LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Dari Lampung, Ketua Umum Persatuan Indonesia Wartawan (PWI) Akhmad Munir (Cak Munir) meng-alarm agar wartawan tidak terjebak pada budaya copy-paste (copas) dan penggunaan artificial intelligence (AI) alias otak imitasi atau kecerdasan buatan tanpa proses verifikasi lapangan.
Cak Munir membunyikan itu saat berbicara pada diskusi tematik PWI Lampung bertajuk "Uji Integritas Wartawan di Tengah Arus Kecerdasan Buatan (AI)" di Aula Lt. 3 Balai Wartawan Solfian Ahmad PWI setempat, Jl Ahmad Yani 28, Durianpayung, Kota Bandarlampung, Senin (17/11/2025).
Cak Munir sebelumnya telanjangi alis mem-belejeti fenomena post-truth, misinformasi, dan hoaks yang mengancam kualitas ruang publik (public sphere). Post-truth ini istilah yang jadi sangat populer sejagat raya medio 2016 kala dinobatkan sebagai "Word of the Year" oleh Oxford Dictionaries."
Jika diindonesiakan maka menjadi "Era Pascakebenaran". Terjemahan bebasnya, post-truth merujuk pada suatu kondisi fakta objektif memiliki pengaruh lebih kecil dalam membentuk opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi.
Per historis, dua peristiwa bersejarah 2016 yang acap diklaim sebagai momen picu lonjakan popularitas istilah post-truth, yakni peristiwa brexit (akronim dari british exit yang merujuk keputusan Inggris Raya keluar dari keanggotaan Uni Eropa sekaligus tak pakai Euro balik ke poundsterling). Dan, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS kala itu.
Kencang disebut pemicu, lantaran keduanya acap diasosiasikan dengan manipulasi emosi dan keyakinan pribadi di atas fakta objektif.
Di era post-truth, kebohongan bisa dengan begitu mudahnya "nyaru" alias menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan, sehingga publik akan condong lebih percaya, atau mempercayai, informasi yang sesuai keyakinan mereka, daripada fakta yang telah terbukti dan teruji.
Tak cuma "membagongkan", lebih dari itu membahayakannya, kebohongan dimaksud malah dilabeli istilah "kebenaran alternatif" segala. Nah, kebohongan alias "kebenaran alternatif" ini dapat lebih mudah diterima publik, sebab lebih menyentuh perasaan, memperkuat prasangka yang sudah ada, bahkan tanpa bukti yang kuat bin sahih.
Ditilik dari karakteristik utamanya, post-truth mengandung sedikitnya 6 ciri khas utama: (1) emosi lebi dominan dari logika, (2) himpunan atau rumpun informasinya berdasar faktor keterkenalan (popularitas), (3) perasaan memiliki bobot lebih tinggi dari bukti-bukti, (4) keterbatasan berpikir kritis atau critical thinkingthinking, (5) Media sosial dan platform digital acapkali justru memperkuat (narasi) konten yang populer atau kontroversial, (6) menggendong bibit-bibit potensi dampak negatif
PERTAMA
Prioritas emosi di atas fakta. Emosi lebih dominan dari alias mengalahkan logika. Dalam hal ini, bentukan (formasi) keputusan atau opini publik lebih dipengaruhi daya tarik emosional tinimbang bukti konkret.
Opini beredar kadang dianggap, dipersepsikan, diinterpretasikan sebagai "hal yang benar" atau "sebuah kebenaran"; sebab sukses membangkitkan emosi, dan mengesampingkan data dan fakta objektif.
KEDUA
Himpunan atau rumpun informasinya berdasar faktor keterkenalan (popularitas). Publik condong lebih mempercayai informasi bersumber dari pemengaruh (influencer), pendengung (buzzer), atau pesohor dengan tingkat kedisukaan tinggi atau dalam bahasa bayi "figur publik yang lebih disukai dan mendapat banyak atensi likes atau views", daripada pakar atau expertise di bidangnya.
