gelombang kemarahan membakar berbagai daerah di Indonesia—dipicu kematian seorang driver ojek online serta rasa muak terhadap gaya hidup hedonis para anggota DPR—Lampung justru menghadirkan cerita berbeda. Mahasiswa, pemuda, hingga para driver ojol di provinsi ini mampu menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.

Alih-alih terjerumus dalam aksi anarkis, mereka membuktikan diri sebagai generasi yang cerdas membaca dinamika politik. Aksi tak anarkisnya sekaligus menunjukkan ketidaktololan mereka sebagaimana halnya crazy rich Tanjungpriok Ahmad Sahroni dalam membaca dinamika politik di Tanah Air saat ini. 

"Kudeta marayap" gagal total (gatot) di Lampung. 

undefined

Mereka aksi untuk meyakinkan Pemerintah Prabowo agar Indonesia cerah dan Lampung makmur lewat 10 pesannya: (1). Sahkan UU Perampasan Aset, (2). Potong tunjangan dan gaji DPR., (3). Tingkatkan kualitas gaji guru dan dosen, (4). Memerintahkan Rezim Prabowo untuk memecat menteri-menteri yang problematik, (5). Meminta ketua partai yang kadernya ada di eksekutif dan legislatif untuk diberhentikan/restrukturisasi organisasi, (6). Reformasi Polri dan adili pelaku pembunuhan Affan Kurniawan dan evaluasi total kinerja Polda Lampung,(7).Tolak RKUHP, (8).Tolak efisiensi sektor pendidikan dan kesehatan, (9). Berhenti menggunakan pajak rakyat untuk menindas rakyat, (10). Pembebasan lahan untuk petani Anak Tuhan Reformasi agraria pembebasan lahan di Lampung.

Walau masih muda, mereka agaknya sadar rezim saat ini membutuhkan dukungan untuk melawan elite global, oligarki yang ingin terus merampok kekayaan rakyat, gurita para mafia, para elite dan pejabat yang tersandera, serta kelompok yang ingin terus hidup nyaman dan mapan hingga berjilid-jilid dengan menciptakan keos. 

Lewat aksi damai bertajuk “Aksi Lampung Melawan”, mereka menyampaikan pesan kuat kepada pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, bahwa dukungan rakyat masih ada—selama keberpihakan nyata terhadap bangsa ditunjukkan.

Mereka seolah ingin berkata: jangan biarkan Indonesia "cemas”, karena Lampung berdiri di belakangnya untuk sama-sama menyongsong Indonesia Emas. Para anak muda kita berhasil menunjukkan sesuai namanya "Aliansi Lampung Melawan": melawan hawa nafsu, perang terbesar.

Aksi ribuan orang tanpa setetespun air yang keluar dari water cannon, tak ada sesedotpun asap bom gas air mata yang disemburkan aparat kepolisian ke kerumunan, pentungan tersimpan tak ada guna, bahkan pagar kawat berduri pun dibuka. 

Mengendalikan Amarah di Tengah Provokasi

Ribuan massa, mayoritas anak muda, berkumpul di Gedung DPRD Lampung, Kota Bandarlampung, Senin (1/9/2025). Meski jumlahnya besar, mereka tidak larut dalam amarah. Provokasi anarkis yang beredar di media sosial pun tidak mereka gubris.

Bahkan, aparat TNI sempat menggagalkan upaya seorang provokator yang diduga menyiapkan bom molotov di jalur massa aksi, tepatnya di depan BCA Simpur. Kejadian itu nyaris menjadi pemicu kekacauan, namun kedewasaan mahasiswa, pemuda, dan ojol membuat situasi tetap terkendali.

Konsolidasi Sejak Awal

Damainya aksi ini bukan kebetulan. Sejak konsolidasi awal di Lapangan Rektorat Universitas Lampung (Unila), Jumat (29/8/2025), mereka sudah sepakat: tidak ada ruang untuk anarkisme. Kesepakatan itu kembali ditegaskan saat mereka hendak bergerak dari kawasan Underpass Unila.

Konvoi motor mereka berlangsung perlahan dan tertib. Sepanjang jalan, masyarakat yang melihat justru memberi dukungan moral. Energi positif itu menular, meneguhkan tekad mereka untuk tetap damai hingga akhir.

Demokrasi yang Keras tapi Elegan

Ketua BEM Unila, M. Ammar Fauzan, menyebut keberhasilan aksi damai ini sebagai bukti kedewasaan demokrasi di Lampung. Ia bersyukur tuntutan mereka akhirnya diterima Forkompinda Lampung untuk kemudian disampaikan langsung kepada Presiden.

“Lampung itu keras, tapi tidak anarkis. Kita bisa menyampaikan keresahan dengan cara duduk bersama, berdialog, dan didengar,” ujar Ammar.

Momen duduk lesehan antara Forkompinda dan ribuan mahasiswa, pemuda, serta ojol menjadi simbol indah dari demokrasi partisipatif. Tidak ada jarak antara pemimpin daerah dan generasi muda yang sedang berteriak meminta perubahan.

Harapan Orangtua

Bila generasi muda sudah mampu menahan diri, cerdas bersikap, dan tetap tegas menyuarakan kebenaran tanpa harus merusak, maka masa depan Indonesia patut diharapkan cerah. Tabik dari orangtua yang dibesarkan era Orde Baru dan Reformasi. Dum! 

*) Pemred Club


 -