Asa Gintung, Bambu Kuning, SMEP dan Lebak Budi, Berpacu Dalam Melodi Kamis Pagi

Sabtu, 7 Juni 2025 19:44
ASA - Cuplikan tiga ibu pembeli daging sapi H- Idul Adha 1446 H/2025 di Pasar SMEP Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, Kamis (5/6/2025) pagi. | Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -----Kaos oblong all size macam gambar ada Hello Kitty atau Lisa BlackPink, Rp35 ribu. Janur ketupat teranyam mulai dari seribu. Harga berulang tiap H-1 Lebaran Haji, daging sapi Rp140 ribu.

"Parkir aja Bang yang gak makan inflasi. Rp2 ribu," sahut gayeng Uda pedagang busana, tergelak dengan cengkok Pariaman khas dia, di kios Pasar Bambu Kuning, Bandarlampung, Kamis (5/6/2025) pagi.

"Dibandingin ya masih ramean kemaren. Itungan tiga empat hari ya," aku ibu kios bumbu Pasar SMEP, sebut beda rerata omzet harian H-4 hingga H-1 Idul Adha tahun ini tahun lalu.

Adapun, Bude pedagang sayur mayur Pasar Pasir Gintung bilang, harga bawang merah, bawang putih, buncis, cabe ijo cabe merah cabe rawit cabe setan, kentang, kol, tahu, tempe, dan wortel; tahun ini dan tahun lalu semirip seingatnya.

Cuma kelapa parut, santan cair saja yang kini sedikit gonjang-ganjing harga, bahkan sejak jelang hingga sepekan usai Idul Fitri 2025 lalu. Gak kudet, asbabnya pun ia tahu.

"Ke Cina ya," mahfum dia, soal kelangkaan kelapa di Tanah Air gegara bombardir ekspor gila-gilaan ke Negeri Tirai Bambu seiring tren anyar warga sana yang tengah gandrung minuman berbahan dasar atau campuran air kelapa dan kelapa muda. Misal yang booming 'es dugan kopi specialty coklat gula aren' —tahu sendiri kala diseruput, 'nendang'-nya.

Bude langsung "ngecun" langsung ingat, kok pertanyaan seputar komoditas di atas sama dengan pertanyaan pewarta jelang Idul Adha 2024 lalu. "(Oh Bude mau pertanyaannya beda? Ya udah, Bude tahu nggak siapa nama suami Luna Maya?) Hahaa.." dan tawa si Bude pun berderai jua. Ia tersipu.

Beda mimik, ibu penjual sayuran Pasar Raya Lebak Budi cuma tersenyum simpul. Ia bak mewakilkan suasana kebatinannya: seperti bisa dilihat sendiri dan ditarik simpul; kepada sesungging senyumnyi itu. Pasar relatif baru, buat gaet pengunjung butuh lama waktu.

Sebelumnya, usai seperempat jam mematung di bekas halte depan Mandiri kiri Jl Kartini dan memotret billboard ucapan Selamat Hari Idul Adha 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah dari Walikota dan Wakil Walikota Bandarlampung, Eva Dwiana-Deddy Amarullah di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Bambu Kuning, pukul 07.28 WIB, Kamis pagi.

Engkol dari halte, memacu Beat kesayangan pelan ke arah Jl Imam Bonjol, sepersekian detik kemudian sempat terperangah lantaran pas belokan serong kiri Pos Polantas ada terpasang road barrier penanda melintas sementara dilarang, dan Beat tersayang bergegas nyelip lincah.

Dan... Waw, kemacetan lazim kala pagi yang mulai bisa dijumpai pelintas pas dari depan Pasar Raya Lebak Budi eks penjara lama hingga ujung belokan Imam Bonjol ke Jl Kartini, seperti pada Kamis pagi alias H-1 Hari Raya Idul Adha tahun ini, Jum'at (6/6/2025) terasa kian menjadi. Pemandangan dari baheula, tetap saja siaga-kan mata.

Situasi temporer ini, khas: semrawut. Sesama pemotor saling berebut menyalip satu sama lain. Pun sopir angkot trayek Tanjungkarang -Kemiling, Tanjungkarang - Pahoman, dan Tanjungkarang - Telukbetung, pelintas tetap jalan ini, tahu-tahu mendadak berhenti. Tak ayal klakson pengendara belakang spontan menyalak. "Tin, tin!"

