LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Dari jagat dunia usaha dunia industri dunia kerja (DUDIKA), untuk pertama kalinya bersamaan pula, tiga perusahaan asal Lampung sukses raih Penghargaan Paramakarya 2025, yakni PT Alu Cinta Padamu, PT Bumi Menara Internusa, dan PT Natura Perisa Aroma.
Mundur harusnya November lalu, taja Naker Inspirational Leadership Award 2025 gelaran Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) di Ballroom Dana Rote, Balai Kartini Jakarta Selatan, Senin (8/12/2025), jadi saksi sukses raya ketiga korporat, berdasar penilaian produktivitas yakni inovasi, manajemen mutu, keberlanjutan, dan kontribusi ekonomi.
Sekaligus membanggakannya, selain tiga itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal diganjar anugerah senada kategori Pembina Produktivitas atas komitmen dan dukungan kuat mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerja di daerah, dinilai sukses eksekusi program pembinaan Sistem Manajemen Peningkatan Produktivitas dan capaian 0,05 persen dari total perusahaan beroperasi di Lampung.
Penghargaan Produktivitas Paramakarya —dan Penghargaan Produktivitas Siddhakarya yang membersamai, dua ini bentuk apresiasi pemerintah bagi perusahaan di Indonesia yang berhasil meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, diberikan per tahun berdasar Kepmenaker 156/2021 soal Sistem Manajemen Peningkatan Produktivitas.
Menjadi penghargaan tertinggi Peningkatan Produktivitas, Penghargaan Siddhakarya dan Paramakarya, secara etimologis berasal dari kata yang sama bahasa Sansekerta berarti “Karya Prima” dan “Karya Unggul".
Bedanya di "oleh", Paramakarya merupakan Penghargaan Produktivitas Tingkat Nasional diberikan ke perusahaan oleh Presiden RI, Siddhakarya ini Penghargaan Produktivitas Tingkat Provinsi diberikan ke perusahaan oleh Gubernur sesuai level pencapaiannya.
Selain bagi perusahaan, terdapat kategori Penghargaan Pembina Produktivitas bagi Gubernur dan Bupati/Walikota yang sukses eksekusi program pembinaan Sistem Manajemen Peningkatan Produktivitas: 0,05 persen dari total perusahaan di wilayahnya.
Dan, Penghargaan Pemerhati Produktivitas, diberikan ke individu yang punyai kepedulian dan prestasi meningkatkan produktivitas.
Senada sebelum, untuk penganugerahan tahun ini, terlebih dahulu Kemnaker melalui Direktorat Bina Peningkatan Produktivitas, Ditjen Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas lakukan pengukuran Sistem Manajemen Peningkatan Produktivitas di perusahaan terusul.
Menaker Prof. Yassierli, pada Sidang Pleno LPKS Tripartit Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu menyebut, kita tidak bisa terus bergantung pada jumlah tenaga kerja dan investasi modal. Jika ingin lakukan lompatan kemajuan, kita harus dorong produktivitas melalui inovasi dan efisiensi, yang harus menjadi gerakan nasional lintas sektor.
Tercatat, sejak dimulai tahun 1994 diberikan pertama kali 1995, penghargaan nasional bagi perusahaan, gubernur, bupati/walikota, dan individu pemerhati produktivitas yang berkontribusi peningkatan produktivitas ini telah diberi ke 254 penerima Paramakarya: 127 perusahaan kecil, 94 perusahaan menengah, dan 33 perusahaan besar.
Sambel Alu, Dari Kontrakan Bedeng
Spill 3 korporat Lampung penerima, PT Alu Cinta Padamu, ini korporat pengampu bisnis kuliner Sambel Alu, jenama produk ayam goreng ayam bakar sambal citarasa khas buatan tangan —semua resep diolah diracik sendiri (homemade), dirian 1 September 2016 diawali Dian Dwi Agustin sang pemilik dari bedeng kontrakan kecilnyi jualan daring melalui teman ke teman sampai akhirnya ia punya 3 karyawan pertama.
Dibantu co-founder, Ahmad Iqbal Syarif, bertumbuh sukses buka gerai pertama 2017 di Jl Pramuka 15 (sebelum Madani School) Rajabasa, gerai kedua 2018 Jl Sultan Agung 20 (Jalur Dua) Labuhan Ratu, gerai ketiga 2019 Jl Pulau Sebuku 19 (depan Omahakas) Tanjung Baru Kedamaian, keempat 2022 Jl dr. Susilo 20 Sumur Batu, Telukbetung Utara; semuanya di Bandarlampung.
Dikenal berkat inovasi dapur raciknya olah sambal otentik, layanan konsumen dan juga pelanggan yang relatif baik: menciptakan pengalaman "WOW" bagi pelanggan; taja pengembangan talenta dan peningkatan soft skill dan hard skill karyawan melalui Sambel Alu Institute; dan program sosial korporat antara lain mini pesantren dan umroh gratis untuk karyawan.
Tak ayal keterpaduan tersebut ikut membuat aspek produktivitas seluruh lini sumber daya terdongkrak dan dan menjadikannya ikonik: ikon lokal kelompok usaha kuliner pelinifokus sambal yang tak saja bertumbuh bercabang tapi sekaligus berkembang inovasi layanan.
