Helo Indonesia

Dr. Budiyono, SH, MH Menjaga Mimpi tentang Universitas Lampung

Herman Batin Mangku - Ragam
1 jam 2 menit lalu
    Bagikan  
UNILA
HELO LAMPUNG

UNILA - Dari lorong FH Unila, Dr. Budiyono, SH, MH melangkah menuju mimpi Universitas Lampung.

Catatan Hajim
Wartawan kompeten PWI

PAGI masih muda ketika Dr. Budiyono, SH, MH, pakar hukum tata negara, berjalan menyusuri selaksar menuju gedung Fakultas Hukum Universitas Lampung. Langkahnya tenang. Sesekali ia berhenti menyapa mahasiswa, menanyakan skripsi yang belum selesai atau sekadar mendengar cerita tentang biaya kos dan tugas kuliah yang menumpuk.

Bagi sebagian mahasiswa, ia bukan hanya dosen. Ia adalah tempat bertanya ketika kampus terasa rumit dan masa depan tampak kabur. Namun, tak banyak yang tahu apa lagi paham tentang jejak perjalanan dirinya, lelaki kelahiran Tanjungkarang, 19 Oktober 1974.

Dia tumbuh dari keluarga sederhana yang percaya pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah hidup. Ayahnya, Zaini Muqodam, dan ibunya, Harleni, adalah pensiunan pegawai negeri yang membesarkan anak-anak mereka dengan kesederhanaan, disiplin, dan kejujuran.

undefined

Di rumah kecil itulah Budiyono belajar bahwa hidup bukan soal seberapa tinggi jabatan diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

Ia tumbuh bukan di tengah kemewahan, melainkan dalam suasana yang akrab dengan kerja keras. Dari sang ayah, ia belajar memegang prinsip. Dari ibunya, ia belajar arti ketulusan membantu sesama. Nilai-nilai itu melekat kuat hingga hari ini.

Ketika memasuki Fakultas Hukum Universitas Lampung pada era 1990-an, Budiyono muda tak hanya sibuk mengejar nilai akademik. Ia aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum dan menjadi bagian dari dinamika gerakan mahasiswa yang kala itu penuh idealisme.

undefined

Budiyono, sosok egaliter

Di ruang-ruang diskusi kampus, ia belajar menyampaikan gagasan tanpa harus meninggikan suara. Di organisasi, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang tampil paling depan, tetapi tentang kesediaan mendengar banyak orang.

Pengalamannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ikut membentuk cara pandangnya tentang kehidupan: bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan pengabdian sosial.

Perjalanan akademiknya berlangsung panjang dan sunyi. Setelah meraih gelar Sarjana Hukum pada 1998, Budiyono melanjutkan pendidikan Magister Hukum hingga lulus pada 2004. Semangat belajarnya belum berhenti. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Padjadjaran pada 2012.

Namun bagi Budiyono, gelar akademik bukanlah panggung kebanggaan. Sejak menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung pada 2004, ia memilih hidup di dunia yang sederhana: mengajar, membimbing mahasiswa, berdiskusi, meneliti, lalu kembali mengajar lagi.

Ia dikenal tidak membangun jarak dengan mahasiswa. Pintu ruangannya terbuka bagi siapa saja. Banyak mahasiswa datang bukan hanya membawa lembar konsultasi skripsi, tetapi juga kegelisahan hidup yang kadang tak bisa diceritakan kepada siapa pun.

Di mata rekan sejawat, Budiyono dikenal sebagai pribadi yang tenang dan jarang terlibat konflik terbuka. Ia lebih memilih menjawab perdebatan dengan kerja dan konsistensi.
Ketika namanya mulai diperbincangkan sebagai sosok yang layak menyandang gelar profesor,

Budiyono tidak larut dalam polemik. Ia percaya kehormatan akademik tidak hanya diukur dari titel, tetapi dari pengabdian yang terus hidup di tengah masyarakat dan kampus.

“Yang penting tetap bekerja dan memberi manfaat,” begitu prinsip yang sering ia pegang.

Di balik aktivitas akademiknya, Budiyono adalah seorang ayah dan suami yang hangat. Bersama istrinya, Titiek Fitriyani, yang juga mengabdi sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, ia membangun keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai nilai utama.

Anak sulungnya kini menjadi jaksa. Putrinya melanjutkan studi Magister Hukum di Universitas Padjadjaran. Sementara anak bungsunya masih menempuh pendidikan. Bagi Budiyono, keberhasilan bukan hanya tentang capaian pribadi, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai kehidupan bisa diwariskan kepada anak-anaknya.

Kini, di tengah dinamika pemilihan Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031, nama Budiyono mulai banyak diperbincangkan. Dukungan datang dari berbagai arah: mahasiswa, alumni, akademisi, hingga tokoh masyarakat.

Mereka melihat sosok dosen bersahaja itu sebagai figur yang memahami denyut kampus dari bawah — bukan sekadar birokrasi, tetapi juga kegelisahan mahasiswa, perjuangan dosen muda, dan harapan besar masyarakat terhadap dunia pendidikan.

Di tengah tantangan perguruan tinggi yang semakin kompleks, Budiyono membawa gagasan yang sederhana namun kuat: kampus harus kembali menjadi rumah ilmu pengetahuan yang bersih, manusiawi, dan berdampak bagi masyarakat.

Salah satu mimpinya adalah membangun Kampus II Universitas Lampung sebagai smart and green campus di lahan sekitar 150 hektar — ruang masa depan yang diharapkan menjadi pusat riset, inovasi, dan kolaborasi lintas bidang.

Baginya, Universitas Lampung tidak boleh hanya menjadi tempat mencari ijazah. Kampus harus melahirkan harapan, gagasan, dan keberanian untuk membangun daerah. Karena itu, ia ingin memperkuat riset, tata kelola yang profesional, serta jejaring dengan pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi nasional maupun internasional.

Namun di balik semua gagasan besar itu, Budiyono tetaplah sosok yang sama: dosen yang berjalan tenang di lorong kampus, menyapa mahasiswa satu per satu, lalu kembali masuk ke ruang kelas untuk mengajar.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang melihatnya bukan sekadar calon rektor. Melainkan seorang akademisi yang tumbuh dari kesederhanaan, ditempa oleh perjuangan organisasi, lalu memilih mengabdikan hidupnya untuk pendidikan.

Dan dari perjalanan panjang yang sunyi itulah, harapan baru tentang masa depan Universitas Lampung perlahan tumbuh. ***