Penulis Gunawan Handoko
Anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung
"UNTUK apa sekolah tinggi-tinggi? Yang penting sudah bisa baca dan tulis. Supaya kalau pergi ke kota tidak kesasar atau ditipu orang."
Begitulah kira-kira cara berpikir sebagian orang tua pada masa lalu ketika mematahkan semangat anak-anaknya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya keliru. Pada masa itu, pendidikan belum menjadi prioritas utama pembangunan. Pemerintah lebih fokus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti pangan dan sandang. Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi masih menjadi hak istimewa kalangan tertentu, terutama keluarga priyayi dan mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Namun zaman telah berubah. Tantangan kehidupan semakin kompleks, teknologi berkembang sangat cepat, dan persaingan global semakin ketat. Karena itu, pola pikir tentang pendidikan pun harus ikut berubah.
Orang tua masa kini memiliki tanggung jawab untuk mendorong putra-putrinya memperoleh pendidikan terbaik agar tumbuh menjadi generasi unggul, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Beberapa hari terakhir, masyarakat Lampung dihebohkan oleh kabar membanggakan dari SMAN 14 Bandar Lampung yang berhasil mengantarkan 100 persen siswanya lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pada tahun 2026. Prestasi itu kemudian disusul oleh SMAN 1 Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, yang mencatatkan 99 persen siswanya diterima di berbagai PTN.
Capaian tersebut tentu patut diapresiasi. Keberhasilan itu merupakan buah dari kerja keras kepala sekolah, guru, siswa, serta dukungan orang tua. Namun, prestasi tersebut hendaknya tidak membuat siswa dari sekolah lain yang belum berhasil masuk PTN menjadi kehilangan semangat atau merasa kalah sebelum bertanding.
Lolos PTN memang membanggakan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Kuliah pun tidak harus selalu di kampus negeri. Masih banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berkualitas yang mampu mengantarkan mahasiswa meraih masa depan cerah.
Selama bertahun-tahun, masyarakat seolah terjebak dalam "demam PTN". Seakan-akan masa depan hanya milik mereka yang mengenakan almamater berlogo negeri. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Banyak PTS yang telah memiliki akreditasi Unggul maupun Sangat Baik, didukung dosen-dosen kompeten, fasilitas modern, serta jaringan kerja sama yang luas dengan dunia usaha dan industri. Tidak sedikit pula lulusan PTS yang mampu bersaing dan bahkan lebih cepat terserap di dunia kerja.
Kita baru saja memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Salah satu nilai penting yang terkandung dalam sila kelima adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Keadilan tidak berarti semua orang harus masuk PTN.
Keadilan berarti setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tinggi yang layak dan berkualitas, apa pun jalurnya. Negeri maupun swasta, yang terpenting adalah ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Lampung, terdapat sejumlah PTS yang kualitasnya telah diakui secara nasional. Universitas Teknokrat Indonesia, misalnya, telah meraih akreditasi institusi Unggul dengan sejumlah program studi unggulan seperti Informatika, Sistem Informasi, Teknik Elektro, dan Manajemen.
Selain itu, terdapat IIB Darmajaya yang dikenal kuat pada bidang Informatika, Bisnis Digital, dan Akuntansi. Ada pula Universitas Bandar Lampung (UBL) yang memiliki program studi unggulan di bidang Hukum, Teknik Sipil, dan Psikologi. Sementara Universitas Mitra Indonesia (UMITRA) berkembang pesat melalui program studi Kesehatan Masyarakat, Farmasi, dan Keperawatan.
Artinya, bagi siswa yang belum berhasil masuk Universitas Lampung (Unila) atau Institut Teknologi Sumatera (Itera), masih banyak pilihan kampus berkualitas tanpa harus meninggalkan Provinsi Lampung.
Bagi yang ingin merasakan atmosfer Kota Pelajar Yogyakarta, pilihan kampus swasta berkualitas juga sangat beragam. Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Sanata Dharma, hingga Universitas AMIKOM Yogyakarta telah lama dikenal memiliki reputasi akademik yang baik dan diakui dunia industri.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah "kuliah di mana", melainkan "kuliah untuk apa".
Ukuran keberhasilan seorang mahasiswa bukan ditentukan oleh nama kampus yang tercetak di ijazahnya, melainkan oleh kontribusi yang mampu ia berikan setelah lulus. Apakah ilmunya digunakan untuk menjadi guru yang menginspirasi di sekolah-sekolah pelosok? Menjadi pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan? Atau menjadi aparatur negara yang jujur dan melayani masyarakat dengan penuh integritas?
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berulang kali menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia unggul. SDM unggul tidak lahir semata-mata dari label PTN, melainkan dari mental pejuang, semangat belajar yang tinggi, kemampuan beradaptasi, serta integritas yang kuat. Nilai-nilai tersebut dapat ditempa di kampus mana pun.
Karena itu, bagi siswa yang belum berhasil lolos PTN, tidak ada alasan untuk merasa minder. Kalian tidak gagal. Kalian hanya sedang menempuh jalan yang berbeda. PTS, sekolah kedinasan, pendidikan vokasi, maupun dunia wirausaha merupakan pilihan yang sama-sama terhormat.
Bahkan, daripada memaksakan diri masuk PTN dengan jurusan yang tidak diminati hanya demi gengsi, lebih baik memilih kampus dan program studi yang sesuai dengan minat, bakat, serta cita-cita masa depan. Yang terpenting adalah memastikan program studi tersebut memiliki akreditasi yang baik dan mampu mendukung pengembangan kompetensi.
Sudah saatnya kita berhenti membanding-bandingkan anak berdasarkan status kampusnya. Media juga perlu berhenti membangun narasi bahwa hanya PTN yang layak dibanggakan. Sekolah pun tidak seharusnya hanya mengukur keberhasilan dari persentase kelulusan ke PTN.
Kita juga perlu bangga ketika ada lulusan PTS yang menjadi pengusaha sukses, guru teladan, tenaga kesehatan yang berdedikasi, atau aparatur negara yang berprestasi.
Pemerintah daerah pun perlu memberikan dukungan yang setara melalui program beasiswa, tidak hanya bagi mahasiswa PTN, tetapi juga bagi mahasiswa PTS yang memiliki kualitas akademik baik dan berasal dari keluarga yang membutuhkan.
SMAN 14 Bandar Lampung dan SMAN 1 Tegineneng telah memberikan contoh tentang arti kerja keras dan semangat meraih pendidikan tinggi. Kini saatnya kita semua memberi contoh tentang cara berpikir yang lebih adil dan lebih bijaksana.
Sebab, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika kita masih mengkotak-kotakkan anak bangsa hanya berdasarkan status kampusnya.
Sebagai orang tua, kita boleh memilih apa yang ingin kita tanam.
Jika ingin memanen hasil dalam dua atau tiga bulan, tanamlah sayuran. Jika ingin memanen hasil dalam satu atau dua tahun, tanamlah ketela. Jika ingin memanen hasil dalam lima hingga sepuluh tahun, tanamlah mangga atau kelapa.
Namun, jika ingin memanen manfaat selama puluhan bahkan ratusan tahun, tanamlah pendidikan pada anak-anak kita. Sebab pendidikan adalah investasi peradaban yang hasilnya akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Untuk seluruh pelajar Lampung, teruslah belajar, teruslah bermimpi, dan jangan pernah menyerah hanya karena satu pintu tertutup. Masa depan masih terbentang luas. Teruslah melangkah, menggapai cita-cita, dan kelak mengabdilah untuk kemajuan Bumi Ruwa Jurai serta Indonesia tercinta.
Salam Literasi!