KETIGA
Penyebaran "fakta alternatif", yang lantas celaka dua belas, bak berkedudukan menggantikan fakta aktual, dan perasaan memiliki bobot lebih tinggi dari bukti-bukti.
Sebagaimana ulasan di atas, kemunculan fenomena ganjil: kebohongan bisa dengan begitu mudahnya "nyaru" alias menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan, hingga publik condong lebih percaya, atau mempercayai, informasi yang sesuai keyakinan mereka, daripada fakta yang telah terbukti dan teruji.
Tak cuma "membagongkan", lebih dari itu membahayakannya, kebohongan dimaksud malah dilabeli istilah "kebenaran alternatif" segala. Nah, kebohongan alias "kebenaran alternatif" ini dapat lebih mudah diterima publik, sebab lebih menyentuh perasaan, memperkuat prasangka yang sudah ada, bahkan tanpa bukti yang kuat bin sahih.
Dengan kata lain, "kebenaran alternatif" yang dirasa ganjil tersebut lantas kemudian bertransformasi kemunculannya menjadi, dalam bahasa bayi, diistilahkan sebagai semacam "kebenaran baru".
Lantaran kebohongan bisa menyamar sebagai kebenaran, lalu diterima sebagai kenyataan baru oleh sebagian masyarakat. Terutama di kalangan yang: minim literasi, sedikit literatif tetapi masih terjerembab budaya sesat pikir, telah terliterasi tetapi tergolong pengampu karakter keras kepala.
Pertanyaan kritisnya, mengapa bisa terjadi demikian? Ini erat dengan karakteristik pertama dan kedua, dimana keyakinan pribadi yang cenderung dominan, informasi yang memperkuat keyakinan yang sudah ada cenderung lebih mudah diterima, saat bersamaan, fakta berbeda dapat ditolak.
KEEMPAT
Keterbatasan berpikir kritis atau critical thinking. Pernah jumpai, seseorang atau kelompok orang yang lebih cenderung menerima begitu saja (take it for granted) informasi yang diterima, ditemukan, atau ditemukenali, dengan tanpa mengkritisinya (sebut saja menelan bulat-bulat informasi tersebut), yang lantas berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir kritisnya?
KELIMA
Peran media sosial —yang kini telah lazim disebut sebagai rezim tak bertuan tak berpuan— sebagai faktor pemengaruh.
Algoritma media sosial dan platform digital, dapat menciptakan "echo chamber" atau "ruang gema" di mana pengguna cuma lihat sudut pandang (perspektif) yang sama, tak ayal kian memperkuat bias dan membatasi paparan terhadap perspektif lain.
Media sosial dan platform digital acapkali justru memperkuat (narasi) konten yang populer atau kontroversial, bukan (narasi) konten yang paling benar atau terverifikasi, hingga berimbas memperburuk penyebaran informasi yang salah, antara lain yang kita kenal sebagai misleading information, disinformasi, dan misinformasi.
KEENAM
Mengendong bibit-bibit potensi dampak negatif. Misal memicu penyebaran berita bohong (hoaks), berita salah (false news), berita palsu (fake news) termasuk kekinian nan mengkuatirkan: deepfake AI, serta disinformasi, dan misinformasi, yang muaranya mempengaruhi opini publik dalam ragam cakupan isu, dari kode etik hingga high politics, biometrik sampai bioteknologi.

Wartawan = Avant Garde
Lantas berangkat dari situasi ganjil tersebut, sadar audiens, Cak Munir didepan peserta diskusi itu, laju menggarisbawahi kemudian.
Bahwa wartawan, lugasnya, harus menjadi garda terdepan melawan informasi sesat. Pelugasan Cak Munir ini pun tak kalah gahar buat digarisbawahi, dan distabilo kemudian.
