✕

AKP Adik Agus Putrawan, Mental Tempur Ditempa di Wilayah Konflik, Kini Ukir Prestasi di Tanjung Perak

Sabtu, 24 Oktober 2026 22:30
Ditempa di wilayah konflik Aceh KP3

HELOINDONESIA.COM -Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak di bawah kepemimpinan AKP Adik Agus Putrawan, S.H., M.H., berhasil meraih Juara II Kategori Pengungkapan Kasus Terbanyak Kelompok A Semester I Tahun 2026 tingkat Polda Jawa Timur.

Bagi sebagian orang, penghargaan itu mungkin hanya angka di atas kertas. Namun bagi Putrawan, capaian tersebut menjadi penanda perjalanan panjang yang ditempa selama lebih dari dua dekade sebagai anggota Polri.

Perjalanan itu membawanya dari medan konflik Aceh, operasi pemberantasan terorisme, pengungkapan kasus-kasus besar di Jawa Timur, hingga akhirnya mampu membawa Polres bertipe B bersaing sejajar dengan jajaran Polrestabes dan Polresta besar.

Polisi Bukanlah Cita cita

Padahal, menjadi polisi bukanlah cita-cita yang sejak awal ia perjuangkan. Dari Pendaftar Terakhir Menjadi Pemimpin

Lulus SMA pada 1999, Putrawan memilih kuliah. Keputusan itu sebenarnya menjadi caranya menghindari keinginan sang ayah agar ia mengikuti jejak keluarga menjadi polisi.

Abangnya lebih dulu mendapat kesempatan kuliah di Universitas Brawijaya. Giliran dirinya tiba, sang ayah yang merupakan anggota Brimob tidak lagi memberi banyak pilihan.

"Ini nomormu, berangkat sekarang tes.".kata Putrawan kepada awak media di Kantornya, Rabu, 23 September 2024

Lucunya, ia justru mendaftar menjelang penutupan pendaftaran. Saat itu ada anggapan, semakin awal mendaftar semakin besar kesempatan jika harus mengulang. Ia justru menjadi peserta terakhir.

Akibatnya, meski mendaftar melalui Polda Jawa Timur, ia menjalani pendidikan di Bali.

Saat dinyatakan lulus, reaksinya justru berbeda dari kebanyakan orang. "Aduh, kok lolos?"

Kalimat itu kini terdengar ironis. Sebab dari langkah yang awalnya setengah hati itulah lahir perjalanan karier yang penuh prestasi.

Darah Pasukan dari Rumah

Putrawan mengakui dirinya tumbuh dalam keluarga yang menjadikan disiplin sebagai bagian kehidupan sehari-hari.

Ayahnya anggota Brimob, sementara masa kecilnya diwarnai didikan keras.
Pura-pura sakit agar tidak sekolah bukan pilihan. Malas bukan alasan.

Sejak kecil ia dibiasakan menghadapi konsekuensi. "Dari situ saya berpikir, percuma menghindari polisi. Toh saya sudah dididik disiplin seperti itu." ujar Putrawan.

Didikan itu membuat pendidikan kepolisian terasa bukan sesuatu yang asing.

Namun sang ayah tidak hanya mewariskan disiplin. Ketika kesempatan bertugas ke Aceh datang pada 2003, justru ayahnya menjadi orang pertama yang memberi restu.

Banyak orang tua berusaha mencari cara agar anaknya tidak dikirim ke daerah konflik. Ayah Putrawan justru berkata singkat. "Bagus. Biar kamu tahu seperti apa tugas di daerah konflik."

Bahkan ketika Putrawan sempat hampir batal diberangkatkan karena dianggap tidak hadir saat apel padahal sedang makan bersama ayahnya orang tuanya datang sendiri menemui pimpinan agar putranya tetap diberangkatkan.

Sang Danki bahkan tertawa karena baru kali itu melihat orang tua datang bukan untuk meminta anaknya dibebaskan dari tugas, melainkan agar tetap diikutkan berangkat.

"Biasanya orang tua meminta supaya anaknya tidak diberangkatkan, ini malah meminta agar diberangkatkan." kata Putrawan menirukan Danki saat itu

Mengubah Polres Tipe B Menjadi Penantang Kelompok A

Setelah melewati berbagai penugasan, Putrawan dipercaya memimpin Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Di sinilah salah satu prestasi paling mencolok lahir. Secara struktur, Polres Pelabuhan Tanjung Perak merupakan Polres Tipe B.

Namun dalam penilaian Polda Jawa Timur, satuannya dinaikkan ke Kelompok A untuk bersaing dengan Polrestabes dan Polresta besar seperti Malang, Banyuwangi, dan Sidoarjo. "Kelompok A itu artinya grade kita naik." ujar Putrawan

Baginya, pencapaian itu bukan soal gengsi, melainkan bukti bahwa kualitas kerja tidak selalu ditentukan jumlah personel.

Ia menyebut strategi kepemimpinannya sederhana. Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi contoh, Di tengah menguatkan anggota. Di belakang mendorong saat semangat mulai turun.

Ia bahkan bercanda ingin membentuk anggota yang bekerja seperti pasukan Mossad.."Satu orang seperti seratus orang."

