Helo Indonesia

Histeria Malam Takbiran Iyaya Mirza Bersama Rakyatnya

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Senin, 31 Maret 2025 05:16
    Bagikan  
MALAM TAKBIRAN
HELO INDONESIA

MALAM TAKBIRAN - Gubernur Mirza menyapa rakyatnya di Plaza Ramayana, Minggu malam. (Foto Mizzamil)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Langka ditemukan era sebelumnya, pemandangan menyentuh: kehadiran fisik sosok pemimpin daerah ditengah-tengah rakyatnya yang lagi berjibaku berjualan maupun berbelanja pada kesempatan terakhir hari 30 Ramadan 1446 H, bertepatan malam takbiran Idul Fitri, tersaji.

Saat orang nomor satu di Lampung: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal karib Iyay Mirza, mengajak serta Kapolda Lampung Irjen Helmy Santika didampingi Wakapolda Brigjen Ahmad Ramadhan dan Kabid Humas Kombes Yuni Iswandari Yuyun, Walikota Bandarlampung Eva Dwiana, Kapolresta Bandarlampung Kombes Alfret Jacob Tilukay, dan Dandim 0410/KBL Kolonel Arh Tan Kurniawan.

Mereka  bersama-sama dalam balut kehangatan seorang pemimpin, hadir walau sejenak menyapa dan membaur bersama ribuan warga di pusat perbelanjaan Plaza Ramayana, Jl Raden Intan, Enggal, Bandarlampung. Minggu (30/3/3025) malam.

Campur baur: batita dan balita, para belia, remaja, warga dewasa hingga manula baik pedagang maupun pembeli berjubelan nun ekspresi wajah mereka terekam diliputi rasa senang dan bahagia, sebagian berjingkrakan; demi mengetahui, menemukenali, melihat --dari dekat, berhasil mendekat, tak tunggu lama tangannya pun terjabat dengan sosok pemimpin muda Lampung kharismatik itu.

Tak bermaksud hiperbolik, nun demikianlah suasana keakraban pemimpin dan rakyatnya tersebut terekam jelas. Di momen langka. Setahun sekali. Di malam takbiran. Ditengah suasana padat pusat perbelanjaan.

Tempat bertemunya mereka, di kesempatan terakhir (sebab esoknya tiba hari Lebaran): rakyat pedagang yang demi terjaganya harkat diri, dalam sengal napas letih menantikan para pembeli, barangkali masih kurang atau masih tanggung meraup untung, dan tengah berjuang berdagang halal hingga jam buka penghabisan di ujung bulan suci.

Serta, rakyat pembeli yang kurang lebih sama berjibaku berbelanja barang selembar dua lembar baju baru atau satu stel pakaian baru buat dipakai Lebaran esok, dan baru sempat mereka beli lantaran uangnya baru genap didapat di hari terakhir Ramadan. Ini.

"Iyay Mirza! Pak Mirza! Pak Gubernur! Pak! Pak Kapolda! Bunda, Bunda Eva!" demikian cuplikan bebunyian sapa riuh mereka, tanpa diminta, histeria Minggu malam di Ramayana.

Ada yang setengah memekik, bahkan sesekali seperti jelas terdengar ada pula yang sampai lengkingkan pekik "Hidup Mirza!" demi turut tersapa. Yang beruntung bisa mendekat, ada pula yang spontan mengajak sang gubernur berswafoto bersama.

Untuk apa Gubernur Mirza capek-capek gitu? Pertanyaan yang cuma butuh dijawab dengan meminjam judul lagu Dewa 19. Hadapi Dengan Senyuman.

Pastinya, sang gubernur, sekompak walikota, keduanya hadir menyajikan kebaruan nuansa. Kekompakan para pemimpin daerah, di bumi manapun, adalah tetanda baik sinergitas.

Bekerja bersama guyub rukun atau dalam istilah Lampung yakni Sakai Sambayan, itulah syarat material kunci sukses pencapaian bukan saja bagi visi dan misi serta program kerjanya sebagai pemimpin. Lebih dari itu, juga bagi pencapaian tujuan bernegara.

Dwitunggal Soekarno-Hatta saja, tak cukup berdua hingga keduanya kemudian dapat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Gedung Pegangsaan 56 Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat 17 Agustus 1945 silam, bertepatan dengan 9 Ramadan 1367 Hijriah. Pun hingga Republik Indonesia dapat untuk pertama kalinya ber-Lebaran Idul Fitri pada 8 September 1945 bertepatan 1 Syawal 1367 H.

Dan histeria Plaza Ramayana, Minggu malam, mengartikulasikan semangat itu. "Senang, selama ini liat di banner, tadi salaman," ujar seorang belia, yang sempat tersapa Mirza. Begitu polosnya jawaban. Begitu sumringah.

"Selamat datang Bunda Eva. Oh ada Pak Mirza juga, selamat datang pak Gubernur!" lantang sumber suara, lantai atas plaza.

Kapolda Helmy, jago ngegitar jago nyanyi ini, tak ketinggalan. Dia pun larut menyapa. Tak ada sekat. Kamu jelata, aku pejabat. Tak ada.

Yang ada, "kamu puasanya dapat berapa hari?" tanya spontan Kapolda, tetiba, kepada seorang belia yang sigap menjawab. Lalu sejurus terjabat tangan dengan sang jenderal.

Aksi Gubernur Mirza, Kapolda Helmy, Bunda Eva dan lainnya ini membersamai rakyatnya pejuang Ramadan sekaligus pejuang Lebaran. Menyapa sesiapapun yang dapat dan sempat mereka sapa. Menjabat erat tangan mereka. Bertanya mulai kabar, lalu persiapan Lebaran, hingga spill tipis-tipis serap aspirasi dirinai jawaban bijak "sabar ya" dari sang gubernur, dalam derajat tertentu, itu guna negara hadir.

Terpisah sebelumnya, mereka yang terhimpun dalam Satgas Idulfitri 1446 H/2025 tersebut meninjau kegiatan takbiran di dalam kota. Satgas terbagi sejumlah tim terpisah.

Dan usai mengikuti konferensi video kesiapan menyambut Lebaran bersama pemerintah pusat, Gubernur Mirza beserta rombongan menyempatkan hadir menyapa di Ramayana.

Potret keteladanan para pemimpin, tersaji jua di Ramadan hari terakhir di Bumi Lampung.

Pembaca, Selamat Idul Fitri. (Muzzamil)