Pasalnya, dengan belajar dari teramat sangat banyaknya pengalaman, dalam banyak studi kasus, tidak sedikit terjadi: wartawan malah justru yang termasuk menjadi bagian obyek atau korban dari informasi sesat, dari yang sekadar menerima tanpa reserve (lantaran tuntutan kecepatan) kemudian secara sadar turut menyebarkan, dan atau mentransmisikan, dan kemudian mendistribusikannya dalam wujud digital berupa tautan berita hasil reportasenya.
Sampai parahnya yang terparah, hingga kemudian si wartawan bersangkutan, turut serta-merta menjadi bagian dari pihak yang 'dipersalahkan' lantaran telah secara sadar (kemudian disadari merupakan atau menjadi bagian dari kesalahan) turut menyebarkan, dan atau mentransmisikan dan kemudian mendistribusikannya dalam ujud fisik atau digital dari berita hasil reportasenya. Yang bersumber dari informasi sesat. Itu.
Penekanan Munir, "wartawan harus menjadi garda terdepan melawan informasi sesat", yang beruntung sekaligus bersejarahnya (lantaran dia sampaikan di Lampung, di forum pencerah besutan kabinet Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah), sudah sepatutnya lah dimaknai pula.
Bukan cuma sekadar pil penambah gairah, belaka; lebih dari itu patut dimaknai pula sebagai pelecut adrenalin lantaran "harus" alias mengandung beban wajib tunai —wajib ditunaikan hingga tuntas.
Harus menjadi garda terdepan (avant garde) atau istilah lain, dalam dunia pergerakan kiri dikenal istilah "vanguard" berarti pelopor, bagi wartawan haruslah senyatanya menjadi demikian didalam segala sesuatu aktivitas berlawan, melawan, perlawanan terhadap informasi sesat. Dalam ataupun dengan wujud termutakhirnya sekalipun.
Bukan berarti sok jagoan, sok pahlawan, atau "sok sip" dalam istilah akamsi (anak kampung sini), bukan. Tidaklah demikian.
Lebih sahih disebabkan, ulah sudah menjadi tugas utama dan pertama dari seseorang yang berprofesi sebagai wartawan adalah mencari, mengolah, memeriksa kebenaran, menyebarkan, mendistribusikan: informasi.
Gayengnya, mencari dan mengumpulkan informasi —melalui peliputan jurnalistik, riset, observasi, menghadiri acara untuk temukan berita relevan dan menarik bagi publik; mewawancara narasumber demi memperoleh informasi lebih mendalam dan bersudut pandang berbeda.
Kemudian, menulis dan menyunting berita —menyusun semua informasi yang diperoleh menjadi berita yang jelas, padat, mudah dipahami, serta memastikan tiada campur aduk antara fakta dan opini; memeriksa keaslian (otentisitas) dan juga kebenaran informasi secara mendalam disertai disiplin verifikasi guna memastikan berita disajikan akurat, faktual, berimbang, dan terpercaya.
Serta menyebarkan dengan menyajikan, mempublikasikan, mendistribusikan berita melalui media relevan, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, atau platform digital. Selain, jadi benteng tegak lurus penerapan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Penekanan tersebut, apatah lagi Cak Munir lanjut kemudian dengan menegaskan. Kini integritas wartawan (sungguh) sedang diuji.
Dia mengintensi, di tengah perkembangan pesat AI, standar etik jurnalistik pantang dikompromikan. Justru kemudian, integritas lah yang menjadi pondasi utama yang harus dijaga oleh setiap wartawan, sergahnya.
Selain mewanti agar wartawan 'nakal', dan jika ada wartawan bekerja tak profesional, "tolong diingatkan", Cak Munir memastikan pula anggota PWI itu wartawan profesional.
Soal kritik, Munir mengemukakan kritik yang disampaikan media massa harus lahir dari niat baik, bukan sebagai (bentuk) serangan.
