SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Menembus jarak 36 kilometer demi menemui dokter spesialis di rumah sakit kota bukanlah hal mudah bagi Retno. Tinggal di sudut Desa Kapulogo, batas paling timur Kabupaten Wonosobo, perempuan bersahaja ini sempat pasrah.
Sang buah hati yang mengidap gangguan pembekuan darah di otak terpaksa terhenti pengobatannya karena keterbatasan biaya dan ketiadaan transportasi.
Baca juga: Sapa 1.488 Pramuka Jateng di Jamnas XII, Ahmad Luthfi: Pulang Harus Jadi Pemimpin!
Namun, kehangatan itu akhirnya datang melintasi lekuk perbukitan Wonosobo. Lewat Program Dokter Spesialis Keliling (Speling), tim dokter spesialis hadir langsung di balai desa setempat pada Kamis 30 Juli 2026. Tanpa perlu bingung ongkos atau menempuh perjalanan jauh, Retno dan anaknya bisa berkonsultasi dan berobat kembali secara gratis.
“Saya sangat terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Lewat program ini, kami bisa berobat lagi,” tutur Retno perlahan dengan binar mata penuh rasa syukur.
Cerita Retno adalah satu dari ribuan helai senyum yang tumbuh di balai-balai desa se-Jawa Tengah.
Di Kendal, seorang warga bernama Jamsari yang melangkah tertatih akibat diabetes selama 15 tahun, akhirnya bisa kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa perlu mencemaskan biaya rutin kontrol yang membebani.
Sementara di Banyumas, Feni Anindya (16), seorang siswi SMAN di Purwokerto, menemukan ruang aman untuk berkonsultasi dengan psikolog mengenai kecemasan masa depannya.
Tiga sudut daerah yang berbeda, namun dipersatukan oleh satu kehangatan yang sama: negara hadir mendekat, mendengarkan, dan merawat warga desa.
Sejak digulirkan pada Maret 2025, Program Speling yang diusung Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen memang fokus pada pendekatan "jemput bola".
Hingga 13 Agustus 2026, program ini telah hadir sebanyak 1.553 kali di 1.378 desa yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Tak kurang dari 128.109 warga merasakan langsung pelayanan kesehatan spesialis di dekat kediaman mereka.
Dari Rumah Sakit ke Desa-Desa
Program Speling mulai bergulir pada Maret 2025 sebagai jawaban atas tantangan pemerataan layanan kesehatan di Jawa Tengah. Meski jaringan puskesmas dan rumah sakit terus berkembang, masih banyak masyarakat yang kesulitan menjangkau dokter spesialis karena faktor geografis maupun ekonomi.
Setidaknya terdapat lima layanan utama yang menjadi fokus Speling, yakni skrining tuberkulosis (TBC), pemeriksaan kanker serviks, layanan kesehatan jiwa, pemeriksaan ibu hamil, serta pelayanan kesehatan balita, terutama untuk mendukung percepatan penurunan stunting.
Seluruh layanan diberikan secara gratis, cukup dengan menunjukkan kartu identitas. Kedekatan lokasi pelayanan di balai desa membuat masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan biaya transportasi yang besar untuk memperoleh layanan dokter spesialis.
Baca juga: Hendra Ferry Lantik Pengurus Pramuka BNS, Tekankan Satu Pramuka, Satu Gerakan, Satu Pengabdian
Namun, keberhasilan Speling tidak hanya diukur dari banyaknya desa yang disambangi atau jumlah masyarakat yang datang memeriksakan diri. Yang jauh lebih penting adalah ribuan kasus penyakit yang berhasil ditemukan lebih awal sehingga dapat segera ditangani.
Salah satu fokus utama program ini adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hingga awal Agustus 2026, pemeriksaan antenatal care telah dilakukan terhadap 15.848 ibu hamil. Dari jumlah tersebut, 12.537 orang dinyatakan dalam kondisi normal, sementara 3.311 lainnya memerlukan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Perhatian besar juga diberikan pada penanggulangan tuberkulosis (TBC), penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional. Melalui Speling, skrining TBC telah menjangkau 53.463 warga. Hasilnya, ribuan orang teridentifikasi sebagai suspek TBC maupun memerlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.
Layanan kesehatan jiwa juga menjadi perhatian serius. Sebanyak 37.605 warga mengikuti skrining kesehatan mental, dengan 1.358 orang teridentifikasi memerlukan penanganan lebih lanjut. Sementara itu, pemeriksaan kanker serviks telah menjangkau 5.915 perempuan dan menemukan 497 kasus yang membutuhkan tindak lanjut medis.
Keunggulan lain Speling adalah kemampuannya berkolaborasi dengan berbagai program kesehatan yang telah berjalan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengintegrasikan Speling dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang lebih menyeluruh dalam satu kesempatan.
Sinergi tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah mencatatkan capaian CKG tertinggi di Indonesia. Sebanyak 14.248.868 masyarakat telah mengikuti program tersebut atau sekitar 37,4 persen dari total sasaran nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menegaskan bahwa Speling tidak berhenti pada proses skrining semata. "Kami tidak akan berhenti pada deteksi dini, tetapi berlanjut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Jawa Tengah secara holistik," ujarnya.
Baca juga: Tiga Sensasi Rasa dari Sepiring Nasi Betutu Khas Bali
Menurut Zulfachmi, setiap temuan di lapangan akan ditindaklanjuti melalui sistem rujukan dan pendampingan sehingga masyarakat benar-benar memperoleh pelayanan hingga tuntas.
Menjelang Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Speling menjadi salah satu penanda bagaimana pelayanan publik di sektor kesehatan terus bertransformasi.
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, kesehatan bukan hanya urusan pelayanan medis. Kesehatan merupakan fondasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus salah satu kunci dalam upaya menurunkan angka kemiskinan.
Karena itu, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti di rumah sakit atau puskesmas, tetapi harus mampu menjangkau masyarakat hingga ke desa-desa.
"Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya," tegas Luthfi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun terus memperluas jangkauan program tersebut. Hingga akhir 2026, Speling ditargetkan mampu melayani 284 ribu masyarakat melalui pelaksanaan di seluruh kabupaten dan kota.
Target itu bukan sekadar mengejar angka, melainkan memastikan semakin banyak warga yang memperoleh kesempatan bertemu dokter spesialis tanpa harus terkendala jarak maupun biaya.(Aji)