JAKARTA, HELOINDONESIA.COM – Muktamar ke-10 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berubah jadi ajang saling adu jotos saat Plt Ketum PPP, Muhammad Mardiono naik ke atas di Ballroom Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (26/9/2025).
Kericuhan saat sidang tersebut dipantik ketika sejumlah kader meneriakkan yel-yel penolakan terhadap kepemimpinan Muhammad Mardiono. Meledak, saat sebagian peserta sidang mencoba menghentikan sambutan Mardiono.

Adu mulut tak terelakkan, bahkan sejumlah kursi berterbangan. Bentrokan fisik pun terjadi. Beberapa kader terluka di bagian kepala dan bibir dan di antaranya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Mardiono menyesalkan insiden tersebut. Menurut dia, sejak Muktamar X dibuka, pihaknya sudah melihat terdapat gejala yang mengarah pada kegaduhan hingga akhirnya keributan pun terjadi.

Ia menyebut ada pihak-pihak yang ingin memaksakan kehendak dalam forum tertinggi partai itu. “Muktamar adalah ajang musyawarah, bukan tempat kekerasan. Kami menduga ada yang sengaja membuat suasana kacau,” ujarnya.
PPP menyatakan bakal membawa kericuhan itu ke jalur hukum. Menurut Mardiono, pihaknya sudah mengantongi rekaman CCTV dan bukti lain yang akan diserahkan kepada kepolisian. “Kami tidak ingin partai yang berdiri di atas semangat Islam dan persatuan ini ternodai oleh tindakan anarkis,” tambahnya.

Kericuhan ini menambah daftar panjang dinamika internal PPP, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dihantui konflik kepemimpinan dan perpecahan suara di tingkat akar rumput. Padahal, Muktamar X ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi menghadapi pemilu mendatang.
Hingga kini, jalannya sidang masih berlanjut dengan pengamanan ketat. Aparat kepolisian diterjunkan untuk memastikan stabilitas forum, sementara panitia muktamar berupaya menenangkan para peserta agar musyawarah tetap berjalan sesuai agenda. (HBM)
-
