HELOINDONESIA.COM - Polemik baru yang dilempar Partai Demokrat soal Surya Paloh didorong menjadi cawapres Anies Baswedan, menimbulkan reaksi gemas di Masyarakat, utamanya warganet.
Pendapat para warganet beragam, ada yang pro dan kontra tudingan yang disampaikan oleh politisi Andi Arief yang menduga, Surya Paloh sedang diupayakan untuk menjadi cawapres Anies Baswedan.
“Dugaan saya ada nama yang sedang diuji di survey oleh salah satu pimpinan partai Koalisi perubahan sebagai Cawapres. Jika benar nama itu nama Pak Surya Paloh maka harus dijelaskan saat ini oleh pak @aniesbaswedan,” tulis Andi Arief di X (Twitter) dengan akun @Andiarief__.
Pendapat warganet ada yang menilai Andi Arief terlalu nyinyir, dan reseh sehingga mengganggu kekompakan Koalisi Perubahan untuk Perbaikan, ada juga yang menyebut dugaan Arief salah, karena Surya Paloh tidak masuk dalam 5 + ) kriteria yang ditetapkan Anies Baswedan.
Baca juga: Di Tuban, Wapres Tegaskan, Warga NU Wajib Bersiap Siaga Hadapi Bahaya yang Akan Datang
Komentar lainnya dari netizen, menyatakan bahwa di bawah sudah solid mendukung Anies, lantas minta kalian jangan buat gaduh di atas.
Tapi ada juga yang mendukung pendapat Andi Arief, sebab koalisi juga harus berkejaran dengan waktu, sehingga pengumuman nama calon cawapres perlu dipercepat.
“Demokrat itu memang gk bisa diajak berteman, krna pengen nya maunya dituruti. Ingat pilpres 2019, saat kampanye akbar PS di senayan, AHY gk nongol. trus yg katanya srt internal dr Sby, yg td setuju kampanye akbar diewer ewer keluar,” tulis netizen @NoorMuzani.
Baca juga: Wacana Sistem zonasi PPDB Dihapus, Jokowi : Akan dikaji Dulu Plus Minusnya
“Siapapun Cawapres nya, klean tetap solid. Ingat, masyarakat kecil yang di bawah sudah solid dukung Capres pak Anies. Kami dibawah yang bekerja kalian jangan buat gaduh di atas,” tulis @WargaSipilBaik.
“Abang, npa gak tnyakan saja diinternal koalisi abang? sbaiknya tak mmbuat koalisi abang terkesan 'transient' terus-menerus, tdk terkesan 'steady' dlm kesepakan bersama, tpi ini opini sy aja blum tentu bner jga,” tulis Marzuki @Ukimarz.
“Ucapan Andi bersayap. Penuh kejutan & haus sindiran telak. Bahasa yg digunakan sarkasme tdk mudah ditebak. Cukup 1 Andi Demokrat hidup. Sekarag yg dibutuhkan Demokrat cari 1 lagi yg seperti Andian pdip. Bagus narasinya mantap argumennya. Ada bang jansen. Cari 1 lagi bakal waoo,” tulis @123ardhan.
“Pak SP tak sesuai syarat pertama (dari 6 syarat) yakni elektabilitas tinggi plus membantu kemenangan; tdk rentan secara politis. Elektabilitas apa yg Pak SP punya? Apa tdk rentan kalau kedua calon pendiri Nasdem? Mas AA adalah Kabappilu DPP-PD. Tentu infonya tdk sembarang,” ujar Didik Luhur Pambudi @didik_lp.
Netizen dengan akun @rissech1 menilai peran Andi Arief di Demokrat memang cukup "unik". Selalu menjadi sentral isu terhadap koalisi yang dibangun oleh Demokrat bersama Nasdem dan PKS.
Menurut netizen ini, dulu di thn 2019, dialah orang yang selalu menyerang Prabowo dengn istilah Jenderal Kardus. Mungkin memang tugasnya seperti itu. Saat itu menghadirkan sedikit gejolak internal yang secara sederhana dianggap oleh lawan sbgai potensi perpecahan. Tapi secara politik bisa juga dipahami sekedar sebagai jebakan isu.
Baca juga: Prihatin Atas Kasus Pelecehan Miss Universe, Menteri PPPA Minta Kapolri Kawal Sampai Tuntas
“Saya melihatnya berdasarkan kronologis komunikasi yg dibangun oleh Demokrat dan partai koalisinya. Krn jika merujuk pd hal itu, artinya statement Andi Arief tdk bs dinilai secara sederhana. Kedua, memahami posisinya yg sngt dekat dngn SBY, sprtinya dia cukup paham bgmn harus mengelola kata demi kpntingan Demokrat,” ungkap netizen @rissech1.
“Seharusnya Om Surya Paloh menyerahkan sepenuhnya wewenang Cawapres kepada Mas Anies Baswedan, Pasangan maut membawa perubahan dan perbaikan yaitu Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono,” tulis Gunawan.,S.H @GunawanSH117422.
“Selow bang.. bagaimanapun Anies - AHY adalah pasangan paling ideal saat ini.. pak @aniesbaswedan .. kalo bisa segera aja deklarasikan, biar konsolidasi di bawah segera terbangun..,” tulis @79Rtb. (*)
(Winoto Anung)