Helo Indonesia

Kiprah Amin Fauzi AT, Sang Penjaga Nyala Api Karang Taruna Lampung

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Senin, 6 Juli 2026 15:48
    Bagikan  
KARANG TARUNA
HELO LAMPUNG

KARANG TARUNA - Fauzi AT

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Tidak semua orang mampu mengabdikan dirinya pada organisasi sosial kemasyarakatan selama puluhan tahun. Lebih sedikit lagi yang tetap dikenang bukan karena jabatan yang pernah disandang, melainkan karena ketulusan dalam membina dan menggerakkan orang lain dalam organisasi.

Sosok itu ada pada Drs. H. Amin Fauzi AT, SE MBa (68), 3 Januari 1958, salah seorang kader senior Karang Taruna yang pernah mendatangkan Presiden ke-2 Soeharto untuk meresmikan Desa Hanura, Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran, sebagai Desa Karang Taruna pada 26 September 1996.

Pada masanya, Amin Fauzi pernah menjabat ketua Karang Taruna Lampung hingga Nasional dan masih menjadi wakil ketua Majelis Pertimbangan Karang taruna. Dirinya sempat memeroleh piagam terbaik sebagai tokoh Karang Taruna nasional dari Presiden Soeharto.

Baca juga: Sesepuh Karang Taruna Lampung Turun Gunung, Ingin Kembalikan Kejayaan Wadah Anak Muda Ini

Nama Amin Fauzi AT telah lama menyatu dengan perjalanan Karang Taruna Provinsi Lampung. Sejak bergabung pada sekitar tahun 1982, Amin Fauzi AT menjadikan Karang Taruna sebagai rumah pengabdian.

Saat itu, organisasi kepemudaan tersebut tengah tumbuh sebagai kekuatan sosial yang menggerakkan gotong royong, membina generasi muda, dan membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah dinamika itu, Amin memilih untuk tetap berada di jalur pengabdian. Puluhan tahun berlalu. Kepengurusan datang dan pergi, generasi berganti, tantangan organisasi berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun satu hal tetap bertahan: komitmen Amin Fauzi AT terhadap nilai-nilai Karang Taruna.

undefined

Para senior Karang Taruna Lampung

Bagi dirinya, Karang Taruna bukanlah organisasi yang hidup hanya ketika ada pelantikan, rapat, atau seremoni. Organisasi ini adalah ruang untuk membentuk karakter pemuda, menumbuhkan rasa peduli, mengajarkan kepemimpinan, serta memupuk semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, Amin kerap mengingatkan bahwa kader Karang Taruna harus hadir di tengah masyarakat. Ketika terjadi bencana, mereka harus menjadi yang pertama membantu. Saat pemuda kehilangan arah, mereka harus menjadi sahabat yang membimbing. Dan ketika masyarakat membutuhkan solusi, Karang Taruna harus mampu menjadi bagian dari jawabannya.

“Setiap orang pasti memiliki bakat sesuai dengan kemampuannya. Saya ingin generasi muda terus aktif dalam berkarya karena karya yang baik akan dapat dirasakan oleh banyak orang. Karya itu tak akan pernah mati dimakan ruang dan waktu. Harta benda bisa habis, tapi karya akan terus hidup,” ujar Bang Amin dengan penuh semangat,Rabu 2/4/2025.

Pengalaman panjang di organisasi sosial kemudian berpadu dengan kiprahnya di birokrasi dan pemerintahan. Ia pernah menjadi anggota Fraksi Utusan Daerah DPRD Provinsi Lampung periode 1996–2000. Pengalaman tersebut memperluas pandangannya bahwa pembangunan daerah tidak cukup dilakukan melalui kebijakan pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat yang kuat, terutama kalangan pemuda.

Pada 2019, Amin Fauzi AT sempat maju sebagai bakal calon Wali Kota Bandarlampung. Namun, di tengah kontestasi politik, identitas yang paling melekat padanya tetap sebagai tokoh senior Karang Taruna Lampung. Ia membawa gagasan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan generasi muda.

Bagi kader-kader muda, Amin bukan sekadar senior organisasi. Ia adalah pengingat bahwa jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara, sedangkan pengabdian adalah warisan yang akan dikenang sepanjang masa. Kini, setelah lebih dari empat dekade mengabdi, nama Amin Fauzi AT telah menjadi bagian dari sejarah Karang Taruna Lampung.

Perjalanannya menunjukkan bahwa organisasi akan tetap hidup apabila diisi oleh orang-orang yang bekerja dengan hati, bukan sekadar mengejar posisi. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai yang terus diperjuangkannya tetap relevan: kesetiakawanan sosial, gotong royong, kepedulian kepada sesama, dan semangat membangun masyarakat dari akar rumput.

Karena pada akhirnya, ukuran seorang kader bukanlah seberapa lama ia memegang jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya. Dan dalam perjalanan panjang Karang Taruna Lampung, Amin Fauzi AT telah meninggalkan jejak pengabdian yang akan selalu dikenang oleh generasi penerus.

Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan dan sosial kemasyarakatan di Indonesia. Beranggotakan pemuda berusia 13–45 tahun, wadah ini berfokus pada pengembangan generasi muda, penanganan masalah sosial, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan.

Organisasi ini didirikan pada tanggal 26 September 1960 di Kampung Melayu, Jakarta, dan telah berkembang menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan kesejahteraan sosial di tingkat akar rumput. (Hajim)