Oleh Gufron Azis Fuandi*
MUNGKIN kita pernah mendengar istilah
hedonic treadmill. Ini mirip, tetapi berbeda, dengan istilah yang sering kita dengar, body fitness treadmill alias merawat kebugaran tubuh. Untuk yang terakhir ini kita tidak akan kesulitan untuk menemukannya di tempat nge-gym.
Kedua istilah dikatakan mirip karena keduanya sama sama "merawat". Tapi yang dirawatnya berbeda, yang pertama merawat gaya hidup hedonis sedangkan yang kedua merawat kebugaran tubuh agar tetap bugar dan sixpack.
Hedone berasal dari bahasa Yunani yang berarti kesenangan. Sehingga hedonisme adalah gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas.
Penganut gaya hidup hedon meyakini bahwa kebahagiaan hanya bisa diperoleh dengan mencari kesenangan sebanyak mungkin. Oleh karena itu dalam bahasa gaul, hedon sering dipahami sebagai tindakan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan bagi diri sendiri.
Mereka tidak bisa membedakan antara kebahagiaan dengan kesenangan.
Jangan bicara surga setelah kematian. Karena bagi mereka gaya hidup hedonis itulah surganya. Mungkin masih lebih baik ungkapan Jaja Miharja, 50-an tahun yang lalu, "Muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga..."
Meskipun agak absurd, tetapi setidaknya masih ingat akhirat.
Sikap hidup
individualisme, konsumerisme, egois, pamer harta, mager, kurang tanggung jawab, boros, dan koruptif dalam berbagai bentuk adalah beberapa dampak negatif dari hedonic treadmill.
Saat ini hampir setiap hari kita mendapati postingan flexing glamor dalam bentuk makan makan, wisata, fashion serta berkendaraan mewah dan mahal tak perduli uang hasil keringat sendiri, keringat orang tuanya, bahkan hutang pinjol atau dari BLT. Yang penting happy.
Mungkin tidak semua orang sepakat bahwa pola hidup hedonis ini merupakan bagian dari gerakan ghazwul fikri (perang pemikiran) untuk melemahkan semangat berjuang dan berinfak kaum muslimin yang pada akhirnya akan memadamkan semangat jihad dan berkorban. Karena, kata ulama, tidak mungkin berkumpul semangat mencintai dunia dengan semangat mencintai kematian. Sebab kaidahnya, hubbudunya wa karahiyatul maut.
Apalagi Allah sudah memperingatkan:
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat dari perbuatannya)." (Al Hijr: 3)
Juga dalam ayat (al-hākumut-takāsur)
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu...
Saya teringat, sekitar beberapa tahun lalu, ada dua kawan silaturahmi ke rumah. Satu caleg terpilih dan satunya caleg tidak terpilih. Mereka datang minta nasihat. Mungkin mereka menganggap saya sudah tua, meskipun waktu itu rambut belum tumbuh uban.
Kepada caleg terpilih, waktu itu saya sampaikan, tetaplah tampil sederhana. Jangan merubah gaya hidup mengikuti teman temannya dari partai lain. Karena yang diinginkan oleh kader dan konstituen pemilih adalah melihat wakilnya tetap konsisten dan istiqamah memperjuangkan nilai perjuangannya yang bersih, peduli dan profesional.
Mereka, pemilih, bukan ingin melihat wakilnya memposting kegiatan kunker jalan jalan, makan makan atau penampilan glamor dengan sandang, pangan dan papan yang mewah dan baru. Meskipun itu sah dan halal. Tapi tetaplah ora ilok!
Kemudian, apabila terpaksa harus berubah gaya, jangan terlalu berlebih, nanti mbeloknya susah, kejauhan. Sebab tidak ada jaminan pada pemilu-pemilu berikutnya akan terus terpilih dan terpilih lagi, sehingga sedikit banyak ada biaya untuk bergaya.
Hidup itu sebenarnya murah bila sederhana, karena yang mahal itu gaya nya.
Standarnya, ikuti kepatutan umum. Kalau standar nabi Saw terlalu tinggi. Iman kita masih jauh. Tetapi juga jangan gayanya terlihat sederhana, tetapi jiwa dan otaknya kapitalis seperti orang itu...
Kesederhanaan hidup Rasulullah SAW itu asli, luar dalam bukan pencitraan. Sehingga tidak butuh validasi.
Malik bin Dinar RA, ia berkata:
"Rasulullah SAW tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu [maka beliau makan sampai kenyang]."
(Hr. Tirmidzi).
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bahkan berdoa meminta rezeki kepada Allah SWT sesuai kebutuhan pokoknya saja:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا
"Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya."
(Hr. Muslim)
Sebagai caleg terpilih harus ingat bahwa masyarakat menghargai orang yang omongannya benar dan dapat dipercaya. Jadi, Ojo lamis..., kata penyanyi Manthous.
Si mbah dulu ngendikan: Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono. Artinya, harga diri/kehormatan seseorang dari lidahnya (perkataan nya), dan harga diri badan dari pakaian (yang sesuai bukan glamor).
Saya dulu pernah menegur seorang kawan anggota DPRD kabupaten yang memposting fotonya di Fb saat didepan patung Merlion (air mancur patung kepala singa berbadan ikan) di
Singapore, agar ia cepat cepat menghapus postingan tersebut dan saya sampaikan postinganmu bagus dan menyenangkan bagimu tapi menyakitkan bagi pemilihmu.
Ada juga yang saya ingatkan postingannya saat kongkow dengan teman temannya yang nyebrang ke garbi. Karena itu juga tidak patut, ngopi sambil ketawa ketiwi dengan orang yang merendah orang tua dan guru kita.
Kedua perilaku diatas dalam bahasa sekarang dikenal dengan sebutan flexing.
Flexing adalah perilaku memamerkan kekayaan, harta, pencapaian, atau gaya hidup mewah di media sosial, yang tujuannya untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau membuat orang lain iri. Istilah ini sering dikaitkan dengan budaya hedonisme, dan dapat menimbulkan dampak negatif seperti kesenjangan sosial dan potensi kecemburuan di antara pengikutnya.
Mengapa orang melakukan flexing?
Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan validasi secara eksternal, dari teman teman lingkarannya, tentang pencapaiannya.
Padahal orang yang benar benar sukses pencapaiannya, tidak perlu posting flexing untuk mendapatkan validasi. Bahkan bagi mereka, orang yang gemar flexing nongkrong makan makan atau jalan jalan misalnya sesungguhnya itu sedang menunjukkan bahwa sebenarnya dia baru saja mentas dari makan makanan seadanya. Jadi nongkrongnya itu adalah eforia. Begitupun jalan jalan, fashion dan sejenisnya. Itu juga baru mentas.
Apalagi bila flexingnya dari barang pinjaman atau milik orang, misalnya ada mobil sport yang sedang parkir terus numpang foto. Biar dapat validasi!
Bagi orang-orang yang betul betul kaya, bukan OKB, mereka tidak membutuhkan validasi. Sehingga nggak perlu flexing.
Flexing adalah salah satu bentuk kesombongan. Terutama kesombongan bagi orang yang sebenarnya tidak mampu.
Ini mengingatkan dengan sabda Rasulullah Saw:
"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh-Nya, dan baginya adzab yang pedih, (yaitu) orang yang sudah tua berzina, penguasa pendusta, dan orang miskin yang sombong" (HR. Muslim).
Padahal Islam mengajarkan:
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung,"
(Al-Isra: 37).
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
--------