LAMTIM, HELOINDONESIA.COM — Selama 43 tahun, konflik gajah liar versus manusia terjadi dengan 38 desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK): ladang yang luluh lantak, malam-malam yang dipenuhi ketakutan, hingga nyawa yang melayang—baik dari manusia maupun satwa yang seharusnya dilindungi.
Kini, kisah pilu tersebut bakal jadi catatan sejarah. Presiden Prabowo memulai pembangunan pagar pembatas sepanjang 138 kilometer dengan daerah penyangga TNWK sebagai langkah nyata untuk mengakhiri konflik yang sangat berkepanjangan dan menguras emosi tersebut.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyalami warga penyangga TNWK (Foto Diskominfotik Lampung)
Bukan sekadar proyek infrastruktur, pembangunan ini menjadi simbol berakhirnya luka lama yang diwariskan lintas generasi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memulai pembangunannya dengan ditandai pembukaan selubung pembatas TNWK, Kamis (26/3/2026).
Dia didampingi oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Pangdam XXI Radin Inten Mayjend TNI Kristomei Sianturi, Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, dan unsur Forkopimda setempat.
Menurut Raja Juli Antoni, pembangunan awalnya hanya diusulkan masyarakat sepanjang 11 kilometer pada November 2025. Namun, setelah dikaji secara menyeluruh, Presiden Prabowo Subianto menilai langkah tersebut belum cukup menjawab akar persoalan.
“Kalau hanya 11 kilometer, konflik tidak akan selesai. Ini masalah yang sudah berlangsung selama 43 tahun—menimbulkan korban jiwa, merusak lahan pertanian, dan menahan laju kehidupan masyarakat,” ujarnya pada Forum Rembuk TNWK, Kamis (26/3/2026).

Dari sanalah keputusan besar itu lahir. Panjang pagar diperluas menjadi sekitar 138 kilometer—sebuah garis tegas yang diharapkan bukan hanya membatasi ruang, tetapi juga memisahkan konflik dari masa depan.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menuturkan bahwa gagasan awal memang sederhana, lahir dari keresahan masyarakat desa penyangga. Namun, perhatian pemerintah pusat mengubahnya menjadi solusi yang lebih menyeluruh.
“Konflik ini sudah terlalu lama. Bukan hanya soal lahan, tetapi tentang rasa aman dan keberlangsungan hidup masyarakat. Keputusan memperluas pembangunan ini menjadi bukti keseriusan pemerintah,” ujarnya.
Selama puluhan tahun, masyarakat hidup dalam bayang-bayang yang sama: siang menanam, malam berjaga. Tanaman singkong, padi, dan jagung yang menjadi tumpuan hidup kerap hancur dalam semalam. Di sisi lain, gajah-gajah kehilangan ruang jelajahnya, terdorong masuk ke wilayah manusia.
Dua dunia yang seharusnya berdampingan, justru saling berbenturan. Dengan dimulainya pembangunan pagar ini, secercah harapan mulai tumbuh. Bagi masyarakat, ini adalah kesempatan untuk kembali mengolah tanah tanpa rasa cemas. Bagi gajah, ini adalah batas yang menjaga mereka tetap di habitatnya.
Baca juga: Setelah 43 Tahun, 38 Desa Sekitar TNWK Bersyukur Prabowo Atasi Konflik Satwa Liar vs Manusia
Lebih dari itu, pembangunan ini juga membuka jalan baru bagi kehidupan desa. Sebanyak 27 desa penyangga akan menjadi fokus pengembangan, dengan potensi komoditas seperti madu hutan, serai, hingga pengembangan ekonomi berbasis konservasi.
Secara teknis, pagar akan dibangun menggunakan konstruksi baja dengan kombinasi pipa berdiameter besar dan sistem penahan gaya yang dirancang khusus untuk menghadapi tekanan gajah. Teknologi ini telah melalui uji kekuatan, sehingga diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang efektif.
Pemerintah menargetkan pembangunan rampung dalam waktu 3 hingga 4 bulan. Program ini juga didukung skema pendanaan campuran (blended finance), melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan lembaga non-pemerintah, guna memastikan keberlanjutan sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Ke depan, kawasan sepanjang pagar bahkan berpotensi menjadi jalur ekonomi baru—dari budidaya madu hingga wisata berbasis masyarakat.
Namun, lebih dari segala hitungan ekonomi dan teknis, ada satu hal yang paling penting: harapan akan damai.
Setelah 43 tahun konflik, pagar ini bukan sekadar pembatas. Ia adalah penanda bahwa manusia dan alam akhirnya belajar saling menjaga jarak, demi tetap bisa hidup berdampingan.
Dan di antara deru pembangunan itu, perlahan, ketakutan yang dulu akrab—mulai berubah menjadi rasa tenang yang telah lama dirindukan. (Diskominfotik Lampung)
