Penulis Herman Batin Mangku
Jurnalis
BERAWAL dering ponsel, Fikri Yasin mengundang saya ngopi di Warkop Agam Medan, Jl. Pramuka, Langkapura, Kota Bandarlampung, Kamis (1/10/2026). Ajakan tersebut ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba di saat lagi hot-hotnya tsunami skandal Lapas Cibinong serta berbagai spekulasi perdebatan di balik pergantian kapolri dan reshuffle kabinet.
Andrenalin jurnalistik saya langsung mengalir deras hingga membuat bulu kudu terasa berdiri tegak. Ingin tahu, ada apa di balik gebrakan anggota Ombudsman RI terhadap Lapas Kls II Cibinong, Bogor, bertepatan dengan suasana semakin meningginya tensi politik di tanah air saat ini.
"Dirjenpas (Mashudi) baru saja mundur," ujar Fikri santai saat saya baru saja duduk di depannya. Saya "pura-pura" kaget: oh ya? Sambil menikmati nasi goreng Warkop Agam Medan milik Mukhlis Basri, anggota DPR RI, kami kemudian membuka percakapan saat bersama sekitar 35 tahun lalu.
Dengan santai, saya mencoba menggali apa sesungguhnya yang sedang terjadi dan suasana kebatinan Fikri saat ini hingga membuat Indonesia terguncang atas aksinya "membegal" fasilitas mewah para napi tajir yang bertahun-tahun hidup nyaman di balik tembok tebal dan penjagaan ketat Lapas Cibinong.
"Ombudsman RI punya program untuk melihat pengelolaan lapas di Indonesia dengan sumple lima lokasi," kata Fikri. Kunjungan lapas pertama, kedua, ketiga, dan empat lancar-lancar saja. Mereka hanya membawa beberapa catatan kecil terkait perbaikan pengelolaannya.
Kunjungan ke lapas terakhir, ke-5, Lapas Cibinong, dia dan teman-temannya datang sebagaimana biasa, tanpa ada beban maupun pretensi apa pun. Namun, kali ini, petugas Lapas Cibinong menyambut mereka "tak ramah". Padahal, surat kunjungan sudah ditayangkan jauh hari sebelumnya.
Karena surat dan koordinasi tak kunjung direspon, Fikri dan kawan-kawan pun tetap ingin menuntaskan tugas negara yang dibebankan kepada mereka dengan cara yang kemudian dianggap sebagai inspeksi mendadak alias sidak yang kemudian mendapatkan respon "keras" pihak Lapas Cibinong.
Menghindari debat kusir lebih keras, mereka kemudian bersabar menunggu sekitar satu jam di warung depan lapas. Dalam penantian tersebut, Tim Ombudsman RI melihat dari jarak seratusan meter ada sesuatu yang janggal. Ada sepeda motor dan mobil serta orang yang terkesan bebas keluar masuk di ujung bagian dalam lapas.
Rasa penasaran berbaur dengan kecurigaan, sejam kemudian, bertepatan dengan tim wartawan tiba, Fikri dan kawan-kawan bergerak untuk menguak lebih dalam "misteri" di lapas tersebut. Ternyata tak semudah itu, petugas lapas datang secara bergelombang hingga terjadi bentrokan fisik buat menahan Tim Ombudsman RI dan para wartawan.
Terjadilah peristiwa yang kemudian viral masuk ke setiap ponsel dalam hitungan jam atas terjadinya bentrokan fisik timnya dengan pihak lapas. Naluri investigasi makin terbakar hebat, Fikri mengatakan berhasil membuktikan kecurigaannya bahkan sempat bertemu dengan tiga napi tajir di klaster bak apartemen dalam lapas tersebut.
Yang di luar dugaan, kejadian tersebut begitu cepat bergulir bak bola salju. "Saya sendiri kaget kejadian tersebut seviral itu dalam waktu yang begitu cepat," kata Fikri. Menurut dia semua terjadi spontan, tak ada skenario besar atas peristiwa yang membuat tsunami besar di tubuh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Berbagai spekulasi liar bermunculan dari segala penjuru atas kejadian tersebut. Berbagai analisis dan dugaan semakin ugal-ugalan setelah terkuak adanya klaster mewah Lapas Cibinong. Ndilalah, peristiwa viral tersebut kemudian mendadak disusul peristiwa politik besar lainnya: pergantian pucuk pimpinan Polri dan reshuffle kabinet.
Macam-macam spekulasi liar atas sederet peristiwa politik nasional. Bahkan, ada spekulasi, Fikri dkk jika diibaratkan perang, sebelum pasukan inti diterjunkan buat menguasai medan pertempuran politik, Ombudsman RI lebih dulu yang melakukan serangan kejut agar lawan politik dalam dan luar negeri terkosentrasi ke skandal Lapas Cibinong sehingga lengah dengan gebrakan politik yang lebih besar.
Alih-alih menjawab semua itu, Fikri Yasin malah balik ingin mengetahui pendapat saya tentang semua rangkaian peristiwa tersebut. Dia mengaku justru ingin mengetahui sudut pandang saya setelah membaca tulisan-tulisan yang dinilainya punya engel sendiri, tak sekadar hot news.
Diskusi santai mengalir tanpa silang pendapat, Fikri terkesan hanya memosisikan menyimak pandangan saya atas tak kunjung redanya drama politik dan bertubi-tubinya tsunami elite kekuasaan serta hujan caci maki masyarakat terus-menerus yang masih merindukan keadilan di negeri ini.
Terkait subtansinya, cukup saya dan dia saja, termasuk kenapa dirinya datang ke Lampung meninggalkan hinggar-binggar skandal Lapas Cibinong yang terus bergulir bak bola salju dan konstelasi politik yang tengah mencari titik keseimbangan (equibilirium) di jelang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo.
Mungkin sudah rencana Tuhan, Fikri Yasin yang "tumbuh" dan mungkin memang dilahirkan bersama teman-temannya sesama aktivis di saat Reformasi untuk kembali membenahi negeri ini sesuai perannya masing-masing. Berbagai jejak perjuangan demokratisasi, keadilan, dan hak asasi manusia, menjadi catatan perjalanan hidupnya hingga ke titik ini.
Jadi, soal motivasi menguak ketidakadilan, pemberangus para tikus negeri ini, tak butuh validasi lagi. Nyawa pun sempat dipertaruhkannya saat memperjuangkan Tragedi HAM Besar Talang Sari di kabupaten kelahirannya, Lampung Timur.
Apalagi cuma spekulasi dirinya ke Lampung buat menghindari santet yang mungkin dikirim oleh mereka yang terusik gebrakannya.
Malam makin larut, Fikri duduk di hadapan saya, kami minum kopi, tidak ada pasukan, tidak ada panggung, tidak ada kamera televisi. Hanya dua orang yang sedang berbicara tentang negeri yang sedang gaduh.
Kami kemudian berpisah sambil membawa harapan sama dengan hampir 300 juta rakyat Indonesia. Tampak pernah lelah, rakyat selalu berdoa semoga negeri ini baik-baik saja, bebas dari pada begal politik dan kekuasaan, dan gebrakan Fikri dkk semoga dan semoga menjadi momentum bangkitnya demokrasi dan keadilan di negeri ini, Takbiiir ***
