Helo Indonesia

Budiyono Dorong Unila Perkuat Income Generating, Kurangi Ketergantungan pada UKT

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
43 menit lalu
    Bagikan  
UNILA
HELO LAMPUNG

UNILA - Budiyono

LAMPUNG HELOINDONESIA.COM— Calon Rektor Universitas Lampung (Unila), Dr. Budiyono, S.H., M.H., mendorong penguatan income generating melalui optimalisasi aset, kerja sama dengan dunia industri, pemanfaatan program corporate social responsibility (CSR), penguatan jejaring alumni, hingga hilirisasi hasil riset.

Strategi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Unila terhadap Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebagai salah satu sumber pembiayaan universitas.

Gagasan itu disampaikan Budiyono saat memaparkan program strategis peningkatan kualitas dan kemandirian Unila ke depan, Rabu (16/9/2026).diruang kerjanya kampus Fakultas Hukum. 

Baca juga: Dr. Budiyono, SH, MH Menjaga Mimpi tentang Universitas Lampung

Menurut Budiyono, Unila memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan alternatif tanpa menggeser fungsi utama universitas sebagai institusi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

“Unila tidak boleh selamanya menjadikan UKT sebagai tumpuan utama pembiayaan. Kita harus membangun sumber pendapatan alternatif agar beban pembiayaan pendidikan tidak terus dibebankan kepada mahasiswa,” kata Budiono.

Aset Unila Bukan Hanya Tanah dan Gedung

Budiyono mengatakan, konsep optimalisasi aset Unila harus diperluas. Aset universitas, menurut dia, tidak hanya berupa tanah, gedung, dan fasilitas fisik, tetapi juga mencakup sumber daya manusia, alumni, jejaring pemerintah daerah, dunia industri, serta hasil penelitian.

“Aset Unila bukan hanya tanah dan gedung. Dosen, tenaga kependidikan, alumni, jaringan pemerintah daerah, dunia industri, dan hasil riset juga merupakan aset,” ujarnya.

Karena itu, setiap aset tersebut perlu dipetakan dan dikelola secara profesional sehingga mampu memberikan manfaat akademik, sosial, sekaligus nilai ekonomi bagi universitas.

Budiono juga membuka gagasan pembentukan lembaga khusus yang menangani pengembangan bisnis dan kemitraan Unila Lembaga tersebut nantinya tidak sekadar mencari sumber pendanaan, tetapi membangun kerja sama strategis dengan pemerintah daerah, perusahaan, alumni, dan berbagai mitra lainnya.

“Bukan sekadar mencari dana, tetapi bagaimana mengubah potensi aset dan jaringan Unila menjadi sumber pembiayaan yang berkelanjutan,” katanya.

CSR Perusahaan Didorong untuk Mendukung Pengembangan Unila
Potensi lain yang dinilai masih dapat dikembangkan adalah program CSR perusahaan di Lampung.

Budiyono menilai perusahaan-perusahaan besar di Lampung dapat diajak membangun kemitraan strategis dengan Unila, terutama dalam bidang pendidikan, penelitian, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia. 

Menurutnya, CSR tidak harus selalu diberikan dalam bentuk bantuan kendaraan atau barang, tetapi dapat diarahkan pada kebutuhan yang memiliki dampak jangka panjang, salah satunya pengembangan Rumah Sakit Pendidikan Unila

“Kalau kita sudah punya rumah sakit pendidikan, dunia industri bisa kita ajak membantu melalui alat-alat kesehatan, ambulans, maupun fasilitas yang memang dibutuhkan,” jelasnya. 

Menurut Budiyono, dukungan dunia industri terhadap rumah sakit pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih luas karena fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk pendidikan sekaligus pelayanan kesehatan masyarakat. 

Ia berharap Rumah Sakit Pendidikan Unila ke depan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendidikan, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi masyarakat Lampung.

