Sensor BRIN Tangkap Anomali Muka Air Laut Sekitar Anak Krakatau

Selasa, 15 September 2026 23:39
Semeidi Husrin dan foto udara Gunungapi Anak Krakatau. | dokpri/NASA/Muzzamil/Helo Indonesia HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Semeidi Husrin menguak adanya anomali permukaan air laut sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung Selatan.

Sistem pemantauan tsunami milik BRIN sempat diamati pada 7 September lalu atau usai erupsi menerus 25 jam pada 4-5 September 2026. Penyebab pastinya, belum tahu. anomali tampak dari bentuk gelombang muka air yang tidak seperti pola pasang surut normal.

Semeidi menguak, pemantauan sensor deteksi dini dari sistem Inexpensive Device for Sea-Level Measurement dan Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (IDSL/PUMMA). Muka air berkecenderungan membentuk pola sinusoidal. Sementara pada fenomena anomali yang teramati, terdapat bagian puncak gelombang yang terlihat datar.

"Jadi kalau kita lihat di sini, biasanya kan sinusoidal. Ini kan ada flat-nya di atas. Nah, ini yang kemudian kita curigai, ini apa?" presentasi dia dalam webinar "Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time", Senin (14/9/2026).

Sebagai informasi, pola sinusoidal ialah bentuk gelombang atau osilasi periodik yang halus, kontinu, yang mengikuti fungsi matematika sinus (kosinus). Elemen karakteristik utamanya meliputi amplitudo (tinggi puncak gelombang dari titik tengah, frekuensi (jumlah getaran atau gelombang yang terjadi dalam 1 detik), periode (waktu dibutuhkan untuk menyelesaikan satu gelombang penuh), dan fasa (posisi awal gelombang pada titik waktu tertentu).

Contoh keseharian pola ini misal arus listrik AC (tegangan listrik rumah tangga PLN mengalir dalam pola sinusoidal), gejala alam (gelombang air laut, ayunan bandul, getaran senar gitar), dan suara (nada murni atau gelombang suara yang dihasilkan garpu tala).

Semeidi yang mendedah sistem pemantauan tsunami di kawasan Gunung Anak Krakatau, lantas memantik tanya. Apa penyebab sebenarnya?

"Saya dan tim lantas mencoba mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Dugaan awal kami, ini mengarah pada faktor lokal sekitar sensor, misal kapal, material yang mengapung di laut, maupun gas," sambung dia, tetapi dari pemeriksaan data dari Pulau Sebesi, salah satu pulau terdekat berjarak sekitar 20 Km dari gunung berapi aktif itu menunjukkan fenomena serupa senada muncul di sana.

Di pulau subur berbentuk gunung berapi 844 meter seluas 2.960 hektar selatan Pulau Sebuku, timur Pulau Legundi dan Serdang, timur laut gugusan Kepulauan Krakatau, dihuni 3 ribuan jiwa dan berada di wilayah administratif Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan itu, fenomena anomali muka air itu pernah terjadi pula.

Dari itu, dia dan tim tak mau gegabah menyimpulkan dini serta-merta. Menurutnya, pemeriksaan data itu membuat penyebab anomali muka air dimaksud tak bisa begitu saja dikaitkan dengan kondisi lokal di sekitar sensor yang kini ditempatkan di Rakata, pulau vulkanik sisa terbesar erupsi Krakatau Purba 1883 yang terbentuk dari sisa tubuh sang "emak" yang hancur, meletak di selatan gugusan Kepulauan Krakatau (cagar alam dilindungi) sedamping tiga pulau (Sertung, Panjang, Anak Krakatau), berpanorama bawah laut indah seperti Laguna Cabe yang kaya terumbu karang.

"Awalnya kami pikir ini lokal, tetapi kemudian kami cek di Pulau Sebesi, ternyata di Sebesi juga ada. Jadi bukan hanya lokal di sini. Dan sampai saat ini kami belum menemukan jawaban pastinya, sebetulnya ini apa yang terjadi di sini," imbuh dia kian mem-penasaran-kan tanya, ketar-ketir pula.

Tapi tenang, kendati pihaknya mampu menangkap anomali, ditegaskan olehnya bahwa fenomena itu tidak menunjukkan adanya gelombang pasang air laut (tsunami)!

Sistem IDSL/PUMMA lanjut dia menandaskan, sejatinya memang dirancang untuk mendeteksi perubahan muka air secara cepat, alih-alih terutama karena sensor tersebut ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber potensi bahaya. Di mana, IDSL/PUMMA saat ini menjadi andalan kerja-kerja pemantauan wilayah perairan Selat Sunda.

"Karena memang lokasinya persis ada di kompleks Gunung Anak Krakatau, tepatnya di Pulau Rakata. Sistem monitoring ini memantau secara terus-menerus real-time selama 24 jam," imbuh Semeidi Husrin, soal keberadaan sensor Sistem IDSL/PUMMA yang pernah BRIN usulkan untuk ditambah.

"Jadi kalau ada informasi gelombang surut, gelombang tinggi (yang bukan merupakan informasi yang bersumber data resmi termasuk dari hasil laporan real-time sensor ini, maka) itu dipastikan hoaks," sergahya, mengafirmasi data pemantauan sensor ini tersedia daring dan gratis, dapat digunakan sebagai bahan riset lanjutan analisis fenomena anomali muka air itu, dan sekaligus bisa diakses publik.

Sekadar informasi, teknologi ISDL/PUMMA ini diketahui berkemampuan mengenali perubahan muka air laut hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya alias 1,2 detik saja yang kemudian terhubung atau terlapor ke sistem milik lembaga pemerintah satu-satunya pengampu wewenang pemberian peringatan dini tsunami di Indonesia, yakni Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG).

Sehingga kemudian, seperti kita ketahui hingga saat ini, BMKG dapat menerbitkan peringatan dini tsunami tidak sampai 5 menit setelah informasi sensor diterima.

Di jagat riset, Semeidi Husrin, jebolan S1 Teknik Kelautan ITB Bandung (1997-2002), S2 Teknik Pesisir dari UNESCO-IHE Delft (2005-2007), Doktor Filsafat Bidang Teknik Pesisir dari Technische Universität Braunschweig (2008-2013) ini lebih dulu dikenal sebagai ilmuwan peneliti, Ketua Kelompok Penelitian di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) per Desember 2002.

Di kementerian ini, dia mengampu pelaksanaan penelitian sumber daya pesisir dan kerentanannya termasuk topik terkait bencana wilayah pesisir (tsunami, gelombang badai, erosi/akresi pantai), serta redaman tsunami dan gelombang badai di hutan pantai.

Dua dasawarsa kemudian, dia turut diabdikan jadi ilmuwan riset BRIN dengan linifokus penelitian dan pengembangan sistem peringatan dini tsunami berbasis masyarakat yang berbiaya rendah, serta dinamika pesisir pantai utara Jawa (Pantura), sejak Januari 2022. (Muzzamil)

Berita Terkini