Catatan Herman Batin Mangku
Obituari Muhammad Syae’an
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Pada Jumat dini hari yang hening, 30 Januari 2026, pukul 00.15 WIB, H. Muhammad Syae’an mengembuskan napas terakhirnya. Dalam usia 108 tahun, ia pulang dengan tenang—seolah hanya menutup sebuah perjalanan panjang yang telah ia tuntaskan dengan ikhlas.
Tak ada sorot kamera. Tak ada papan bunga sepanjang jalan di kampungnya. Hanya doa lirih keluarga, kerabat, dan handai taulan yang mengiringinya menuju peristirahatan terakhir di Lampung Timur—tanah yang ia pilih sebagai ladang pengabdian, jauh dari kampung halamannya di Tulungagung, Jawa Timur.

Muhammad Syae’an adalah lelaki yang hidupnya dihabiskan untuk memberi. Sebagian usianya ia serahkan pada perang melawan penjajah. Sebagian yang lain—lebih panjang dan melelahkan—ia persembahkan untuk perang yang sunyi: melawan kebodohan, keterisolasian, dan ketertinggalan.
Ia lahir pada 20 Mei 1922, tumbuh di masa ketika kata “merdeka” masih sebatas mimpi. Menamatkan Sekolah Rakyat pada 1936, melanjutkan pendidikan di madrasah Mojokerto, hingga mencicipi bangku pendidikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sejak muda, hidupnya telah akrab dengan bayang-bayang penindasan.
Pada usia 18 tahun, darahnya mendidih. Bukan karena amarah, melainkan karena kesadaran: bangsanya tidak ditakdirkan untuk terus tunduk. Ayahanda dari politikus dan jurnalis senior Himawan Ali Imron ini memilih jalan yang tak semua orang berani tempuh — mengangkat nyawa sebagai taruhan.
Ia bergabung dengan gerilyawan Hizbullah Sabilillah pada 1 Oktober 1945 di Tulungagung. Dua tahun kemudian, ia masuk TNI Batalyon 51 di Pare, Blitar. Perang belum usai, dan ia kembali berdiri di barisan terdepan bersama Batalyon 102 Grup A, mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung.

Peluru, hutan, dan lapar menjadi kawan. Malam-malam panjang tanpa kepastian menjadi keseharian. Hingga usia akhirnya berkata cukup. Pada 6 April 1959, Muhammad Syae’an tercatat sebagai veteran dengan Nomor 13.834/D. Tetapi bagi dirinya, perjuangan tak pernah benar-benar berakhir. Ketika senjata disarungkan, ia menggantinya dengan pengabdian.
Ketika medan perang ditinggalkan, ia memilih medan yang lebih sunyi—membangun manusia. Ia aktif di Muhammadiyah Tulungagung hingga 1952, lalu hijrah ke Lampung Timur, daerah yang kala itu masih berupa hutan, jalan tanah, dan kampung-kampung yang terputus harapan.
Di Braja Slebah, ia menanam sesuatu yang lebih abadi dari monumen: pendidikan dan kepedulian. Melihat orang sakit tanpa pertolongan, ia mendirikan Layanan Kesehatan Rakyat, mengajak paramedis dari Jawa Barat berkeliling kampung.
Melihat anak-anak tumbuh tanpa sekolah, ia mendirikan taman kanak-kanak dan SMP YPI—sekolah yang hingga hari ini masih menyala, seperti pelita kecil di tengah keterbatasan. Ia berdagang hasil bumi saat transportasi masih jarang. Ia memimpin warga sebagai Ketua LKMD ketika kampung butuh arah.

Bapak enam anak -- Mahmudi, Nasrullah, Amir Muhromin, Rodiyah, Muthoharoh, dan Hinawan Ali Imron -- memilih bekerja dalam diam, tanpa spanduk, tanpa panggung. Semua dilakukan tanpa tepuk tangan. Tanpa sorot kamera. Tanpa ambisi dikenang.
Kini, Muhammad Syae’an telah berpulang. Ia meninggalkan bangsa yang hari ini dipimpin generasi yang tak pernah mendengar desis peluru di telinga, tak pernah merasakan nyawa sejengkal dari moncong senjata, dan tak sepenuhnya tahu betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan dan kemajuan.
Ia pergi seperti hidupnya: sunyi, sederhana, dan penuh makna.
Muhammad Syae’an telah beristirahat dengan tenang. Seikhlas perjuangan 108 tahunnya untuk bangsa dan negara. Ketua PW Muhammadiyah Lampung Prof Sudarman ikut mengantarkan ke peristirahatannya.
Ramainya malam takziah membuktikan ketokohannya. Di masjid yang dibangunnya, Masjid Nurul Muttaqin, Sekretaris Muhammadiyah Dr. Makruf Abdin memberikan tausiah sebelum mendoakan kepergian Sang Tokoh.
Selamat jalan, Pejuang. Tanpa tepuk tangan dan sorot kamera —namun jejakmu tertanam dalam sejarah dan hati mereka yang kau didik.
Muhammad Syae’an telah berpulang meninggalkan negeri yang riuh oleh panggung, oleh klaim jasa, oleh suara yang saling berlomba terdengar. Negeri yang kerap lupa bahwa kemerdekaan dan kemajuan tidak dibangun oleh mereka yang gemar disebut, melainkan oleh orang-orang yang memilih bekerja dalam diam.
Kita mungkin tak pernah menyebut namanya di buku pelajaran. Tak ada patung, tak ada prasasti. Namun di setiap anak kampung yang bisa membaca, di setiap warga yang pernah ditolong saat sakit, di setiap desa yang tak lagi sepenuhnya gelap—di sanalah jejaknya bersemayam.
Muhammad Syae’an telah beristirahat dengan tenang. Bukan karena jasanya telah dibalas, melainkan karena tugasnya telah ia tuntaskan. Ia mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian sejati tidak menunggu tepuk tangan, tidak mengejar sorot kamera, dan tidak sibuk meminta dikenang.
Ia cukup hadir, bekerja, lalu pergi—meninggalkan negeri ini sedikit lebih manusiawi dari saat ia datang. Selamat jalan, Pejuang. Dalam sunyi perjuanganmu, kami belajar arti setia pada bangsa.
* Anggota PWI Lampung