Lima Kali Memimpin Sebelum Menjadi Kasat

Banyak orang mengira keberhasilannya lahir setelah menjadi Kasat Narkoba.
Faktanya justru sebaliknya.

Sebelum menjadi Kasat, Putrawan sudah lima kali dipercaya menjadi Kanit di berbagai unit.

Sebagian besar kariernya justru ditempa di Reserse Kriminal, Jatanras, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Saat menjadi Panit Opsnal Jatanras Polda Jawa Timur, ia ikut membongkar kasus pemalsuan identitas yang berkembang hingga menemukan satu pickup penuh KTP menjelang pemilu.

Kasus itu akhirnya dirilis langsung oleh Kapolda Jawa Timur. Menurut Putrawan, itulah pertama kalinya pengungkapan Jatanras dirilis langsung oleh Kapolda.

Di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Sidoarjo, ia kembali mencatat pengalaman penting ketika mengungkap kasus pelecehan terhadap santri yang mendapat perhatian nasional.

Kasus tersebut menghadirkan langsung Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ke Sidoarjo sebagai bentuk apresiasi.

Pengorbanan yang Dipahami Keluarga

Di balik sederet operasi dan penghargaan, ada pengorbanan yang tidak pernah masuk dalam laporan prestasi.

Hingga kini Putrawan masih berstatus bujangan. Ia tinggal bersama ibunya, sementara sang ayah telah meninggal dunia.

Ibunya yang pernah menjalani kehidupan sebagai istri polisi memahami betul bahwa profesi ini tidak mengenal jadwal pasti. "Untung mama saya istrinya polisi, jadi sudah tidak kaget." terangnya.

Dukungan itu benar-benar terlihat dalam sebuah peristiwa yang masih ia ingat.
Suatu hari seluruh keluarga berangkat berlibur ke Malang.

Dua mobil sudah melaju. Vila sudah disewa. Mereka baru saja tiba di lokasi ketika telepon dari kantor masuk.
Tanpa banyak berpikir, Putrawan memutuskan kembali bertugas.

Yang terjadi kemudian justru membuatnya semakin memahami arti keluarga..Bukan hanya dirinya yang pulang. Seluruh keluarga membatalkan liburan dan ikut kembali.

"Baru sampai saya ditelepon. Saya pulang. Ikut pulang semua. Tidak ada protes. Tidak ada keluhan." Bagi keluarganya, itulah konsekuensi menjadi keluarga polisi.

Ditempa di Wilayah Konflik

Tahun 2003 menjadi babak yang paling membentuk mentalnya. Di Aceh, ia menjalani Operasi Tegak Rencong sejak masa Darurat Militer hingga Darurat Sipil.

Setiap sore menjelang malam, kelompok bersenjata kerap melakukan pembakaran sekolah. Tim harus bergerak mengejar pelaku. Kontak tembak menjadi bagian dari penugasan.

Namun semua pengalaman itu ternyata belum menjadi puncak cerita. Ada satu malam yang hingga kini tidak pernah hilang dari ingatannya.

Operasi pembakaran sekolah kembali berlangsung.

Kontak tembak pecah..Dalam situasi itu, Putrawan mengaku sempat melihat sesuatu yang sulit dipercaya banyak orang. Peluru melintas tepat di sisi pelipis kanannya. "Saya pernah lihat peluru lewat." tegasnya

Esok paginya, ketika cahaya mulai terang, ia baru melihat lubang bekas lintasan peluru di dekat tempatnya berada malam sebelumnya.

"Puji Tuhan, Mungkin karena belum waktunya." Kalimat itu diucapkannya tanpa nada dramatis. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Penangkapan Teroris

Setelah Aceh, ia masih menghadapi operasi-operasi berisiko tinggi. Ia ikut pengepungan Dr. Azahari di Batu.

Ia menjadi anggota yang diminta mendobrak rumah terduga ahli bom di Wonokromo.

Ia ikut mengamankan situasi pasca Bom Bali, bahkan nyaris menjadi korban karena Paddy's lokasi yang biasa menjadi tempat nongkrongnya saat bertugas di Bali menjadi salah satu titik ledakan.

Belum Selesai Mengukir Sejarah

Meski telah melewati konflik, terorisme, pengungkapan kasus besar, hingga penghargaan institusi, Putrawan merasa pekerjaannya belum selesai.

Ia memiliki satu prinsip yang terus ia pegang.n"Selama masih bisa berbuat yang terbaik buat kesatuan dan negara, apa pun tantangannya akan saya coba taklukkan."

Di internal satuannya, ia bahkan memiliki istilah yang membuat anggotanya tersenyum. "Ngerusak sejarah."

Bukan merusak dalam arti sebenarnya.
Ia ingin memecahkan kebiasaan lama, membuktikan bahwa keterbatasan personel tidak harus menjadi alasan berhenti berprestasi.

Dan dari seorang pemuda yang dulu mengeluh karena justru lolos menjadi polisi, perjalanan AKP Adik Agus Putrawan kini menunjukkan bahwa prestasi terbesar sering kali lahir dari keberanian tetap berdiri di garis depan, bahkan ketika peluru pernah melintas hanya beberapa sentimeter dari pelipisnya.***

Berita Terkini