Oleh Prof. Sudjarwo*
MEMBACA ulasan Herman Batin Mangku (HBM) tentang Partai Golkar (PG) Lampung jelang musda tiga pekan lagi, narasinya terbaca memahami apa yang ada di balik berita sekaligus merangsang andrenalin saya ikut menghangatkan pesta demokrasi partai kebanggaan saya dulu.
Seperti ulasan HBM, partai ini memang harus diakui gudangnya bahkan jadi sekolahnya para pemimpin partai. Hal ini dibuktikan dengan hampir semua ketua partai politik yang ada di daerah ini adalah alumni PG. Jadi wajar saja jika saat PG punya hajat banyak mata memandang ke sana.
Baca juga: Aprozi Alam Gebrak Pohon Beringin, Power Rangers Bersatu
HBM tentu sangat paham tentang itu, namun ada yang belum dikupas secara tuntas dari pengamatannya, yaitu PG juga pemersatu dari mereka yang semula tidak bersatu. Ada “trust darah kuning politik” dalam tubuh diri semua kader militannya.
Jadi memang tidak aneh jika semula mereka “berhadap-hadapan”; begitu ada yang masuk dan diposisikan sebagai “orang luar”, maka mereka merasa mendapat “lawan bersama”, itu membuat secara otomatis mereka akan bersatu untuk “melawannya”.
Apa yang diungkap HBM bahwa berkaca dari pengalaman, mereka yang mendapat dukungan dari bawah, sekalipun mayoritas; tetapi tanpa restu “yang punya beringin”, maka jangan harap akan terpilih menjadi ketua.
Baca juga: Golkar Lampung Makin Hot Adu Ilmu hingga Balas Pantun Jelang Musdanya
Tampaknya kata kunci HBM yang dibahasakan lain seperti itu, tidak banyak disadari oleh pendatang muda yang maju ke gelanggang.
Tokoh-tokoh PG Lampung ibarat “singa tua” yang memiliki pengalaman lapangan tak terkalahkan, karena langkahnya sering sulit dibaca.
Apalagi jika yang membacanya terbawa emosi atau terbawa harap yang terlalu tinggi. Sudah dapat dipastikan akan kecewa ujungnya, dan itulah peringatan dini yang diberikan oleh HBM kepada semua.
Pertanyaan lanjut apakah PG tetap akan “hanya” menjadi latihan atau sekolah para pemimpin untuk partai lain, semua kita kembalikan kepada PG sendiri secara institusional.
Sebab jika itu saja tugas PG pada panggung perpolitikan Indonesia; maka sudah dapat dipastikan pengkaderan akan pemimpin pengganti memerlukan waktu yang cukup lama.
Ibarat kata orang sudah berlari PG tetap merangka, partai lain menyongsong masa depannya, PG tetap bangga dengan masa lalunya.
Orang-orang seperti HBM saat ini sangat diperlukan, karena dalam menganalisis persoalan ciri khasnya berfikir grounded, yaitu berfikir dengan pola “partisipatif berjarak”. Ciri khasnya adalah “masuk tetapi tetap di luar”, sehingga obyektivitasnya terjaga dan orsinil.
Nah, atas dasar itu maka apa yang ditulis HBM kemaren hendaknya dapat dijadikan referensi bagi kader PG dalam rangka menghadapi musda yang akan datang.
Tidak salah juga jika HBM pada acara itu diundang untuk dapat mengamati sekaligus menganalisis dan menemukenali persoalan untuk dapat dipublis kepada khalayak.
Sebagai orang yang mengamati dari jauh tentang PG ini semenjak resmi menjadi partai, karena sebelumnya pegawai negeri wajib “berlindung” dibawah pohonnya, dan setelah ada undang-undang netraliras, maka hanya mengamati tetapi tidak langsung “menyelam” di sana.
Berbeda dengan HBM yang memang profesinya harus pandai “menyelam” dimanapun kolam berada, tetapi tidak boleh basah; maka analisisnya jauh lebih kompleketit.
Oleh sebab itu tulisan ini hanya melihat berdasarkan teropong jauh yang mungkin tidak begitu akurat; namun paling tidak sebagai orang yang pernah punya “kartu anggota” pada jamannya, tentu masih boleh untuk sekedar “cawe-cawe”.
Teriring doa semoga Musda PG yang akan datang tetap bersuasana sejuk, panas di otak tetapi tetap manis di mulut. Berbenturan itu biasa, tetapi setelahnya berangkulan sebagai sesama.
Salam Waras.
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung