SEBAGIAN orang-orang jahiliyah berpandangan bahwa hidup di dunia ini adalah kehidupan yang sesungguhnya. Setelah mati ya selesai. Tidak perlu ada pertanggungjawaban!
Mereka berkata, "Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda yang hancur, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan kembali dalam kejadian yang baru?" (Al Isra': 49)
Sebagian yang lain berpendapat setelah mati manusia akan bereinkarnasi menjadi makhluk hidup yang lain sampai menemukan samsara. Dan sebagiannya lagi akan damai dikerajaan Tuhan karena dosa dosanya sudah ditebus oleh anak tuhan.
Sungguh, asal usul manusia dan kemana manusia setelah mati adalah peristiwa yang sangat goib, di luar jangkauan akal manusia. Karena diluar jangkauan dan "tidak nyata".
Manusia menganggapnya tidak ada. Kehidupan sesudah mati, bagi orang yang masih hidup adalah sesuatu yang tidak empiris. Manusia hanya bisa mempercayainya dengan iman
Para ulama di Jawa dahulu mengajarkan tentang ini dengan ungkapan "sangkan paraning dumadi" atau asal usul dan tujuan akhir manusia.
Hal ini agar manusia bisa "bali muleh marang mula-mulane" atau kembali ke tempat asalnya dalam keadaan selamat, gangsar (lancar), dan khusnul khatimah alias Innalilahi wa innailaihi raji'un.
Belajar al Quran akan membawa kita kepada ma'rifatullah yang pada gilirannya akan mengantarkan pada ma'rifatul insan atau mengenal manusia (jati dirinya sendiri).
Ma'rifat (dalam bahasa Arab) berarti mengenal atau mengetahui. Ini bukan sekadar pengetahuan faktual, tetapi juga pemahaman yang mendalam dan pengalaman langsung.
Marifatul Insan merujuk pada proses memahami hakikat manusia, potensinya, tupoksinya dan hubungannya dengan Tuhan. Ini melibatkan refleksi diri, pemahaman akan kelebihan dan kekurangan, serta kesadaran akan peran dan tanggung jawab manusia sebagai hamba dan makhluk ciptaan Allah.
Semua hal tersebut, akan dapat kita ketahui hanya dari Allah Sang Maha Pencipta. Sebagai Pencipta, Dia lah Yang paling tahu dan paling berhak mengeluarkan manual prosedur nya
Manusia diciptakan oleh Allah dari tanah dan surga sebagai kampung halamannya. Orang yang dalam perantauannya mengikuti petunjuk jalan-Nya (al Quran) maka akan kembali ke kampung halamannya, surga, tempat asal nenek moyangnya (Adam dan Hawa) dengan selamat dan presisi. Tidak akan tersesat ketempat yang lainnya.
Dengan Alquran, manusia mengetahui:
untuk apa (tugas pokok) dia diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada-Nya (Adz Dzariat: 56).
Dengan Alquran manusia akan mengetahui apa fungsi hidupnya, yaitu sebagai khalifah yang bekerja untuk memakmurkan bumi alam sekitarnya. (2: 30; 6: 165)
Dan dengan Alquran manusia akan mengetahui tujuan hidupnya yaitu mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat (al Baqarah: 201).
Untuk mendukung tugas pokok, fungsi dan tujuan tersebut maka manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim) dan Allah juga menundukkan alam semesta ini untuk kebaikan manusia.
Salah satunya seperti dalam Al-Jatsiyah, 13: "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."
Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi diciptakan dan ditundukkan untuk kemaslahatan manusia. Ulama menjelaskan bahwa penundukan ini disebut taskhir, yang berarti Allah telah memudahkan alam semesta untuk dimanfaatkan oleh manusia.
Ustadz Hilmudin Sulani suatu saat mengajak saya mentadabbur ayat fi ahsani taqwim. Apa maknanya?
Manusia diciptakan dalam sebaik baiknya penciptaan karena:
Pertama, manusia diberi akal, dan dengan akal ini manusia belajar dan berilmu.
Kedua, Allah menciptakan manusia dengan imdad pancaindra yang akan memudahkan manusia mengelola alam sekitarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ketiga, ditundukkannya alam semesta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keempat, memberikan nikmat hidup berpasangan dan memiliki anak dan komunitas sosial.
Kelima, nikmat diturunkannya agama sebagai nikmat yang tertinggi. Karena dengan adanya nikmat agama ini kita bisa mengenal Allah, mengetahui tupoksi dan tujuan hidup manusia serta route map, peta jalan pulang ke kampung halamannya, surga jannatun na'im.
Pepatah Arab mengatakan, "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu", yang artinya "Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya.
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)
Alquran dan Kita (3): Cara Mengenal Allah
ALQURAN itu unik. Susunan surat surat dalam Alquran juga unik. Alquran dimulai dengan surat al Fatihah sebagai pembuka, surat yang bertema besar tentang Allah dan kekuasaannya atas alam semesta yang kemudian ditutup dengan surat An Nas yang bertema tentang Kekuasaan Allah dan manusia.
Padahal keduanya adalah surat Makiyah, surat yang diturunkan di kota Mekah diawal Islam sebelum hijrah. Begitupun dengan surat Al Kafirun yang disusun berdampingan dengan surat An Nashr, padahal jarak waktu diturunkannya sangat jauh, 15 tahun lebih.
Mengapa?
Ini karena, menurut Amru Khalid dalam buku "Khowatir Qur'aniyah", ayat ayat dalam setiap surat memiliki korelasi yang kuat. Setiap surat juga memiliki kesatuan tema dan tujuan.
Tentu masih panjang jawabannya. Semoga lain waktu insya Allah.
Alquran diawali dengan surat al Fatihah, "pembuka" sesuai dengan namanya. Ini adalah surat yang paling agung sebagaimana sebuah hadits: "Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Alquran. Sahabat bertanya, Surat apa itu wahai Rasulullah? Kemudian Rasulullah Saw membaca Al Fatihah sampai akhir surat..."
(Hr. Bukhari, Muslim dan lainnya)
Surat pertama ini diawali dengan ma'rifatullah (pengenalan tentang Allah) yang merupakan tema sentral dalam keseluruhan isi Alquran. Hal ini karena ma'rifatullah adalah ma'rifah (pengenalan) yang paling penting dalam kehidupan kita.
Sebab ma'rifatullah akan membawa kita untuk ma'rifah kepada yang lainnya seperti marifatur rasul, ma'rifatul insan, marifat pada alam semesta baik yang nyata maupun yang ghaib serta ma'rifah kepada hari akhirat. Juga ma'rifah terhadap jalan atau cara untuk ma'rifah terhadap semua hal tersebut.
Ketika kita berbicara tentang ma'rifatullah sesungguhnya kita bicara tentang Rabb, Ilah, Malik dan Asma' wa shifat. Yang dalam bahasa kita kadang semuanya diterjemahkan dengan kata "Tuhan", mungkin memang tidak ada padanan kata yang lebih pas selain kata "Tuhan".
"Rabb" dalam istilah al Quran bisa dipahami sebagai (Tuhan) Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Seperti yang dapat kita lihat dalam awal awal surat al Fatihah. Sedangkan "ilah" mengandung makna (Tuhan) Yang dicintai, Yang ditakuti dan sebagai tempat berharap serta yang kita rela didominasi oleh nya.
Sebagaimana dapat kita baca dalam 3 ayat pertama surat An-Nas dan ayat dan surat lainnya.
Malik, bahwa Allah adalah satu-satunya Raja yang berkuasa penuh atas seluruh alam semesta dan makhluk-Nya. Ini berarti Allah adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk menentukan hukum dan aturan bagi seluruh makhluk, dan seluruh makhluk wajib tunduk pada kekuasaan dan kehendak-Nya.
Adapun Asma' wa Shifat merujuk pada nama nama dan shifat Allah yang baik yang yang diungkapkan oleh al Quran (dan Sunnah). Meyakini bahwa nama dan shifat yang sempurna, yang tidak mungkin dimiliki dan tercandak oleh manusia dan makhluk lainnya.
Oleh karena itu ada riwayat yang mengatakan bahwa awal mula beragama adalah mengenal Allah (Awaluddin ma'rifatullah).
Dengan ma'rifatullah kita tidak saja akan mengenal Allah tetapi juga mengenal diri kita. Tentang dari mana kita, siapa kita, bagaimana kedudukan kita, apa misi hidup kita, apa tanggung jawab kita serta ke mana kita sesudah mati.
Allah berfirman dalam surat Muhammad, 19: "Ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu."
Ayat ini diawali dengan sighah amr (perintah), itu artinya kita wajib memahaminya sebagai perintah dan melaksanakannya. Dalam konteks ayat ini adalah perintah wajibnya memahami La ilaha ilallah.
Dengan ma'rifatullah kita juga akan mengetahui bahwa Allah adalah sumber ilmu, baik ilmu kauniyah (yang Allah bentangkan dalam alam semesta) maupun ilmu qauliyah (yang Allah wahyukan dalam al Quran dan kitab lainnya yang asli). Dalam Asma'ul husna, Allah disebut sebagai Al 'Alim (Maha Mengetahui) karena ilmunya tidak terbatas. Dia (Allah) mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi, yang terdahulu, yang sekarang dan yang akan datang, serta yang ghaib dan yang nyata sebagaimana firman Nya:
"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui semua yang ada di langit dan di bumi?" (Al Hajj: 70) "Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
(Al Hasyr: 22)
Ilmu Allah sangat luas dan tak terbatas. Allah berfirman dalam surat
Al khafi' 109: "Katakanlah (Muhammad), 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'"
Itulah mengapa imam Syafi'i mengatakan: "Setiap kali saya mempelajari satu ayat dari Al-Qur'an, saya merasa semakin bertambah kebodohan saya."
Ungkapan ini tentu bukan berarti beliau memang bodoh, tetapi menunjukkan bahwa semakin dalam seseorang mempelajari Al-Qur'an, semakin ia menyadari betapa luas dan dalamnya ilmu Allah, sehingga merasa diri masih sangat kurang dan perlu terus belajar.
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)