Penangkapan Terduga Teroris di Lampung dan Ciamis, Radikalisme Masuk Medsos

Kamis, 30 Juli 2026 22:25
Aksi antiradikalisme HELO LAMPUNG

HELOINDONESIA.COM -- Detasemen Khusus Anti-teror (Densus) 88 Polri baru kembali menangkap dua jaringan  teroris di Ciamis, Jawa Barat dan Lampung. Pelaku jaringan teroris yang di Lampung berinisial Hts (36). Sementara di Ciamis berinisial AR (43), keduanya ditangkap pada hari yang sama, Selasa, 21 Juli 2026.

Penyidik menemukan adanya penyebaran berbagai materi yang mengandung narasi radikalisme, khilafah dan terorisme, legitimasi terhadap kekerasan melalui jaringan media sosial milik pelaku.

Menanggapi penangkapan terduga teroris tersebut, Ketua Umum Ormas PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyampaikan apresiasinya kepada Densus 88.

"Di saat kita tidur maupun beraktifitas, Densus 88 terus bekerja 24 jam memburu para pelaku terorisme di berbagai tempat. Bahkan di saat kita lengah dan kurang waspada, mereka tetap bergerak senyap. Ini menandakan gerakan terorisme yang terorganisir masih ada dan terus berupaya menciptakan kekacauan," ungkap Gus Wal.

Fonomena penyebaran propaganda terorisme melalui media sosial mendapat perhatian dari Gus Wal bersama PNIB. Menurutnya media sosial menjadi ruang terbuka yang patut diwapadai para pengguna medsos.

"Perang propaganda sesungguhnya ada di media sosial, bukan lagi sekedar melalui propaganda di mushola, masjid atau mimbar ceramah. Ini yang butuh kolaborasi aktif masyarakat dengan aparat penegak hukum dalam upaya bersama memberantas habis antek-antek khilafah radikalisme terorisme yang terus berkembang menyesuaikan sarana yang ada" lanjutnya.

Penangkapan terduga teroris berdampak terbukanya salah satu simpul jaringan. Dari hasil keterangan dan penyidikan akan terungkap jaringan lainnya. Namun menurut Gus Wal hal tersebut harus diimbangi dengan kesadaran masyarakat akan bahaya intoleransi dan khilafah radikalisme terorisme.

"Sebelum menjadi teroris mereka sudah memiliki dasar radikal. Dan radikal itu lahir dari paham intoleransi, tidak sepakat perbedaan dan menganggap keyakinannya paling benar. Pelarangan tempat ibadah, penghinaan pada keyakinan lain hingga iming-iming janji surga harus kita waspadai sebagai bibit terorisme" jelas Gus Wal.

PNIB masih meyakini persatuan dan kesatuan bangsa akan tetap terjaga bila kita mengetahui biang perpecahan yang sesungguhnya. Menurut Gus Wal krisis ekonomi masih bisa diatasi dengan kebijakan, namun krisis ideologi hanya bisa ditumpas dengan kembali kepada sejarah perjalanan bangsa beserta peradaban, adat dan tradisi budaya nusantara.

Krisis ekonomi akan menjadi krisis ideologi saat para pelaku kurang mendapat pemahaman yang benar akan sejarah para pendiri bangsa, katanya.

Menurut Gus Wal, NKRI ini adalah kesepakatan penyatuan berbagai ideologi yang ada sebelumnya. Semua itu menyatu dalam Pancasila. Agenda "Ngaji Pancasila dan Kirab Merah Putih" yang dilakukan PNIB diberbagai daerah sebagai upaya menekan ego ideologi.

"Kami melakukannya secara intensif dalam kesadaran sebagai bagian dari sejarah mempertahankan keutuhan bangsa. Indonesia tanpa intoleransi, khilafah radikalisme dan terorisme menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi, " pungkanya. (RLS) 

Berita Terkini