SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Suasana khusyuk menyelimuti Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah di kompleks Universitas Muhammadiyah Semarang pada malam tarawih perdana Ramadan 1447 H.
Sekitar 500 jemaah memadati masjid untuk menunaikan salat tarawih, menandai awal perjalanan spiritual di bulan suci dengan semangat kebersamaan dan penguatan iman.
Salat tarawih dipimpin oleh Imam Muhammad Malikus Sholeh Al Hafidz, sementara tausiyah disampaikan oleh Dr H Karnadi Hasan MPd, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah.
Dalam ceramahnya, Karnadi menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum pembentukan insan bertakwa sebagaimana pesan QS Al-Baqarah ayat 183–185. Ia menjelaskan bahwa puasa bertujuan membentuk pribadi muttaqin, memperdalam pemahaman (ta’lamun), dan menumbuhkan rasa syukur (tasykurun).
Puasa, menurutnya, bukan sekadar ibadah fisik, tetapi proses pendidikan spiritual yang menumbuhkan kesadaran, empati, dan kedewasaan iman.
Rahmat Allah
Ia juga mengingatkan bahwa makna dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu neraka di bulan Ramadan mencerminkan keluasan rahmat Allah yang membuka peluang kebaikan seluas-luasnya bagi umat manusia.
Tarawih malam itu berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Doa penutup menggema sebagai harapan bersama agar Ramadan menjadi jalan menuju peningkatan iman dan kualitas kemanusiaan.
Pelaksanaan tarawih ini mengikuti keputusan awal Ramadan yang ditetapkan oleh Muhammadiyah, yang melalui metode hisab menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 Masehi.
Sementara itu, pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan pada hari Kamis. Perbedaan ini menjadi cerminan dinamika ijtihad dalam khazanah Islam Indonesia—bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai ruang harmonisasi.