Plus, pengendara mobil pribadi kadang asal parkir, atau parkir terlalu makan bahu jalan, genapi kesemrawutan abadi ini. Belum lagi, meski pengendara pelintas sudah ekstra pelan, tetap saja kadang suka dibuat kaget pejalan kaki pembeli pengunjung empat pasar berdekatan tanpa aba tengok kanan-kiri tetiba main selonong nyeberang. Kaget, "Tin!"

Sedikitnya tiga petugas Satlantas Polresta Bandarlampung —seperti terpantau Kamis pagi, luar biasa gerak-gerik tangan kanan kirinya, beri kode berjarak sekian menit ke sesiapapun pelintas, demi agar lalu lintas sesuai impian semua pelintas jalan di dunia: aman selamat tertib lancar.

Entah, apakah lembaga statistik resmi negara, BPS Bandarlampung misal punya data resmi harian mingguan bulanan, berapa sih perputaran duit dari denyut ekonomi empat pasar berdekatan Jl Imam Bonjol itu, lengkap status dari yang tertua legendaris, hingga termuda di Kota Tapis. Pasalnya lagi musim turun daya beli, musim pula pedagang ramai melapor pengunjung sepi, sepi pembeli.

PASAR BAMBU KUNING

Ada Pasar Bambu Kuning, Kelurahan Kelapa Tiga, Kecamatan Tanjungkarang Barat, tertua legendaris dirian 1950an, makin ramai usai rehab perdana 1963, rekanan pengelola awal PT Gunung Pesagi per 1989 hingga habis masa Hak Guna Bangunan (HGB) 2009. Kurun ini di atas lahan seluas 8.840 meter persegi (m²) saat itu, terbangun 201 kios di dua lantai terdiri 152 kios Lantai 1, dan 59 kios Lantai 2.

HGB tak diperpanjang, 2010 jatuh ke rekanan PT Senjaya Rejeki Mas, terbangun 189 kios di lahan seluas 2.271 m² plus parkir bertingkat.

Meski fasilitas kian lengkap hingga kini 15 tahun kemudian: kantor UPT Pasar, kantor satpam, musala, ruang genset, taman, tempat pembuangan sampah sementara, WC umum, hingga tadi, gedung parkir bertingkat.

Nun para pedagang —kurang lebih 420 orang termasuk 39 pedagang kaki lima (2022) pasar ini, terus dibayangi cenayang kebangkrutan, dihantui keluh sepi pengunjung sepi pembeli sepi peminat, serta sekaligus: "sepi pemikat".

Bukannya "kufur nikmat", jika diobroli, mereka sembari terus ikhtiar, mengaku ikhlas tawakal. Demi mendapati kenyataan pahit: kios dan losnya, makin tahun makin sepi pengunjung apalagi pelanggan tetap. Tak seramai dulu, sebelum rezim digital berjumpalitan merasuki ranah privat.

Tren platform digital e-dagang (e-commerce) yang itupun patah tumbuh hilang berganti ulah saling sikut antar platform hingga saling makan korban sesama diri, dari yang kalah saing jatuh bangkrut bangkit sulit, hingga yang pailit tinggal nama alias koit.

Praktis, turut mengikis pendapatan harian bulanan tahunan pedagang toko fisik, tidak terkecuali para pejuang rupiah Bambu Kuning.

Berproses: dari merasa 'betul, tersaingi', juga sebagian kecil ada yang cabut, ganti jenis barang dijual, adapula yang sembari tetap bertahan dibarengi upaya adaptif dengan merintis buka toko daring atau ikut berasyik masyuk ke area tempur e-dagang. Itu.

Berujung, sebagian ganti bulan ganti tahun diinfo kios tetangganya "sudah gak buka lagi Bang": dari ada yang pulang kampung, pindah lokasi berdagang plus berjualan daring dari rumah, hingga alih profesi.

Pun pemandangan lainnya, stok barang baik terpajang baik di gudang diakui berkurang.

"Mau ambil barang lagi suplier gak kasih, nota merah masih numpuk, gimana?" angkat bahu seorang pedagang. Nota merah, istilah lain nota bon, lawannya nota putih: lunas. Bambu Kuning oh Bambu Kuning, pekik rekannya pun seraya terkekeh, basa-basi menawari kopi.

