JAKARTA, HELOINDONESIA.COM --Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) kembali memetakan konstelasi menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) setelah ditetapkannya Jawa Barat sebagai tuan rumah Muktamar yang dijadwalkan berlangsung di Tambakberas, 27–31 Agustus 2026.
Melalui hasil survei nasional dan pemetaan tokoh, Insantara merilis sejumlah nama yang dinilai memiliki peluang menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Insantara menjelaskan bahwa pemetaan kandidat disusun berdasarkan tiga indikator utama, yakni popularitas di kalangan Nahdliyin, rekam jejak kepemimpinan, serta aspirasi pengurus dan warga NU yang dihimpun melalui survei nasional dan wawancara mendalam.
Insantara juga mencatat adanya aspirasi yang cukup kuat dari tingkat PWNU, PCNU hingga warga kultural agar Muktamar ke-35 menjadi momentum regenerasi kepemimpinan PBNU. Menurut lembaga tersebut, harapan terhadap lahirnya kepemimpinan baru menjadi salah satu dinamika yang mengemuka menjelang Muktamar.
Potret Dinamika Menuju Muktamar
Dalam survei nasional yang dilakukan Insantara terhadap 11.646 responden, terdiri atas sekitar 70 persen warga NU dan 30 persen pengurus PWNU serta PCNU, lembaga tersebut mencoba memotret preferensi warga Nahdliyin terhadap calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Survei dilakukan pada 20-28 Juli 2026 dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 3 persen.
Hasil simulasi semi terbuka saat itu menempatkan KH Imam Jazuli sebagai kandidat dengan elektabilitas tertinggi dengan prosentase 43,1 %. Disusul KH Abd Ghaffar Rozin 16,9%, KH Yusuf Chudlori 12,7%, Prof Nasaruddin Umar 11,5%, KH Abd Hakim Mahfudz 6,5%, KH Abdussalam Shohib 5,3%, KH Yahya Cholil Staquf 2,6% dan KH Zulfa Mustofa 1,7%.
Gus Yahya Terdepak dari 5 Besar Survei Caketum PBNU
Salah satu temuan yang cukup menarik dalam survei Insantara adalah posisi Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang berada di peringkat ketujuh dengan elektabilitas 2,6 persen.
Posisi tersebut berada di bawah KH Imam Jazuli, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Yusuf Chudlori, Prof. Nasaruddin Umar, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan KH Abdussalam Shohib. Hasil ini menunjukkan bahwa preferensi responden dalam survei lebih banyak mengarah kepada terpilihnya figur-figur baru dalam Muktamar ke-35 NU untuk kepemimpinan PBNU 2026-2031.
Meski demikian, Insantara menegaskan bahwa hasil survei ini tidak dapat dimaknai sebagai prediksi akhir hasil pemilihan Ketua Umum PBNU. Mekanisme Muktamar NU menempatkan pemegang hak suara sebagai penentu utama, sehingga dinamika politik organisasi masih sangat mungkin berubah hingga pelaksanaan Muktamar.
Menurut Insantara, temuan tersebut lebih mencerminkan potret aspirasi warga dan pengurus NU pada saat survei dilakukan sekaligus menjadi indikator bahwa kontestasi menuju Muktamar ke-35 diperkirakan berlangsung kompetitif dengan munculnya sejumlah figur baru untuk kepemimpinan PBNU 5 tahun ke depan. (Rls)