“Kalau kami mengkritik lembaga atau instansi, kritik itu harus membuat kinerja lebih baik. Jangan menulis dengan cara yang merugikan satu pihak, itu tidak baik,” wantinya, melugaskan ulang etika, niat baik, dan tanggung jawab moral merupakan ruh profesi wartawan Indonesia.
Lanjut wanti dia, jika wartawan ingin buat kritik niatkanlah untuk tujuan kebaikan, bukan keburukan. "Ini penting karena jiwa wartawan Indonesia adalah niat baik untuk membuat kebaikan bagi masyarakat," tutur Munir seolah ingin membulatkan pesan kuat agar produk jurnalistik wartawan Indonesia terus dan terus berkemampuan: berdampak.
Munir —teranyar 11 Oktober lalu, bertempat di Gedung Negara Grahadi, rumah dinas jabatan Gubernur Jawa Timur (Jatim) di Surabaya, menjadi salah satu penerima, dia menerima penganugerahan Lencana Jer Basuki Mawa Beya kategori Emas dari sang gubernur, Khofifah Indar Parawansa, atas dedikasi menjaga integritas dan kebebasan pers nasional.
Penghargaan bertepatan HUT ke-80 Jatim, sesuai Pergub Jatim 42/2020, SK Gubernur Nomor 100.3.3.1/751/KPTS/013/2025 tanggal 11 Oktober, diberikan kepada para tokoh kontributor pembangunan dan pengabdian bagi Jatim, "yang menunjukkan bagaimana dedikasi, keikhlasan, dan pengorbanan bisa bawa manfaat luas bagi umat dan bangsa", demikian mengutip taklimat Khofifah.
Bersyukur bangga menerima, Munir sitat bunyi SK, penghargaan untuknya selaku tokoh pers nasional yang berhasil lakukan konsolidasi media, berperan aktif dalam pembangunan di Jatim dan dorong kebebasan pers di tingkat nasional.
“Tentu kami, keluarga besar PWI pusat pun Jawa Timur, akan terus bersinergi dengan Pemprov Jatim bersama-sama membangun kesejahteraan masyarakat,” tutur Munir, ikut apresiatif ekosistem pers Jatim dinilai stabil kondusif, dan jalinan kolaborasi insan pers dan pemda, swasta, masyarakat ialah modal penting ciptakan pembangunan inklusif, jadi kekuatan besar bagi pers terus berkontribusi bareng elemen masyarakat lainnya.
Kelahiran Sumenep Desember 1966, mukim Sidoarjo Jatim, jebolan S1 FISIP Universitas Negeri Jember, berkarir kewartawanan dari reporter Suara Akbar Jember, wartawan cum redaktur Antara Jatim, Kepala Biro Antara Bengkulu dan Jatim, lalu Direktur Pemberitaan (April 2018), dan Dirut Perum LKBN Antara per 12 April 2023 sesuai SK Menteri BUMN Nomor 84/MBU/04/2023.
Selain itu, kader PWI tulen —peniti karir dua periode Ketua SIWO lanjut dwiperiode Ketua PWI Jatim, terakhir Wakil Ketua Bidang Daerah PWI Pusat 2023–2025 sebelum terpilih jadi Ketum PWI Pusat 2025–2030 bersama Ketua Dewan Kehormatan terpilih Atal S. Depari pada Kongres PWI 2025 di Balai Pelatihan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Komdigi, Cikarang Jabar, 30 Agustus 2025— ini mengingatkan wartawan tak terjebak budaya copas dan penggunaan AI tanpa verifikasi lapangan.
Mari kita sigi, kontekstualitas diksi anjuran "tidak terjebak" sebagaimana Cak Munir sebutkan. Apabila diasumsikan benar, yang dimaksud dari alarm pengingatnya tersebut bahwa "budaya copas dan penggunaan AI tanpa proses verifikasi lapangan" dapatlah dimaknai dengan kata lain (alias dikuatirkan, acap, kerap, atau seringkali) lantaran merupakan jebakan atau perangkap.