Bambu Kuning, potret buram gagapnya toko fisik yang kalah saing jauh —sebagian menyebut berdarah-darah, dengan toko daring platform e-dagang yang layanannya serba wah, harganya pun serbi "beuh".

"Ya gimana gak Bang. Baju model ini saya jual Rp50 ribu. Di Shopee 'jigo' (Rp25 ribu). Mati awak (saya). Adik saya aja, buka konter pulsa dia, 'nangis darah' juga. Tahu Paylater kan. Dah kayak malaikat aja itu," cerocos si pedagang yang memekik, terkekeh, dan basa-basi menawari kopi tadi, ini.

Paylater, fasilitas kredit Buy Now Pay Later (BNPL) alias 'beli sekarang, bayar nanti', ini sistem pembayaran yang memungkinkan pengguna berbelanja barang/jasa tanpa perlu bayar langsung saat bertransaksi sekarang, tetapi diangsur atau dicicil nanti atau setelah jangka waktu tertentu (30-90 hari).

Daya pikat Paylater, selain 'kredit tanpa kartu kredit': mirip sistem kredit tapi tak butuh kartu kredit buat transaksi, juga pada fleksibilitas pembayaran yang ditawarkan merchant atau e-dagang (penuh/cicilan) hingga pengguna bisa tentukan tenor sesuai daya finansialnya.

Di Indonesia, penyedianya Shopee Paylater, GoPay Paylater, Livin' Paylater Bank Mandiri, Paylater BCA dan lainnya.

Paylater termasuk pinjaman online (pinjol)? Tidak. Paylater: fitur pembayaran yang memungkinkan bayar barang/jasa dengan menunda pembayaran, pinjol itu lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman dana tunai langsung ke nasabah.

Lahir dari rahim rezim digital, Paylater pun pinjol keduanya sama rekor tumbuh menonjol. Sekadar ilustrasi, Paylater juga mengandung bibit potensi fraud seperti kasus pinjol (hal ini pinjol ilegal yang dikeluhkan semengerikan itu dampaknya), meski bertumbuh prestisius ditengah arus jenuh capital finance abad ini.

Seperti dibenderangkan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae dalam konferensi pers RDKB OJK di Jakarta, Selasa (3/6/2025), penaikan penggunaan fasilitas kredit Buy Now Pay Later (BNPL) di perbankan RI per April 2025 terlihat dari baki debet kredit BNPL seperti dilaporkan dalam SLIK, tumbuh 26,59 persen secara tahunan, year on year (yoy) dengan outstanding kredit BNPL mencapai Rp21,35 triliun (dengan 24,36 juta rekening) dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Per Maret 2025 lalu, 32,18 persen yoy.

Dian bilang, meski porsi kredit BNPL masih relatif kecil (0,27 persen) dari total kredit perbankan, tren tinggi pertumbuhan tahunan ini penanda, produk BNPL kian diminati.

Kinerja intermediasi perbankan secara umum tetap stabil dengan profil risiko terjaga. Total bertumbuh: kredit investasi 15,86 persen (tertinggi), kredit perbankan 8,88 persen yoy jadi Rp7.960,94 triliun, kredit konsumsi 8,97 persen, kredit modal kerja 4,62 persen. "Bank BUMN masih jadi pendorong utama pertumbuhan kredit dengan kenaikan 8,82 persen yoy," info Dian.

Dari sisi jenis debitur, total bertumbuh: kredit korporasi 12,77 persen, kredit usaha kecil 9,48 persen (cermin bank fokus pemulihan kualitas kredit UMKM), kredit UMKM 2,60 persen.

Halnya e-dagang berikut daya pikat Paylater, kini tak ayal bebuyutan baru toko fisik, pun termasuk Bambu Kuning.

Dan mereka —pedagang wajah lama yang telah temurun wariskan usaha ke satu genre bawahnya yang kini setelah berkeluarga pun jadi sandwich generation; yang senyum sapa salamnya masih bisa dijumpai kala disambangi, merekalah: sang juara, bertahan.

"Salamaik Idul Adha, Bang!" ujar satu dari mereka, pemilik kios busana, pelanggan pewarta kala dulu belasan tahun berniaga di lantai dasar pusat perbelanjaan Jl Katamso, Tanjungkarang. Dia jua, bagian dari pahlawan keluarga juara bertahan itu.

