HELOINDONESIA.COM - Orang Minahasa memiliki budaya kesehatan dan kebugaran (Etnaprana) dalam menjaga stamina tubuh mereka.
Etnaprana Minahasa tidak hanya dipandang sebagai kondisi fisik, tetapi juga sebagai keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan lingkungan.
Mereka percaya bahwa penyakit dapat disebabkan oleh gangguan pada etika sosial, ketidakharmonisan dengan alam, atau ketidakseimbangan spiritual.
Tradisi Etnaprana Minahasa ini bertujuan untuk memulihkan keseimbangan dengan berbagai elemen yang disebutkan tersebut.
Baca juga: Sekdakab Budiman Jaya Lepas Atlet Sepak Bola U9 untuk Berlaga di ATP Soccer Chempions
"Dalam Etnaprana, orang Minahasa memiliki filosofi "Si Tou Timai Tumau Tau". Artinya mengasihi orang lain diberkahi dan memberkahi orang lain," terang trainer sekaligus assesor Spa Wellness dalam webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada pekan lalu.
Dalam kaitannya dengan perawatan tradisional, menurut Yoyoh, adalah dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, suami dan keluarga.
"Bila tubuh sehat, Indah, ramping dan awet muda tentu akan menyenangkan bagi suami dan keluarga," ujar Yoyoh.
Yoyoh pun menceritakan saat dia mengajar di Manado bagaimana orang di sana memberikan sambutan yang hangat.
Baca juga: Sekdakab Budiman Jaya Lepas Atlet Sepak Bola U9 untuk Berlaga di ATP Soccer Champions
"Jadi orang Minahasa terkenal sekali dengan keramahtamahannya. Saya juga ngajar di Manado waktu itu tiap hari makan bubur Manado," kata Yoyoh.
Dari berbagai sumber, tradisi kesehatan dan kebugaran suku Minahasa sangat terkait dengan spiritualitas dan keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati.
Berikut beberapa istilah dalam tradisi kesehatan Minahasa .
Pertama, Menondong Lapasi.
Ini adalah prosesi upacara penyembuhan tradisional yang dilakukan untuk membersihkan energi negatif dan memulihkan keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan lingkungan.
Baca juga: Pelajar SMAN 9 Dibully, Happy Ending Setelah Pemkot Turun Tangan
Ritual ini dipimpin oleh tetua adat atau dukun dan melibatkan perlengkapan khas seperti daun-daunan lokal dan sesaji makanan.
Kedua, tradisi Etnaprana Bakera.
Ini merupakan tradisi perawatan pasca melahirkan yang dilakukan untuk membersihkan dan mengembalikan keseimbangan tubuh ibu setelah melahirkan.
Proses ini melibatkan ramuan herbal seperti daun-daunan, akar-akaran, dan kayu-kayuan yang direbus dan digunakan untuk menguapi tubuh ibu.
Baca juga: Dipimpin Pegawai BUMN, Masihkah PWI Menjadi Organisasi Wartawan Independen?
Ketiga, pengucapan syukur.
Tradisi ini untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat yang diberikan, termasuk kesehatan dan hasil panen.
