Helo Indonesia

Membedah Pameran Tunggal Seni Rupa Ari Susiwa di DKL

Annisa Egaleonita - Ragam
Minggu, 3 Desember 2023 15:32
    Bagikan  
Membedah Pameran Tunggal Seni Rupa Ari Susiwa di DKL

Ari Susiwa Manangisi dan plyer sarasehan (Foto Kolase Helo)

LAMPUNG,HELOINDONESIA.COM -- Dewan Kesenian Lampung (DKL) membedah pameran tunggal lukisan, patung, instalasi, dan sketsa Ari Susiwa Manangisi berjudul "The Last Limit" di Gedung DKL, PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung, Sabtu (2/12/2023), pukul 20.00 WIB.

Sekitar 30 perupa dan seniman daerah ini lesehan mengulas karya-karya Ari Susiwa Manangisi di lokasi pameran tunggal seniman berusia 71 tahun tersebut dari 29 November hingga 9 Desember 2023. Lila Ayu Arini, putri sang perupa yang ikut jejak sang ayah, jadi pemandu diskusi.

undefined
Suasana sarasehan (Foto Ch Sapto/Helo)

Ari Susiwa Manangisi mengawali sarasehan dengan memperkenalkan diri lalu mempresentasikan konsep karya-karya yang ditampilkannya pada pameran tunggal pertamanya. Dia memperkenalkan diri menekuni seni rupa, baik lukisan, sketsa, ilustrasi, komik, dekorasi patung bahkan instalasi sejak 30 tahun lalu.

Baca juga: Temui Para penyandang Disabilitas, Ganjar: Tolong KPU Sediakan Fasilitas Khusus Disabilitas di TPS

"Melalui perjalanan bereksperimen dengan garis dan warna, saya sampai pada titik menyadari dan menarik kesimpulan bahwa melukis dapat dimulai dari gaya ekspresionis (energi) lalu impresionis (kesan), baru diselesaikan dengan naturalis, realis atau berhenti sebagai sketsa dan terkadang berakhir menjadi abstrak," ujarnya.

Karena terlalu banyak energi dan ide yang hendak dikeluarkan, katanya, ada keinginan yang sedikit memaksakan dalam menyiapkan karya pameran ini, yaitu keinginan untuk bereksperimen dengan garis-garis, memaksimalkan hingga batas fisik.

Dia mengungkapkan garis-garis yang terbentuk hingga hari ini layaknya arsir yang membuat kecanduan, manakala garis tersebut membentuk ruang dan pencahayaan. "Mengulang dan menggeluti garis-garis dengan pewarnaan transparan membawa semangat baru," tuturnya.

Baca juga: JPU Tuntut Orang Mati, Kasus Pengrusakan Mangrove Kotakarang


Ari Susiwa Manangisi merasakan energi diri seolah mendapat asupan makanan yang membawa banyak kontemplasi diri dan semesta. "Karya-karya yang digelar pada pameran ini baru sekelumit dan belum mengungkap tuntas, baru setetes, dua tetes, tiga tetes air di samudera," ujarnya.

Dengan kata lain, pameran ini harus tetap dilakukan walau hanya tetesan air sebagi pembuktian apa pun yang terjadi kemudian. Secara filosofis, Ari Susiwa Manangisi mengungkapkan: Mana mungkin mulut kecil dari mahluk kecil, akan terdengar suara yang menggelegar? Mana mungkin kayu sejengkal dapat mengaduk lautan.

Dialog pun dipantik Riyan dari Palembang. Dia mengulas tentang goresan kuas Ari Susiwa Manangisi yang menurutnya goresan cat sang seniman tampak ilustratif atau komik. "Kenapa tidak tampil karya komiknya?" tanyanya.

Dijawab Ari Susiwa Manangisi, komik tidak harus berupa beberapa tampilan flyer atau gambar adegan, tetapi bisa juga tampil dalam sebuah gambar saja. yang muat cerita panjang bermakna.

Baca juga: Sepeda Motor Pedagang Kerupuk Terbakar


Sastrawan berjuluk "Nabi Sastra Lampung", Edi Samudera Kertagama melihat kekuatan Ari Susiwa Manangisi ada pada goresan atau garis kuas yang secara visual relatif ilustratif karena mungkin pengaruh dari kebiasaannya bergelut dengan karya komik.

Yang menarik, menurut dia, skill ini dipadu menjadi karya-karya yang memiliki kekuatan konsep yang luar biasa. Untuk itu, dia menilai, Ari Susiwa Manangisi pantas disebut maestro. Ari Susiwa Manangisi dengan rendah hati enggan dirinya disebut maestro.

Pii Ramones, seniman performance art dari Kabupaten Pringsewu, mengamini apa yang disampaikan Edi Kertagama. Dia teringat ketika dirinya diblacklist akibat performance art yg pernah ditampilkan 8 tahun yang lalu diperdebat kan oleh pihak pejabat dengan disebut sebagai demo. "Seharusnya perdebatan fokus pada karyanya, bukan pada personalnya," katanya.

Menurut Ari Susiwa Manangisi, karya seni itu sifatnya spontanitas dan ekspresif, namun jangan sampai menerobos batas-batas norma dan hukum, kalau mau aman.

Tokoh yang paling bertanggung jawab menggairahkan seni rupa di Lampung, Ch. Sapto Wibowo selaku ketua Komite Senirupa DKL menawarkan program bantuan buat seniman berpameran tunggal di Gedung DKL.

Promosinya, gratis tempat, fasilitas panel dan lighting, bahkan bantuan operasional Rp2 juta, suport tenaga dan pemikiran dari pengurus Komite. "Semoga program ini bisa berlangsung seterusnya," ujar perupa yang juga seorang guru.

Sarasehan ditutup dengan pembacaan puisi oleh Edi Samudra Kertagama berjudul "Palestina in Love". (CH Sapto Wibowo/Bambang SBY/HBM)