Pedagang turut berharap adanya stimulan peningkatan kunjungan, pembaruan strategi pemasaran, dan inovasi lain dari Pemerintah Kota (Pemkot) setempat agar Bambu Kuning seramai dulu. Pasar dedengkot nan hebat.

Imbuhan informasi, Lantai 2 Pasar Bambu Kuning pernah digunakan sebagai lokasi kedua, kantor Perusahaan Daerah (PD) Bank Pasar milik (saat masih bernama) Pemerintah Dati II Kotamadya (Kodya) Tanjungkarang - Telukbetung kurun 1972–1988.

Saat, bank dirian Walikota ke-4 menjabat 1969–1976 HM Thabrani Daud ini telah dipisah dan berdiri sendiri lewat SK Walikodya 68/1971 tarikh 23 September 1971.

Dari semula sebatas kantor administrasi simpan pinjam dan per struktural dibawah Sekretariat Kodya setempat berdasar SK Walikodya 44/1970 tanggal 30 Juli 1970 dan persetujuan SK DPR Gotong Royong (DPRGR) Kodya 13/1969 pada 24 Juli 1969, dipertegas SK Walikodya 10/1972 di 10 Oktober 1972.

Usai pindah Blok C/6 Pasar SMEP (1988–1993) bank ini ngantor Bambu Kuning lagi kali ini Lantai 3 (1993–1999), ke Blok A/6 Pasar Bawah 1999–September 2016, baru ke Jl Diponegoro sampai sekarang, jadi PT Bank Waway Lampung (Perseroda)

PASAR SMEP

Pun Pasar SMEP, pasar tradisional juga di Jl Imam Bonjol, juga Kelurahan Kelapa Tiga, atau belakang gereja, berluas perdana 6.765 m² dirian 2003, awal dibangun PT Teguh Jaya Lestari masa HGB perpanjangan 15 tahun berfasilitas perdana kala itu 152 unit kios, 260 unit los amparan, kantor UPT, kantor satpam, musala, WC umum dan TPS sampah.

11 tahun berselang, Pemkot Bandarlampung merenovasinya 2014. Bangunan dianggap sudah tak layak huni tak layak pakai. Lewat lelang oleh Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD) Bandarlampung, PT Prabu Artha milik Alay Sendok pemenangnya.

Prabu sempat jadi buah bibir, berkonflik dengan pedagang lama calon penghuni bangunan baru, calon pedagang baru, pun Pemkot sendiri. Proyek sempat mangkrak.

Entah mana dulu, pengerjaan diteruskan oleh mulai dari PT Gunung Pesagi yang garap beberapa persen pekerjaan rehab, dilanjut Ajo Raung, setelahnya baru PT Asmi Hidayat per habis perpanjangan HGB 2018.

Asmi Hidayat tuntas bangun tiga tahun. Awal tahun kedua pandemi 2021, progres bangun mulai terlihat, pekan ketiga Oktober tahun itu, pedagang terutama lantai dasar mulai jualan.

Bangunan baru bertingkat hadir, daya tampung 700 pedagang (240 kios, 460 los hamparan), lantai dasar pedagang sayuran, lantai 1 (ikan, daging), lantai 2 (pakaian, aksesoris), paling atas area parkir.

"Atas? Boro-boro lantai atas, lantai satu aja banyak yang melompong. Gatau, pelan-pelan kali," sahut ibu pedagang sayur mayur lantai dasar itu, satu Jum'at dini hari November 2021 silam itu.

Si ibu seperti tertebak, benar jawab. Dicandai adakah kini tempati bangunan baru lalu lupa cikal bakal pasar ini dinamai Pasar SMEP.

"Inget lah, bapak mah ngeledek. SMP, iya. (karena pasar ini) deket SMP SMEP," si ibu tertawa usai jelaskan bangunan pasar dan SMP swasta itu sama-sama meletak di belakang Gereja Protestan GPIB Marturia Tanjungkarang (tertua di Lampung) warisan Belanda warsa 1927 bernama awal “Protestantsche Kerk in Nederlands Indie” di kepemimpinan Pendeta J. Luther Ramp.

