Helo Indonesia

Way Kambasku Sayang, Hutan Taman Nasionalku Malang

Helo Lampung - Nasional -> Peristiwa
Minggu, 9 April 2023 13:48
    Bagikan  
Way Kambasku Sayang, Hutan Taman Nasionalku Malang

(Foto Khairuddin/ Heloindonesia Lampung)

Oleh Khairuddin *

SIAPA yang tak kenal Taman Nasional Way Kambas (TNWK)? Semua orang pasti tahu, tak hanya orang Kabupaten Lampung Timur, tapi hingga keluar negeri sebagai kawasan hutan lindung dan konservasi, lflora dan fauna.

Di dalam kawasanya, tak sedikit pakar satwa dan  lingkungan Internasional yang tertarik mempelajari  isi yang terkandung di dalam rimba belantara lebih dari 125 ribu hektar itu.

Namun, di sisi lain, dengan keberagaman flora dan fauna di dalamnya, TNWK  tak luput dari incaran pelaku kejahatan.

Tak peduli resiko terhadap dirinya dan keberlangsungan makhluk hidup di dalamnya, pelaku tak segan-segan meluluhlantakkan apa saja. Yang penting, mereka mendapatkan uang.

Pencurian kayu ( ilegal logging), perburuan satwa ( ilegal trade), pencurian ikan (ilegal fishing), kebakaran hutan hingga konflik gajah liar dengan manusia dan segudang masalah, bukan hal baru yang terjadi di TNWK.

Tapi, beragam masalah tersebut telah berlangsung sejak dua dekade silam. Petugas  keamanan yakni polisi kehutanan ( polhut) sebagai garda terdepan siaga 24 jam.

Namun, seketat- ketatnya penjagaan, pelaku kejahatan terkesan lebih piawai dan menggasak apa saja pada kawasan tersebut.

"Jika dihitung, pelaku kejahatan di TNWK yang ditangkap jumlahnya ratusan. Tapi, mereka nggak jera juga," ungkap teman.

Flora dan fauna dalam kawasan taman nasional tak hanya menggoda rakyat biasa. Tapi, hal itu pernah mencoreng institusi militer.

Pada 2002 silam, oknum militer berpangkat perwira tinggi bersama "gerombolannya" ditangkap aparat ketika sedang berburu rusa.

Pelaku berpangkat jenderal bersama komplotannya kala itu sempat digelandang ke polres setempat.

Dari tangan pelaku, petugas menyita beberapa ekor rusa ukuran besar telah meregang nyawa akibat diterjang peluru pelaku.

Tapi apa lacur, kasus yang sempat menggegerkan dunia internasional itu mandek di tengah jalan.

Pascaditangkapnya sejumlah oknum militer kala itu, tak menyurutkan aksi pelaku lain. Pencurian kayu, pencurian ikan, pencurian satwa dan kejahatan lain di kawasan TNWK masih saja terjadi.

Dan, tak sedikit pelaku ditangkap dan diadili. Akibat, masih sering terjadinya kejahatan, kondisi TNWK pun kian memprihatin. Tak sedikit spesies fauna dan tanaman keras, kini nyaris tak dijumpai lagi pada kawasan itu.

Pohon nibung misalnya. Pohon yang mirip pohon pinang yang pernah memadati kawasan hutan, kini sulit dijumpai. Pelaku terkesan leluasa membabat habis pohon yang digunakan sebagai bahan pokok membuat bagan bagi nelayan itu.

Selain pohon nibung, masih banyak lagi tanaman keras lain luluh lantak akibat ulah pelaku kejahatan. Akibatnya, beberapa titik kawasan nasional tak lebih mirip lapangan sepak bola.

Ketika bernasib apes, pelakupun berhasil dibekuk. Tapi hal itu masih saja tak membuat jera pelaku lain. Mereka masih saja mengeksploitasi secara liar pada kawasan tersebut. Apa saja yang masih tersisa di dalam hutan mereka sikat habis.

Akhir-akhir ini masalah barupun terjadi pada kawasan nasional. Puluhan gajah liar yang selama ini berdiam diri dalam hutan, kini kerapkali merangsek ke lahan pertaian dan peladangan warga.

Satwa bertubuh tambun itu tak hanya melahap tanaman petani, tapi memorakporandakan lahan. Celakanya, akibat peristiwa itu tak jarang terjadi konflik antara hewan berbelalai itu dengan manusia. Dari konflik itu, tak sedikit nyawa melayang.

Guna mengatasi konflik, pemerintahpun turun tangan. Selain diskusi dengan warga yang tinggal langsung dengan kawasan hutan, pemerintahpun membangun puluhan kilometer kanal atau tanggul yang berfungsi mencegah agar gajah tak melintas.

Sayangnya, anggaran yang dikucurkan untuk membangun kanal, tak jarang dijadikan bancakan  oknum pemangku kebijakan. "Jika kondisi kanal baik, gajah liar dapat dihalangi untuk melintas ladang warga," ujar Sukatmoko, Humas Balai TNWK.

Guna mencegah konflik, pemerintahpun terus menormalisasi kanal yang melintasi desa penyangga di sejumlah kecamatan. Tapi lagi-lagi  kawanan gajah liar masih saja leluasa merangsek peladangan warga.

Terjadinya konflik gajah liar yang berujung jatuhnya korban, kian menambah deretan panjang masalah yang terjadi pada kawasan nasional tersebut.

Lantas, sudah sejauh mana campur tangan negara mengatasi ragam masalah tersebut. Apakah negara akan membiarkan TNWK akan terus porak poranda dijarah pelaku kejahatan. Atau sebaliknya.

Pemerintah dan aparat bertindak tegas dan menghukum berat para pelaku. Apalagi, di dalam kawasan itu, ada sejumlah lembaga yang menjaga kelestarian satwa. Suaka Rhino Sumatera (SRS),

Suaka Tiger Sumatera serta lembaga lain adalah lembaga berkompeten menjaga satwa yang nyaris punah itu. Semoga TNWK yang jadi kebanggaan nasional dan internasional tetap terjaga dengan baik dan jadi tanggung jawab bersama. Tabik.
( Khairuddin)