Sehingga Cak Munir mewantikannya untuk agar tidak, atau kata lain jangan sampai.
Cak Munir lalu mempersenjatainya dengan menyitat quotes magis legendaris pertama kali dipopulerkan sang kaliber, mendiang Jakob Oetama. Yakni, "Wartawan sejati mensucikan fakta melalui observasi langsung," sebut Munir mengutip Jakob.
Kutipan magis dari sosok legendaris: putra Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru di Sleman; peniti karir jurnalistik dari jadi redaktur Mingguan Penabur (1956), berlanjut bersama PK Ojong dirikan Majalah Intisari (1963) yang mungkin terilhami dari Majalah Reader's Digest (AS), kembali berlanjut bersama PK Ojong dirikan Kompas 28 Juni 1965 dia kelola hingga 2020.
Dengan ditengahnya: era 80-an Kompas Gramedia Group berbiak pesat terutama bidang komunikasi hingga kini pun mewujud jadi salah satu raksasa industri media massa konvergen Tanah Air: punya koran, majalah, tabloid, toko buku, percetakan, radio, stasiun TV, hotel dan resor, lembaga pendidikan, organiser even, hingga perguruan tinggi.
Sebutlah, korporat multi industri yang hadir sejak 1963 dengan ragam produk berbasis informasi dan pengetahuan ini, mengampu 400an jaringan usaha di 30 provinsi dengan sedikitnya 19 ribu karyawan, hingga terus berkemampuan berevolusi beradaptasi bertahan berbinar hadirkan ragam adikarya solusi bisnis jangkau seluruh lapisan umat melalui 8 pilar utama industri kelolaan.
Yakni, industri media (pengampu lebih 150 jenama media cetak, elektronik, broadcast); industri ritel dan penerbitan (bareng tujuh penerbit buku dan lebih dari 120 jaringan toko penyedia produk literasi); perhotelan (115 jaringan hotel Santika Indonesia Hotel & Resort di 51 kota); manufaktur (percetakan dan produksi kemasan); industri pendidikan (1 sekolah, 1 universitas, 1 perguruan tinggi vokasi, 8 lembaga pendidikan); jasa penyelenggara eksibisi dan manajemen venue; industri properti, hingga digital.
Barangkali terlewat terlupa, selain itu Jakob bareng Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohammad, Harmoko, H.G. Rorimpandey, Jusuf Wanandi, dan M. Chudori dirikan pula harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post.
Tarik napas sebentar, kita lanjut pembaca. Kita jelenterehkan, bebunyian "Wartawan sejati mensucikan fakta melalui observasi langsung" dapat pula dimaknai sebagai prinsip penting dalam jurnalisme yang menekankan keharusan wartawan untuk mencari kebenaran dengan tidak hanya andalkan sumber sekunder atau rumor, harus turun lihat sendiri kejadian lapangan (tempat kejadian dan lainnya sesuai 5W1H).
Dengan observasi langsung, wartawan juga sekaligus dapat melakukan proses verifikasi informasi, validasi fakta, pemastian akurasi; sebelum disaji ke publik dalam wujud konten pemberitaan atau produk jurnalistik.
Lalu, wartawan juga dapat menghilangkan bias informasi, mengurangi kemungkinan interpretasi yang salah (misinterpretasi) atau bias yang bisa saja, boleh jadi, mungkin atau berkemungkinan timbul dari sumber lain.
Lalu, si wartawan juga dapat sajikan laporan dengan lebih lengkap, perinci, berimbang, berbasis bukti dan pembuktian di lapangan.
Sedikit terkait ini, ada hal menarik soal tradisi baik pewarta kutipkan dari penggalan kolom Catatan Dahlan Iskan berjudul Nikmat Karina edisi Senin (17/11/2025) lalu, bahwa dahulu sewaktu menjadi pimpinan media, tokoh pers Dahlan Iskan melarang wartawan mewawancarai narasumber lewat telepon.