"Hayo, saya ditanya ajalah jangan direkam. Malu," kali ini beda ibu, ibu penjual ketupat musiman, irit bicara dibincangi Kamis pagi, sembari kedua tangannya lincah menganyam janur bentuk ketupat sempurna. Sat set, tempo setengah jam, 10 ikat janur ketupat ia siap berpindah tangan penggenggam.

"Iya, musiman. Ini? (menunjuk masker kuning kenaannyi) Puasa," lirihnyi, tengah berpuasa sunnah Arafah 9 Dzulhijjah.

Satu ikat 10 ketupat janur itu ia jual Rp12.500. Diam-diam membatin melangitkan, semoga "si ibu janur" sehat selalu.

Usai doa selesai, ibu lain duduk seberangnyi, penjual ketupat dan lepet, sigap beri kode 3 jari lalu 5 jari saat ditanya harga. Alias Rp35 ribu. Sang ibu, pedagang dari baheula sampai kini telah bercucu.

Beralih ke bapak penjual daging sebelahnya yang pakai kode bibir pelan 'empat belas'. Daging sapi sekilonya Rp140 ribu. "Beguyur ajalah. Jadi berapa kilo ini, 2 atuh," sambar dia terbahak. Digoda balik, infokan nama unik salah satu sapi kurban Presiden Prabowo 2025 ini: Bruno Gemoy, asal Surabaya. Makin tergelak.

Dari bapak penjual daging, secara berkala info pasang surut situasi Pasar SMEP menggelinding. Pedagang sini juga 'tak kalah' tawakal, senada rekan Pasar Bambu Kuning.

Si bapak, mengaku menempuh banyak cara meningkatkan penjualan. "Banyak teman banyak rezeki, ya gak," ujar dia ilustrasikan lagi ceritera yang sama, tahun-tahun lalu. Bapak, jaga kesehatan. Tetap semangat. "Selamat Lebaran, Bang," tuturnya dipamiti.

PASAR PASIR GINTUNG

Di seberang Pasar SMEP, beda kelurahan beda kecamatan, ada Pasar Pasir Gintung, pasar legendaris (kini sekaligus pasar induk pengganti Pasar Tamin) di Jl Pisang Kelurahan Pasir Gintung Kecamatan Tanjungkarang Pusat, menempati lahan eks kantor Dinas Sosial era 60-an lalu usai kantor pindah, dijadikan asrama tentara, baru ganti jadi pasar tempel circa 1972.

Bertahan enam tahun, Walikodya Thabrani Daud merubahnya jadi pasar sentra barang bekas (loak) besi, pada 1978. Satu dasawarsa terlewati tiada kemajuan didapati, lalu oleh Walikota ke-7 kurun dua periode menjabat 1986–1995 Nurdin Muhayat, diganti jadi Pasar Inpres dua lantai di lahan 1.700 m² bangunan 1.520 m² dengan tempat dagang perdana 313 unit hamparan circa 1988, beroperasi 1989.

Pasar "basah" ini buka 24 jam tiap hari dengan rerata pengunjung harian kurang lebih 500-700 orang hari biasa, 1000-1500 orang pas libur besar atau jelang hari raya.

Terkait "basah" ini, menyitat Lihan (1995), ada dua tipe umum pasar eceran sayuran. Kesatu, pasar tradisional, berciri: memasarkan jenis dan kualitas beragam, harga jual relatif lebih rendah, tak pakai teknologi tinggi. Kedua, pasar modern: memilih kualitas tertentu, pengawasan mutu baik, harga jual lebih tinggi, operasional pakai teknologi tinggi.

Lantaran, dari total 12 pasar tradisional yang buka tiap hari di 8 kecamatan ; bagian dari 37 pasar tetap tipe III dan IV di Bandarlampung, sekaligus bagian dari 118 pasar tradisional se-Lampung berstatistik 41.806 pedagang (2022) sekaligus bagian dari 639 pasar (pasar tetap maupun pasar desa) dan pusat perdagangan di 15 kabupaten/kota se-Lampung.

