HELOINDONESIA.COM -Kabinet bentukan Presiden Prabowo Subianto masih menjadi sorotan publik, pasalnya karena Kabinet Merah Putih (KMP) 2024-2029 baru saja dilantik Presiden Prabowo Subianto berisi 48 menteri dan 56 wakil menteri, ditambah lima lembaga setingkat kementerian anggota kementerian. Total ada 109 menteri dan wakil menteri di kabinet ini
KMP dinilai oleh sejumlah pengamat merupakan kabinet yang obesitas, Yanuar Nugroho, pendiri sekaligus penasihat Nalar Institute, mengatakan sejumlah risiko bakal dihadapi kabinet obesitas bentukan Prabowo Subianto, menurut Yanuar. Pertama, kabinet tidak bisa langsung beroperasi.
"Membuat lembaga baru itu gak semudah membalik telapak tangan ada urusan SOTK (Struktur Organisasi dan Tata Kelola." Ujar Yanuar, dilansir dari YouTube AkbarFaizal, 29 Oktober 2024
Mantap
Baca juga: Sejarah Baru, Prabowo Perintahkan Eselon 1 Hingga Menteri Pakai Mobil Maung Pindad
Dengan adanya STOK maka muncul masalah baru seperti penggajian hingga urusan staffing." Sebab lembaga baru dibentuk selevel kementerian, mesti jelas ada berapa deputi, ada berapa dirjen, .. kalau itu eksekusi, berarti namanya dirjen kalau itu kebijakan, berarti namanya deputi, masing- masing deputi atau dirjen punya berapa direktur." jelas Yanuar
Dengan sengala kerumitan yang ada maka dibutuhkan waktu pembenahan yang cukup panjang."Kalau lembaga baru seminggu gak kelar." tegas Yanuar.
Lho lho lho
Baca juga: Pemain IBK Altos yang Satu Ini Moncer Bikin Kocar-kacir Red Spark, 3-2
Bahkan dengan besarnya KMP menurut Yanuar kabinet Prabowo tidak akan bisa lari cepat." Dia akan jadi lame duck (lumpuh -red) setidaknya setahun." terang Yanuar.
Yanuar mengatakan hal ini karena telah mengamati dari pengalaman pengalaman sebelumnya, "Badan-badan baru, lembaga-lembaga baru akan sibuk ngurusi internal organisasinya sampai bisa jalan." imbuhnya
Tidak sampai di sini, menurut Yanuar dengan besarnya KMP akan menyulitkan koordinasi."Dengan kabinet yang besar tidak akan bisa lari, analoginya seperti saya ini badannya besar sudah bergerak di kabinet juga sama, selain tidak efisien juga sulit untuk berkoordinasi." pungkas Yanuar.***
