Helo Indonesia

Dikepemimpinan Bupati Ela, Potret Gagap Budaya di HUT ke-27 Lamtim

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Kamis, 16 April 2026 12:44
    Bagikan  
Herman Batin Mangku
Herman Batin Mangku

Herman Batin Mangku - Herman Batin Mangku

Catatan Herman Batin Mangku
Jurnalis

PADA usia beranjak dewasa, 27 tahun, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur semestinya kian matang membaca dirinya sendiri — terutama dalam hal budaya. Pemkab Lampung Timur dikepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah sepertinya malah mempertontonkan kegagapan budaya lokal setempat.

Dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 (15-25/4/2026), terselip kegamangan memahami akar tradisi yang selama ini menjadi napas masyarakatnya. Setidaknya ada dua penanda yang memperlihatkan ketidakselarasan itu. Pertama, penggunaan siger dalam logo HUT ke-27. Kedua, kekeliruan pemakaian pending atau semacam ikat pinggang dalam sesi foto resmi ajang Pemilihan Muli Meghanai.

undefined

Mantan Bupati Lamtim dan Wagub Lampung memakai Siger Melinting dan gonta-gantinya logo HUT-27 Lamtim

PERTAMA

Pada logo HUT ke-27 Kabupaten Lampung Timur, tepat di atas angka tujuh, tersemat mahkota perempuan—siger—dengan yang tadinya tujh jadi sembilan lekuk runcing. Bentuknya lebih menyerupai siger milik masyarakat adat Lampung Pepadun.

Sembilan lekuk tersebut bukan sekadar ornamen. Ia melambangkan sembilan marga yang berada di bagian tengah Provinsi Lampung. Mahkota itu berdiri dengan bagian bawah yang cenderung datar — tegas, kokoh, dan sarat makna genealogis. Perubahan dari tujuh ke sembilan tetap bentuknya mengacu pada Siger Pepadun. 

Memang, di Kabupaten Lampung Timur, masyarakat adat Kecamatan Sukadana sigernya Lampung Pepadun, Abung Siwo Mego, memiliki lekuk sembilan.

Namun, Kabupaten Lampung Timur Apalagi, ada Siger Melinting yang khas lokal setempat yang lebih mengarah ke Saibatin. Siger Saibatin memiliki tujuh lekuk—simbol tujuh gelar atau tingkatan adat. Bentuknya melengkung ke atas, ramping, dan menjulang, menghadirkan kesan anggun sekaligus teduh. 

undefined

Siger dan ragam hias pengantin wanita Lampung Pepadun lengkap dengan ikat pinggannya dan sebelahnya peserta Pemilihan Mulu Meghanai Kabupaten Lampung Timur yang pentingnya mengikat dada. 

KEDUA

Kegamangan serupa tampak dalam penyelenggaraan Pemilihan Muli Meghanai Kabupaten Lampung Timur 2026. Dalam sesi pemotretan resmi di Taman Purbakala Pugung Raharjo, para peserta meghanai mengenakan pending—sabuk emas—di bagian dada.

Padahal, dalam pakem adat, pending bukanlah hiasan dada pria yang malah jadi seperti kemben wanita. Ia adalah pengikat buat mengencankan kain bagian bawah pakaian adat wanita, dikenakan melingkar di pinggang sebagai penanda kerapian sekaligus simbol kehormatan.

Memindahkannya ke dada bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan juga pengaburan makna. Busana adat bukan kostum panggung yang bebas ditafsirkan sesuka hati. Ia adalah marwah, jejak sejarah, dan identitas yang diwariskan lintas generasi.

Terlebih dalam ajang Muli Meghanai—yang sejatinya melahirkan duta budaya— setiap detail seharusnya menjadi cermin keteladanan, bukan justru contoh penyimpangan.

Di tengah gemerlap seremoni, ada pesan yang seharusnya tidak hilang: budaya bukan sekadar ditampilkan, tetapi dipahami, dijaga, dan dihormati. Tabiiik puun ngalimpuro, kilu maaf puary jika wat kekeliruan tulisan sinji. (*)

undefined