Dari ke-12 pasar tradisional Kota Tapis itu, selain Pasar Pasir Gintung, lainnya: Pasar Bawah (Enggal), Pasar Tamin Tanjungkarang Barat, Pasar SMEP Tanjungkarang Barat, Pasar Wayhalim, Pasar Koga Kedaton, Pasar Tugu Tanjungkarang Timur, Pasar Kangkung Telukbetung Selatan, Pasar Gudang Lelang (Gudel) Telukbetung Selatan, Pasar Ambon Telukbetung Selatan, Pasar Cimeng Telukbetung Selatan, dan Pasar Panjang.

Pasar Bambu Kuning, tergolong "pasar kering" sebagaimana Pasar Tengah (Enggal) dan Pasar Mangga Dua Telukbetung Selatan.

Info progres 2025: Pasar Koga bakal dibangun rehab berat menjadi pasar modern. Pasar Tugu dan Pasar Panjang, disusulkan diusulkan sebagai pasar tradisional modern berstandar nasional (tersertifikasi SNI) menyusul sukses Pasar Wayhalim sebagai proyek pilot tetapan Kementerian Perdagangan, sebelumnya.

Dua pasar tempel: Rajabasa dan Sukarame, termasuk klaster pasar desa/kelurahan.

Disebabkan: secara geografis lokasinya relatif lebih strategis (tepi jalan utama pusat kota); secara aksesibilitas relatif multiakses bagi pengunjung dan pemasok komoditas sayur mayur berbagai daerah sentra penghasil terutama empat kabupaten: Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, dan Lampung Barat.

Lalu, secara ekonomis volume aktivitas perdagangannya pun relatif lebih profitable dengan tingkat perputaran uang dinamis.

Lambat laun, Pasar Pasir Gintung (sayangnya belum didapat data persis sejak kapan resmi) dijadikan Pasar Induk pengganti Pasar Tamin.

Sesuai status, menjadi pasar sayuran eceran sekaligus grosir terbesar, selain para pemasok produk sayuran dengan kualitas bagus segar, pedagang lain pasar pun hingga kini rutin beli di sini, jualnya kembali di tempatnya ikhtiar.

Teranyar di era Walikota ke-11 Eva Dwiana, Pasar Pasir Gintung yang jadi bagian target program Revitalisasi Pasar Rakyat 2015–2024, dibangun dari APBN 2023 senilai Rp38 miliar, per Juli 2023 di atas lahan seluas 2.201 m² dan luas bangunan 3.366 m², terdiri 2 lantai dan 1 semi basement, tuntas 2024.

Berfasilitas penunjang area vegetasi, ruang jaga, ruang laktasi, kamar mandi/WC, ramp disabilitas, ruang panel, ruang pompa; daya tampung 349 pedagang (275 los kering, 55 los basah, 19 kios kecil), Pasar Modern Pasir Gintung namanya kini, diresmikan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) 26 Agustus 2024.

Pasar Pasir Gintung sekaligus pemecah rekor satu-satunya pasar rakyat di Sumatra yang dikunjungi Presiden RI hingga tiga kali.

Dalam hal ini Presiden Jokowi: selaku capres pejawat 2 November 2018, bagikan bansos BPUM Rp1,2 juta ke pedagang 3 September 2022, terakhir 26 Agustus 2024 itu.

PASAR RAYA LEBAK BUDI

Pasar 'bontot', semi modern ini dibangun HGB grup Chandra habis Rp20 miliar di lahan 8.200 m² eks penjara lama Jl Imam Bonjol, bangunan utamanya 3.700 m² (48 kios, 169 lapak) sisanya jalan dan parkir, luncur 29 April diresmikan 3 Mei 2024.

Bersih rapi ada musala, toilet, dapur bersama, tak jamin kontan pikat pembeli. Pengelola bijak, sewa lapak Rp750 ribu dikorting jadi Rp300 ribu, salar Rp20 ribu jadi Rp10 ribu, per Juni 2024 itu.

Kamis bada Isya, kumandang takbir balapan membahana. Asa Gintung, Bambu Kuning, SMEP, Lebak Budi, tak cuma membumbung tinggi. Juga bak, berpacu dalam melodi.

Di tivi, Indonesia gilas Cina 1-0 lewat penalti. Tak konsen saat nobar, entah kenapa wajah para pedagang tadi masih terbayang. Usai mulut ikut larut pekikkan gol, lanjut batin memekik pula buat pedagang keempat pasar itu tadi: "semangat, bestie!" (Muzzamil)

Berita Terkini