4.048 Pelajar SMP Bandarlampung Dibukakan Rekening dari Program Bank Sampah

Senin, 31 Agustus 2026 12:32
4.048 Pelajar SMP Bandarlampung Dibukakan Rekening dari Program Bank Sampah HELO LAMPUNG

LAMPUNG,  HELOINDONESIA.COM— Sebanyak 4.048 pelajar SMP di Kota Bandarlampung telah memiliki rekening melalui program Bank Sampah yang digagas Pemerintah Kota Bandarlampung. Program ini menggabungkan edukasi kepedulian lingkungan dengan literasi dan inklusi keuangan sejak dini.

Melalui program tersebut, siswa diajak mengumpulkan dan memilah sampah yang memiliki nilai ekonomi. Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang, lalu hasil penjualannya disetorkan ke rekening masing-masing siswa.

Wakil Wali Kota Bandarlampung Deddy Amarullah mengatakan, program tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membentuk karakter siswa agar peduli terhadap sampah sekaligus terbiasa menabung.

“Positif, membantu karakter anak-anak sekolah supaya cinta kepada lingkungan. Jadi mereka sebagai kader atau duta bakti sampah atau kebersihan,” ujar Deddy, Senin (31/8/2026).di Gedung Semergou.

Menurutnya, uang yang diperoleh dari pengelolaan sampah menjadi bagian dari pendapatan siswa sehingga mereka dapat belajar mengelola hasil yang diperoleh sejak usia sekolah.

“Selain edukasi untuk kebersihan lingkungan dan peduli akan sampah, juga belajar untuk menabung. Sehingga mudah-mudahan anak-anak kita ini punya karakter yang baik,” katanya.

Program Bank Sampah ditargetkan menyasar seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA. Untuk tingkat SMA, program telah berjalan, sedangkan pelaksanaannya di tingkat SMP kini diperluas. Sementara untuk jenjang SD, program serupa mulai diterapkan di sejumlah sekolah.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Bandarlampung menggandeng Sahabat Gajah yang sebelumnya telah menginisiasi program Bank Sampah di sejumlah sekolah.

Sampah Ditukar Uang, Dipantau Lewat Aplikasi
Mekanisme pengumpulan dilakukan dengan menentukan hari khusus di masing-masing sekolah. Siswa membawa sampah yang telah dipilah sesuai jenis dan kategori yang telah ditentukan.

Sampah kemudian ditimbang oleh petugas yang datang ke sekolah. Nilai sampah ditentukan berdasarkan jenis dan harga per kilogram. Hasil penimbangan selanjutnya dicatat melalui aplikasi.Siswa yang telah terdaftar dapat memantau jumlah sampah yang mereka kumpulkan sekaligus nilai uang yang diperoleh.

“Jadi mereka nanti register di aplikasi itu. Nanti bisa melihat hasilnya, berapa yang mereka terima dari hasil program Bank Sampah yang ada di sekolah masing-masing,” jelas Deddy.

Program tersebut merupakan bagian dari agenda Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Kota Bandarlampung untuk memperluas inklusi dan meningkatkan literasi keuangan di kalangan pelajar.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung Otto Fitriandy mengatakan, tahap awal program dilakukan melalui pembukaan rekening bagi para siswa. Setelah memiliki rekening dan mulai mendapatkan penghasilan dari sampah, siswa akan diberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan.

Materinya antara lain membedakan kebutuhan dan keinginan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.

“Jangan sampai tadinya uangnya uang dari orang tua, sekarang sudah punya uang sendiri. Nah, nanti kita akan berikan literasi keuangan, bagaimana mereka bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan,” ujar Otto.

Edukasi tersebut juga mencakup pemahaman mengenai bahaya aktivitas keuangan ilegal, termasuk judi dan investasi ilegal.
“Karena mereka sudah kita bekali literasi keuangan sejak dini, khususnya SMP,” katanya.

Tak Sekadar Menabung

Otto menambahkan, pencairan dana dari rekening siswa nantinya mengikuti ketentuan lembaga keuangan yang digunakan, termasuk batas minimum saldo dan jumlah dana yang dapat ditarik.

Namun, tujuan utama program bukan sekadar membuat siswa memiliki uang atau mengambil hasil penjualan sampah. Lebih dari itu, siswa diharapkan memahami bagaimana mengelola uang yang diperoleh untuk kebutuhan yang bermanfaat.

“Yang lebih penting adalah membentuk dan memberikan pemahaman literasi keuangan sehingga mereka harus paham bahwa uang ini dikelola dan dihasilkan itu investasinya untuk apa,” ujarnya.

"Dengan konsep tersebut, Bank Sampah di sekolah diharapkan menjadi sarana pendidikan karakter yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kebiasaan menabung dan mengelola keuangan sejak dini," tandasnya.(Hajim)

Berita Terkini