Helo Indonesia

Limbah Berbau Bangkai Luber Hingga ke Jalan Diduga dari SPPG Merak Batin, Natar

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 17 menit lalu
    Bagikan  
MBG
HELO LAMPUNG

MBG - Cairan pekat berbau busuk luber hingga ke trotoar diduga dari bak penampungan pembuangan SPPG MBG Merak Batin.

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Limbah diduga berasal dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, cairan berwarna pekat dan berbau menyengat diduga meluber hingga ke jalan depan Kantor Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Limbah tersebut diduga sengaja digelontorkan dari bak penampungan pada Senin malam (28/9/2026). Cairan pekat bercampur sampah dan sisa makanan mengalir melalui saluran drainase warga, kemudian meluber hingga ke trotoar dan badan jalan.

"Hambau ni radu gegoh, baunya kayak bangkai," ujar seorang warga yang merekam kondisi tersebut pakai ponselnya pada malam hari. 

undefined

Dalam rekaman yang beredar, sampah dan sisa makanan tampak berbaur dengan cairan berwarna gelap. Tumpukan limbah terlihat memenuhi saluran air, terutama di sekitar bak penampungan limbah yang diduga berkaitan dengan SPPG tersebut.

"Tolong ditindaklanjutin," ujar warga tersebut.

Warga menduga limbah digelontorkan karena bak penampungan sudah penuh. Jika benar demikian, persoalannya bukan sekadar bau dan gangguan kenyamanan, tetapi juga menyangkut bagaimana limbah operasional dapur MBG ditampung, diolah, dan dibuang agar tidak mencemari drainase serta lingkungan permukiman.

Camat Cek Lapangan

Hingga berita ini diterbitkan, wartawan belum memperoleh konfirmasi dari pihak SPPG Merak Batin mengenai dugaan penggelontoran limbah tersebut.

Selasa pagi (29/9/2026), wartawan juga sempat mendatangi lokasi SPPG untuk meminta klarifikasi. Namun, pemilik atau pengelola dapur belum berada di tempat.

Informasinya, Camat Natar akan melakukan pengecekan lapangan untuk melihat langsung kondisi drainase dan lokasi penampungan limbah tersebut. Komentar dari aparat desa juga masih ditunggu awak media.

Bukan Kasus Pertama

Persoalan limbah SPPG yang masuk ke drainase warga bukan hanya terjadi di Merak Batin. Di sejumlah daerah di Lampung, operasional dapur SPPG juga pernah mendapat sorotan ketika air limbah, sisa makanan, minyak, maupun material organik diduga dialirkan atau menggelontor ke saluran drainase lingkungan.

Fenomena tersebut menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program MBG. Sebab, dapur yang setiap hari mengolah makanan dalam jumlah besar otomatis menghasilkan limbah cair dan padat dalam volume yang tidak sedikit.

Drainase permukiman pada dasarnya dirancang untuk mengalirkan air hujan dan air buangan rumah tangga sesuai peruntukannya, bukan menjadi tempat pembuangan limbah dapur dalam jumlah besar.

Karena itu, pengelolaan limbah SPPG semestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari standar operasional dapur. Mulai dari pemilahan sisa makanan, pengelolaan minyak dan lemak, penampungan limbah cair, hingga sistem pembuangan akhirnya perlu dipastikan tidak menimbulkan pencemaran atau mengganggu warga sekitar.

Kasus Merak Batin menjadi semakin penting diperiksa apabila benar terjadi pembuangan langsung ke drainase umum. Selain menimbulkan bau busuk, limbah organik yang menumpuk berpotensi menghambat aliran air dan menjadi sumber gangguan sanitasi lingkungan.

Pengecekan lapangan diperlukan untuk memastikan sumber limbah, jalur alirannya, kondisi bak penampungan, serta apakah terdapat saluran khusus pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

Program MBG memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun, dapur yang menghasilkan makanan dalam skala besar juga harus berjalan beriringanw dengan tanggung jawab menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Jangan sampai makanan bergizi untuk warga berujung pada limbah berbau bangkai di depan rumah warga.
(HBM)