LAMTIM, HELOINDONESIA.COM — Rasa syukur dan haru menyelimuti masyarakat desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Setelah menanti 43 tahun, 38 desa akhirnya merasakan perhatian nyata pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam penyelesaian konflik antara manusia dan satwa liar.
Para kepala desa daerah penyangga mengungkapkan kelegaannya tersebut pada Forum Rembuk TNWK bertepatan dengan kegiatan Halal bi Halal Idul Fitri 2026 bersama masyarakat. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni yang hadir menyampaikan salam Presiden kepada masyarakat.
Mereka mengatakan sejak tahun 1983, ketika gajah digiring dari berbagai lokasi ke TNWK, hewan besar yang dilindungi tersebut kerap merusak lahan pertanian dan permukiman warga. Bahkan, terakhir, seorang kepala desa tewas oleh amukan gajah liar ketika masuk ke desanya.

Lewat Menhut Raja Juli Antoni, warga 32 desa penyangga menitipkan Terima kasih kepada Presiden Prabowo yang kongkrit memecahkan masalah 43 tahun mereka dengan satwa liar TNWK (Foto Diskominfotik Lampung)
“Bapak Presiden menyampaikan salam hormat sekaligus ucapan Selamat Idul Fitri kepada seluruh masyarakat. Ini menjadi bukti bahwa negara hadir dan mendengar aspirasi masyarakat yang telah lama disuarakan,” ujar Raja Juli Antoni di Gedung RS Gajah Pusat Latihan Gajah TNWK, Kamis (26/3/2026).
Ia menegaskan, pemerintah pusat kini serius menangani persoalan yang selama puluhan tahun menjadi keluhan masyarakat, khususnya konflik antara manusia dan gajah liar yang kerap merusak lahan pertanian warga.
Menhut halal bi halal didampingi oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Pangdam XXI Radin Inten Mayjend TNI Kristomei Sianturi, Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, dan unsur Forkopimda setempat.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa langkah percepatan pembangunan pagar dan tanggul pembatas di kawasan TNWK merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah.
Menurutnya, aspirasi masyarakat yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun akhirnya mendapat respon cepat dari Presiden. “Ini bukan persoalan baru. Sudah puluhan tahun masyarakat hidup dalam bayang-bayang konflik. Alhamdulillah, di era Presiden Prabowo, penyelesaiannya dipercepat,” kata Gubernur.

Ia menjelaskan, rencana awal pembangunan tanggul sepanjang 11 kilometer kini berkembang menjadi sekitar 138 kilometer, menyesuaikan luas wilayah terdampak. Bahkan, target penyelesaian yang semula direncanakan hingga 2027–2028 diminta untuk dipercepat.
Sementara itu, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyebut kebijakan ini sebagai jawaban atas harapan panjang masyarakat di 38 desa penyangga, termasuk 15 desa yang terdampak langsung konflik.
“Selama 43 tahun masyarakat menunggu solusi konkret. Hari ini kami bisa merasakan bahwa negara benar-benar hadir. Masyarakat sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden,” ujarnya.
Ia optimistis pembangunan pagar dan tanggul pembatas akan menjadi solusi jangka panjang untuk meminimalisir konflik antara manusia dan satwa, khususnya gajah Sumatera yang populasinya diperkirakan lebih dari 200 ekor di kawasan TNWK.
Baca juga: Gubernur Mirza Bersyukur Presiden Prabowo Kucurkan Rp 839 Miliar untuk TNWK
Baca juga: Prabowo Kick Off 138 Km Pagar TNWK, Warga dan Gajah Liar Bakal Damai Berdampingan
Forum ini juga menjadi simbol kebangkitan harapan baru bagi masyarakat sekitar, yang selama ini hidup berdampingan dengan risiko konflik.
Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, serta seluruh pemangku kepentingan, masyarakat kini menatap masa depan dengan lebih optimistis — bukan lagi dalam bayang-bayang ancaman, melainkan peluang untuk hidup aman, sejahtera, dan harmonis dengan alam.
Forum Rembuk TNWK turut dihadiri unsur Forkopimda, TNI-Polri, tokoh masyarakat, LSM, serta perwakilan desa dari Lampung Timur dan Lampung Tengah.
Pemerintah berharap, sinergi yang terbangun ini menjadikan Taman Nasional Way Kambas sebagai contoh nasional dalam pengelolaan kawasan konservasi yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat. (Diskominfotik Lampung)
