Helo Indonesia

PDIP Mengusung Anies Kelanjutan Dari Duel Pilpres dan Musuh Istana

Aris Mohpian Pumuka - Nasional -> Politik
Senin, 24 Juni 2024 20:54
    Bagikan  
Pilkada DKI
Aris Mohpian Pumuka

Pilkada DKI - Anies Baswedan berkunjung ke markas PKS untuk menjalin kontak soal Pilkada DKI Jakarta.

JAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta  kian memanas. Setelah PDIP berniat mengusung Anies Baswedan, menyusul  PKB sudah terlebih dahulu memberi rekomondasi pada Anies dalam ajang Pilkada DKI Jakarta pada 2024 mendatang. Sementara lawan potensial mantan Gubernur DKI itu adalah adalah Basuki Tjahaya Purnama (BTP) dan Ridwan Kamil.

Merapatnya partai pimpinan Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, lebih dikenal sebagai Megawati,  pada Anies sempat membuat Ketua DPW Partai Nasdem DKI Jakarta Wibi Andrino kaget.

“Saya pernah mendapat telepon dari Ketua DPD PDI-P DKI Jakarta Ady Widjaja. Yang menceritakan keinginan itu,” kata Wibi kepada wartawan, usai acara di Akademi Bela Negara Partai Nasdem, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (23/6/2024).

Wajar bila Partai NasDem kaget. Karena partai besutan Surya Paloh ini, juga tertarik mempersiapkan Anies sebagai calon gubernur DKI. Dalam acara Bela Negara, Anies dinominasikan NasDem bersama Wibi dan Ahmad Sahroni, Bendahara NasDem buat maju di Pilkada DKI.

Kandidat lain yang siap berlagadi ajang Pilgub (pemilihan gubernur) DKI, selain Ridwan Kamil adalah BTP atau biasa disapa Ahok. “Saya siap dicalonkan. Saya punya pengalaman dalam memimpin Jakarta,” katanya. Namun begitu, ia tetap menyerahkan keputusan tersebut kepada DPP PDIP.

Yang terbaru datang dari PKS. Juru Bicara PKS Muhammad Iqbal mengatakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) telah mengusulkan nama Sohibul Iman sebagai calon gubernur di Pilkada Jakarta pada November mendatang. Namun, Iqbal memberikan dua opsi bagi Anies Baswedan jika ingin diusung oleh partai pemenang pileg di Provinsi Jakarta ini.

"PKS memberi pilihan ke Anies, yakni ia masuk menjadi kader atau wakil gubernurnya  dari PKS," kata Iqbal kepada wartawan, pada Senin (24/6) di Jakarta. Ia menyebut PKS siap untuk mengusung Wakil Ketua Majelis Syuro Partai, Sohibul Iman, menjadi pasangan Anies Baswedan.

Daya Tawar PKS  dan Musuh Istana

Semantara itu analis politik Adi Prayitno mengatakan, pengusungan Sohibul di Pilkada Jakarta menjadi upaya PKS untuk menaikan bargaining atau tawaran politik partai terhadap siapa pun yang tertarik berkoalisi dengan PKS.

"PKS ingin publik dan partai lain tahu, bahwa wajib hukumnya menggandeng kader PKS apabila ingin berkoalisi di Jakarta," ujarnya. Seperti diketahui, suara PKS di Jakarta sebanyak 18 kursi, masih kurang 2 kursi untuk syarat 20%.

Sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak di Jakarta pada pemilihan legislatif lalu, Adi mengatakan, tentunya PKS memiliki daya tarik kuat bagi partai lain untuk membentuk koalisi di pilkada Jakarta, termasuk bagi figur yang dinilai memiliki tingkat elektabilitas tinggi.

Figur tersebut misalnya, kata Adi, ialah Anies Baswedan atau Ridwan Kamil. Anies memperoleh dukungan sebagai cagub dari Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jakarta. Sedangkan Ridwan Kamil didukung oleh partai di Koalisi Indonesia Maju, terutama Golkar dan Gerindra.

Menurut dosen UIN Syarif Hidayatullah ini, pesan yang diinginkan PKS diketahui dengan pengusungan Sohibul ialah agar partai mempertimbangkan matang dalam menetapkan pasangan figur maupun kadernya nanti.

"Misalnya, jika Anies ingin berkoalisi dengan PKS. Maka, wajib hukumnya untuk menjadikan Sohibul Iman sebagai Wakilnya, bukan yang lain. Ini juga berlaku pada Ridwan Kamil," ujar Adi.

Soal PDIP memilih Anies, juga disinggung oleh pengamat politik Adi Prayitno. Ia menyebut, setidaknya ada tiga faktor yang membuat kerja sama politik antara PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan Anies Baswedan mungkin terjadi di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024.

Alasan pertama, ujarnya, keduanya sama-sama melawan Joko Widodo (Jokowi). Kedua, sama-sama merasa diperlakukan tidak adil pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

“Seperti mengulang Pilpres yang lalu, di mana PDIP berhadap-hadapan dengan Jokowi. Jadi, dua variabel saling berhubungan, sama-sama non-Jokowi, melawan dari jokowi, dan sama-sama merasa dizolimi saat Pilpres 2024,” kata Adi.