Lahan Hibah 150 Hektare di Kotabaru Harus Produktif

Budiyono juga menyoroti keberadaan lahan hibah sekitar 150 hektare di Kotabaru yang diserahkan Pemerintah Provinsi Lampung kepada Unila
Menurutnya, lahan tersebut merupakan aset strategis yang harus segera dirancang pemanfaatannya agar tidak menjadi aset yang tidak produktif.

“Tanah hibah sekitar 150 hektare di Kotabaru tidak boleh menjadi aset tidur. Kita harus mengembangkannya menjadi kawasan pendidikan dan penelitian yang produktif,” tegasnya.

Ia membayangkan kawasan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi antara Unila pemerintah daerah, dan dunia industri. Dengan dukungan program studi dan fakultas yang dimiliki Unila kawasan tersebut dapat diarahkan untuk pengembangan pertanian, peternakan, pusat riset, pendidikan, hingga agrowisata.

Menurutnya, konsep tersebut memungkinkan satu aset memberikan berbagai manfaat sekaligus. “Jadi satu aset bisa memberikan manfaat pendidikan, penelitian, sosial, dan ekonomi,” terangnya. 

140 Ribu Alumni Jadi Potensi Strategis

Selain aset fisik, Budiyono melihat alumni UNILA sebagai kekuatan strategis yang dapat dikembangkan. Jumlah alumni Unila disebut telah mencapai sekitar 140 ribu orang dan tersebar di berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan dunia usaha.

Jejaring tersebut dinilai dapat menjadi bagian penting dari strategi pengembangan universitas. Namun, menurut Budiono, hubungan dengan alumni tidak boleh dibangun hanya ketika kampus membutuhkan bantuan.

“Kita jangan datang kepada alumni hanya ketika membutuhkan bantuan. Kita harus membangun ekosistem alumni yang saling memberikan manfaat,” katanya.

Alumni dapat dilibatkan dalam berbagai bentuk kerja sama, antara lain program beasiswa, pendidikan, riset, pengembangan jejaring industri, hingga dukungan terhadap program strategis universitas.

Hilirisasi Riset Unila Harus Diperkuat

Strategi income generating Unila juga diarahkan melalui penguatan hilirisasi riset. Budiono menilai hasil penelitian dosen tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi perlu diarahkan agar dapat dimanfaatkan masyarakat, pemerintah, maupun dunia industri.

“Riset jangan berhenti dipublikasi. Riset harus sampai kepada pengguna,” jelasnya. Budiono menambahkan, Unila memiliki banyak dosen dengan keahlian yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Pemerintah daerah, kata dia, dapat bekerja sama dengan Unila dalam riset maupun pemanfaatan jasa keahlian untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi daerah.

Sementara bagi dunia industri, hasil riset yang memiliki potensi komersial dapat dikembangkan lebih lanjut melalui skema hilirisasi dan kerja sama.Dengan demikian, riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga menciptakan dampak nyata dan membuka peluang income generating bagi Unila.

Kemandirian Finansial untuk Mengurangi Beban Mahasiswa

Budiyono menegaskan bahwa pengembangan sumber pendapatan alternatif bukan semata-mata untuk meningkatkan pemasukan universitas. Tujuan akhirnya, menurut dia, adalah membangun kemandirian finansial Unila sehingga pembiayaan pendidikan tidak sepenuhnya bergantung pada UKT mahasiswa.

“Kita tidak boleh terus-menerus membebankan kebutuhan pembiayaan universitas kepada mahasiswa melalui UKT. Kita harus mencari sumber-sumber alternatif,” katanya. 

Ia berharap optimalisasi aset, pemanfaatan CSR, kerja sama industri, penguatan jejaring alumni, kerja sama pemerintah daerah, pengembangan rumah sakit pendidikan, dan hilirisasi riset dapat berjalan sebagai satu ekosistem.

“Kita optimalkan aset, perkuat kemitraan, hilirkan riset, dan bangun ekosistem alumni serta industri. Tujuannya adalah memperkuat Unila dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkas Budiono. (Hajim)