LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Selamat berjumpa lagi di kota banjir Bandarlampung. Setelah kemarau panjang akibat Elnino Godzilla, warga kota ini harus siap-siap menghadapi banjir. Hujan deras pertamanya tak sampai setengah jam, Kamis (29/10/2026), banjir langsung menggenangi sejumlah titik.
Heloindonesia.com memantau, sejumlah kendaraan mobil dan sepeda motor yang harus hati-hati "berenang" di kawasan Jalan Pulau Singkep, Dr. Sutomo, Antasari, hingga Wayhalim, dll. Bahkan, ada sejumlah sepeda motor yang harus dibantu digowes pakai kaki.
Pamong dan Satgas Pemkot Bandarlampung sigap mengatasinya bak petugas pemadam kebanjiran. Bahkan jauh-jauh hari, Pemkot Bandarlampung telah memperbaiki sejumlah titik agar tak banjir lagi.

Seorang satgas dan aparat kelurahan kemungkinan para bosnya sedangmengawasi anak buah membersihkan siring agar tak banjir di kawasan Wayhalim
Tapi, apa boleh buat, baru hujan deras pertama kalinya, banjir telah menggenangi beberapa titik. Agaknya, masyarakat harus "nerima" dan siaga agar tak ada lagi yang tewas terbawa arus banjir seperti musim hujan sebelumnya.
Banjir di Kota Bandarlampung bukan persoalan baru. Catatan bencana pada Januari hingga Februari 2025 memperlihatkan, hujan deras yang mengguyur kota ini pernah menimbulkan korban jiwa, merendam ribuan rumah, dan melumpuhkan aktivitas warga.
Pada banjir Jumat (17/1/2025), sedikitnya dua warga meninggal dunia. Bahtiar (73), warga Pahoman, terseret arus sungai di kawasan tempat tinggalnya dan ditemukan di pesisir Sukaraja, Telukbetung Selatan. Korban lainnya, Suhendi, meninggal akibat tersengat listrik ketika membantu proses evakuasi warga di Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang.
Saat itu, banjir dilaporkan berdampak pada 19 titik di 10 kecamatan, dengan kondisi parah antara lain di Way Lunik dan Telukbetung Selatan. Belum genap dua bulan, banjir kembali membawa duka.
Pada 21–22 Februari 2025, seorang warga bernama Sutiyen (33) meninggal setelah mobil yang ditumpanginya terseret arus dan masuk ke saluran drainase di Jalan Tirtayasa, Kampung Kedaung, Campang Raya, Kecamatan Sukabumi.
Pada rangkaian bencana yang sama, pasangan suami istri Haryadi Prabowo (36) dan Rosmaini (36) meninggal akibat rumah mereka tertimbun longsor.
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung per 22 Februari 2025 mencatat, banjir di Bandarlampung berdampak pada 9.425 rumah dan 30.935 jiwa dari 9.588 kepala keluarga, yang tersebar di 14 titik.
Tiga orang meninggal dalam rangkaian bencana tersebut: dua akibat longsor dan satu akibat terseret banjir.
Sejumlah kejadian itu menjadi pengingat bahwa genangan di jalan bukan sekadar persoalan kendaraan mogok atau perjalanan yang terganggu. Arus yang tampak dangkal dapat menyeret pengendara, sementara saluran drainase yang tertutup atau sulit terlihat di tengah genangan bisa menjadi perangkap mematikan.
Karena itu, munculnya kembali genangan setelah hujan deras pada Kamis (29/10/2026), termasuk di Jalan Pulau Singkep, Dr. Sutomo, Antasari, dan kawasan Wayhalim sebagaimana terpantau HeloIndonesia.com, patut menjadi bahan evaluasi. (HBM).