"Wartawan harus datang ke rumah sumber berita. Agar bisa menggambarkan kondisi rumahnya. Handphone telah membunuh cabang ilmu reportase dalam jurnalisme," kutipan penggalan kolom Abah, dimaksud.
Keempat prinsip itu senapas lagi sebangun dengan etika jurnalisme yang menekankan pentingnya akurasi dan kebenaran informasi, objektivitas dan imparsialitas dengan berlaku adil tak memihak, dan independensi alias bebas dari pengaruh luar yang dapat berpotensi mengkompromikan objektivitas.
Sebagai perangkuman, saripati dari kutipan pernyataan Jakob Oetama, menitikberatkan nilai inti dari jurnalisme yang bukan saja etis namun juga kredibel. Seringkali, kebenaran hakiki dijumpai di pelbagai palagan kejadian, beragam tempat dan ruang peristiwa, bukan melulu cuma di ruang redaksi.
Dan PWI, Munir melugaskannya sekaligus bertemali dengan helat Pekan Pendidikan Wartawan PWI Lampung 2025 yang dia narasumberi diskusi hari pertamanya; organisasi kewartawanan nasional tertua terbesar republik ini, teruji untuk itu.
Sejak awal kelahirannya, PWI memiliki DNA perjuangan. DNA PWI adalah DNA pejuang."PWI lahir bukan sekadar menyatukan wartawan, tetapi bagian dari perjuangan bangsa," tandas dia, sebelumnya bilang Pekan Pendidikan tersebut: ikhtiar menjaga marwah, martabat, profesionalitas wartawan di tengah gelombang disrupsi teknologi.
Pada bagian lain presentasi, Munir tak lupa pula memutakhirkan informasi proses dan progres perjuangan PWI bersama organisasi perusahaan pers atau asosiasi media dalam mendorong insentif pajak bagi perusahaan pers, serta perjuangkan Protokol Jakarta agar produk berita dapat diakui sebagai bagian dari hak cipta.
Satu gelombang dan satu frekuensi dengan Ketua PWI Lampung Wirahadikusumah dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Munir dukung penuh rencana Lampung jadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional 2027.
Di mata Munir, Lampung memiliki kesiapan kuat berkat dukungan pemda setempat. Apatah lagi demi mendengar langsung komitmen Gubernur Mirza 2025—yang notabene dapat disebut salah satu gubernur ramah media—, tambah "jadi barang ini."
Bahwa, dirinya selaku orang nomor satu di Bumi Ruwa Jurai, juga dukung usulan PWI Lampung dan Pusat: Lampung tuan rumah.
Lebih "greng" lagi, sang gubernur bahkan mengontaninya dengan peryataan kesiapan pihaknya persiapkan kawasan Kota Baru di Jati Agung, Lampung Selatan, sebagai pusat pelatihan wartawan nasional.
Sebelumnya, sahibul hajat, Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, laporannya menegaskan Pekan Pendidikan Wartawan PWI Lampung 2025 jadi upaya pihaknya perkuat kapasitas dan integritas wartawan lokal di tengah tekanan industri media.
Wira, demikian sapaan pria jangkung yang jua Direktur Rilis.ID ini, menyebut pesatnya perkembangan platform digital telah secara faktual membuat pendapatan iklan media menjadi susut —menyusut secara signifikan.
Sehingga, peningkatan kualitas sumber daya manusia kewartawanan jadi kunci bertahan. Survival at the battle. Bukan hit and run.
Ujar Wira, Pekan Pendidikan Wartawan dirancang tak hanya sebagai pelatihan teknis, tetapi juga penguatan nilai dan etika profesi agar wartawan tak kehilangan jati diri di tengah penetrasi kecerdasan buatan.
Ikhtiar yang dalam bahasa cuaca: bak arunika sekaligus bak swastamita. Atau dalam bahasa bayi, bak sinar mentari usai terbit sekaligus panorama indah kala sunset. (Muzzamil)
-
