Helo Indonesia

Sambut Pemilu 2024, Benny Ajak Masyarakat Miliki Literasi Digital

Minggu, 2 Juli 2023 11:56
    Bagikan  
Sambut Pemilu 2024, Benny Ajak Masyarakat Miliki Literasi Digital

Perwakilan BPIP Antonius Benny Susetyo saat menyampaikan materi dalam Sosialisasi 4 Pilar Kebangssa

MALANG, HELOINDONESIA.COM - Seminar Sosialisasi Empat Pilar Konsensus Kebangsaan diadakan di Gereja Sidang Jemaat Alah (GSJA) Maranatha Family, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu 1 Juli 2023.


Seminar tersebut menghadirkan anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy, Antonius Benny Susetyo selaku perwakilan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Chrysta Andreas (pendeta), sebagai narasumber.

Baca juga: Peringati Hari Bhayangkara, Polres Purbalingga Bersihkan Tempat Ibadah dan Distribusi Air Bersih


Acara ini dimoderatori oleh Tri Wahyuni dan dihadiri oleh 350 peserta yang terdiri atas umat Kristen di Kota Batu dan sekitarnya.
Andreas Eddy membuka acara tersebut dengan berbagai pernyataan.
"Harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana demokrasi Pancasila kita ini dapat menjadi pegangan dalam menghadapi pesta demokrasi tahun 2024," ujarnya.

"Penting bagi kita semua menjadikan 4 Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinekka Tunggal Ika, dan NKRI, sebagai pedoman menghadapi pesta demokrasi ini. Kita jangan terpolarisasi. Mari jadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang lebih dewasa dan betul-betul bisa mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045," ajaknya, seraya membuka seminar.


Antonius Benny Susetyo dalam paparannya menyatakan bahwa demokrasi Pancasila itu menjunjung tinggi kemanusiaan.
Demokrasi Pancasila itu, lanjut dia, bicara rasa, rasa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Rasa ketuhanan terwujud dalam rasa cintanya kepada Tuhan, sehingga rasa kemanusiaan itu ada, mencintai Tuhan berarti mencintai sesamanya. Mereka menjunjung tinggi martabat manusia, dan manusia tidak direduksi menjadi alat produksi.


''Hukum rimba tidak berlaku, yang ada hukum melindungi semua orang, sehingga tercipta persatuan, dan karena martabat manusia dianggap tinggi, maka keadilan, dengan hukum melindungi semua orang, tercipta. Itulah demokrasi Pancasila," jelasnya.


Pakar komunikasi politik ini menunjuk pada tantangan dalam menjalankan demokrasi Pancasila di masa ini.
"Masyarakat harus sadar bagaimana melihat media sosial. Media sosial seringkali menawarkan persepsi, bukan kebenaran. Persepsi belum tentu fakta, saat terus-menerus persepsi tanpa kebenaran ditawarkan, maka persepsi itu menjadi kebenaran," tuturnya.
Benny, sapaan akrabnya, mengajak peserta untuk memiliki kemampuan memilah informasi yang ditawarkan.

Konsensus Kebangsaan

Masyarakat, tandasnya, harus memiliki literasi digital, kritis, dan mengerti konsensus kebangsaan. Masyarakat seharusnya bisa menyatakan mana yang benar dan mana yang hoaks, bukan ditelan mentah-mentah (informasi) dan dianggap sebagai kebenaran.


''Kesadaran digital dan kritis serta konsensus kebangsaan menjadi sangat penting dalam era yang penuh kebohongan ini. Demokrasi Pancasila tidak boleh seharusnya menghancurkan karakter hidup berbangsa," tandasnya.

Baca juga: Tim Petrik Semar USM Lakukan Survei Lokasi Desa Binaan Tambak Lorok

Dalam menyambut pemilu 2024, budayawan dari Malang ini menyerukan agar peserta menjadi pemilih yang cerdas.

"Pemilih yang cerdas kritis, sadar literasi media dan kebangsaan, serta sadar dapil dan calon-calon serta peluangnya. Jangan karena belas kasih, atau rasa kedekatan, atau karena rupawannya; lihat rekam jejak, lihat cara kerjanya, lihat program-programnya, lihat peluang kemenangannya."

"Kalau salah pilih pemimpin, kita akan mengalami kegagalan. Jangan mudah kesengsem, tetapi lihat semuanya. Jangan sampai kita gagal menyambut tahun Indonesia emas 2045," tutupnya.

Chrysta Andreas, dalam paparannya, mengajak untuk peserta, yang merupakan umat Kristen, untuk terlibat dalam kehidupan politik. (Aji)