LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Ribuan orang memenuhi Lapangan Saburai hingga luber ke jalan untuk salawat (sholawat) bersama Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana dan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Lapangan Saburai, Enggal, Kota Bandarlampung, Jumat malam (8/9/2023).
Dengan tajuk "Lampung Bersholawat", Wali Kota Eva Dwiana memanjatkan doa agar Lampung senantiasa berkah, aman, serta dijauhkan dari musibah apabila sering terjadi kebakaran dan kekeringan saat ini. Saat berita ini ditulis, acara baru mulai.
"Insha Allah atas wasilah Habib Syech, Lampung menjadi damai terutama menjelang pesta demokrasi, aamiin," ujar Darussalam, tokoh Batanghari Sembilan yang juga bacaleg Dapil 1 DPR RI dari PAN di panggung salawat tersebut.
Pantauan Helo Indonesia Lampung, hadir Ketua Pengurus Wilayah NU Lampung KH Puji Raharjo bersama Ketua Pengurus Cabang NU Kota BL Ikhwan Adji Wibowo dan jajarannya, para ketua PCNU kabupaten/kota, Forkompinda Provinsi Lampung dan Kota Bandarlampung.
Banser dan aparat kepolisian ketat mengamankan salawat massal yang dipimpin Habib Syech bin Abdul Qodir as-Segaf atau sering disapa Habib Syech. Habib Syech merupakan putra ulama Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman as-Segaf.
Baca juga: Melawan Pakai Golok, Pencuri Sapi Tewas Diterjang Peluru Petugas
Habib Syekh dilahirkan di kota Solo, Jawa Tengah pada tanggal 20 September 1961 M. dia adalah anak dari 16 bersaudara, ayahnya bernama Abdul Qadir Assegaf , yang merupakan seorang imam masjid Assegaf di Solo dan ayah memberi nama kepadanya “Syekh”.
Ayahnya adalah seorang imam masjid Assegaf di Solo. Habib Syekh bermadzhabkan Syafi’i, beraqidahkan Asy’ari, dan mengikuti sufi dari Al Imam Ghazali.
Riwayat Keluarga
Anak-anak beliau di antaranya: Habib Muhammad Bagir bin Syech Assegaf, Habib Umar bin Syech Assegaf, Sayyid Abu Bakar bin Syech Assegaf, dan Sayyid Toha bin Syech Assegaf. Istri beliau bernama Sayyidah binti Hasan Alhabsyi.
Habib Syekh mendapatkan pendidikan dari ayahnya semenjak dia kecil hingga ayahnya meninggal di saat Habib Syekh berusia 20 tahun. Setelah ayahnya meninggal, Habib Syekh berguru kepada beberapa guru yang diantara gurunya adalah pamannya sendiri yakni Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf.
Dia juga berguru kepada seorang ulama besar di Solo yakni Habib Anis bin Alwy Al Habsyi yang merupakan pengarang kitab mawlid Simthud Duror.
Baca juga: Rawan Ambruk, Kepsek dan Guru SDN 3 Labuhan Ratu 1 Ngungsi Setiap Hujan
Dari pendidikan yang diperoleh dari sang ayah, pamannya, serta Habib Anis Al-Habsyi, ia memberanikan diri untuk mensyiarkan shalawat yang dimulainya dari kota Solo.
Hingga sampai saat ini syair shalawatnya begitu berkembang pesat. Dari syi’ar inilah Habib Syekh dikenal secara luas oleh masyarakat, hal ini dikarenakan dia begitu piawai membawakan nada-nada shalawat klasik. Suaranya yang berat, berwibawa serta khas akan menyihir dan menghipnotis ribuan jama’ah yang mendengar lantunan shalawatnya.
Habib Syekh mengamalkan berbagai ilmu yang telah didapat. Dia selalu mengajak masyarakat agar cinta Rasulullah SAW hal tersebut dilakukan mulai dari kota solo. Habib Syekh menjalankan dakwah dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Secara tidak sadar, banyak masyarakat yang mulai mengikuti majelisnya, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kakek-nenek. Saat ini, majelisnya diikuti ribuan jama’ah mereka mengikuti majelis tersebut untuk mengetahui pentingnya cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. (Hajim)