Selain, tersertifikasi Halal BPJH Kemenag dan Sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment (CHSE) Kemenpar; kesemuanya menjadikan Alu Cinta Padamu sukses tata kelola bisnis sambal, sukses berinovasi dan sukses rawat komitmen atas kesejahteraan karyawan dan juga masyarakat. Sambel Alu, dengan demikian kini jadi bagian keluarga besar role model baru, sambal teladan.
Pewarta cuplikkan kembali, reportase lama, pemaparan founder/CEO Sambel Alu, Dian Dwi Agustin dalam Sharing Session Hijabers Community Lampung di Café Kania Ountje, Jl HOS Cokroaminoto, Rawalaut, Kecamatan Enggal, Bandarlampung, 18 Agustus 2024.
Jebolan Politeknik Indonesia Surakarta Jawa Tengah ini kala itu berkisah, Sambel Alu ialah kisah rintisan bisnisnyi ke-12, usai sembilan tahun berjibaku bisnis praktis sejak 2007.
Usai, sebelumnya ia jatuh bangun hingga ia pun pernah getir merasakan suasana batin gimana seorang pengusaha bangkrut itu "down banget", memulai dengan berbisnis hijab lalu coba peruntungan kuliner jualan roti, nasi tumpeng, es cendol dawet, pecel, sampai pizza.
Resmi sandang sapa ala pedangdut Rita Soegiarto: "sukses ya say (sayang)", kisah sukses Dian yang diabadikan dalam buku "Ikhlas Tanpa Tapi" itu, ia genapkan dengan bangun kerajaan bisnis baru, hebatnya ditengah situasi kahar COVID-19 pada 2020-2021, hingga kelak kini Dian dikenal pula sebagai founder/CEO usaha kuliner lainnya tak kalah legit, Roti Keset (ROKEZ) pun senada telah bercabang, kini bercabang tiga kesemuanya juga di Bandarlampung.
Kisah Sambel Alu juga Dian, representasi kisah prima dari bedeng kontrakan, hingga berpucuk manis: Paramakarya.
Bumi Menara Internusa, Jawara
Berikut, PT Bumi Menara Internusa Tbk, atau tepatnya PT Bumi Menara Internusa Tbk Cabang Lampung berbasis di Jl Sutami 16 Desa Sukanegara, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan; bagian dari 8 cabang korporat manufaktur industri akuakultur pengolahan dan ekspor produk makanan laut beku berpusat di Margomulyo 4E Tandes, Surabaya ini.
BMI, nama top perusahaan sejak berdiri 1989 hingga kini total memiliki ribuan karyawan termasuk di cabang Lampung juga punya pabrik antara lain di Lamongan, Dampit Kabupaten Malang, dan Makassar.
Portofolio BMI, mula dikenal fokus utama olah produk udang beku ragam jenis dari vannamei sampai black tiger; dari proses penerimaan bahan baku, sortasi, kupas, pembekuan (frozen), glazing, pengemasan, penyimpanan di cold storage; yang diekspor ke negara-negara tujuan ekspor, 90 persen ke AS sisanya Jepang dan Eropa; lantas berpinak meluas ke produk ikan dan kepiting beku segar sesuai permintaan pasar global.
Menilik sejumlah produk utamanya, selain multi olah seperti cube cut, daging giling, loin atau steak atau saku, hingga jajaran produk tuna Madidihang; juga serba ketat QC seperti udang kupas (PND, PUD), aneka udang beku (Peeled Deveined Tail On, Peeled and Deveined, lainnya), ikan cod dan salmon, kepiting (rajungan), dan sushi ebi.
BMI, ketat pula menerapkan standarisasi keamanan pangan global semisal Good Manufacturing Practices (GMP) didukung oleh teknologi pemrosesan makanan nan mangkus bin sangkil misal seperti teknologi pembekuan cepat (IQF), serta sistem rantai dingin demi jaga kualitas produk.
Sadar manfaat, mengambil manfaat dari pengalaman 36 tahunnya olah ekspor ini, BMI terus operasikan fasilitas pabrikasinya memenuhi pangsa luas, hingga lumrah turut menjadikannya dikenal salah satu pengolah dan pengekspor makanan laut yang patuh standar, ketat kontrol kualitas, mitra handal pelanggan dan importir global. Disukai.
Apa pasal? Ditelisik, BMI tak kalah ketat pula uber pemenuhan sertifikasi produk lazimnya korporat senada lainnya hingga kini BMI pun telah tersertifikasi BRC, HACCP, MSC Chain of Custody, MSC Fishery, dan SKP.
Sekadar penyelia, sertifikat BRC atau British Retail Consortium (kini BRCGS atau Brand Reputation through Compliance), ini standar global bagi keamanan, kualitas, dan legalitas produk bagi ruang lingkup industri makanan, kemasan, penyimpanan dan distribusi, ritel.
BRCGS melibatkan audit pihak ketiga (badan sertifikasi terakreditasi) memastikan pemenuhan standar ketat seperti HACCP, kebersihan, manajemen risiko, kontrol operasional agar produk aman berkualitas; bertujuan beri kerangka kerja korporat kelola keamanan dan kualitas produk secara konsisten, memenuhi standar global, bangun reputasi merek dan kepercayaan konsumen.
Sama penting, sertifikat berikut, sertifikasi preventif sistem manajemen keamanan pangan berbasis sains yang fokus pada identifikasi, evaluasi, dan pengendalian bahaya (biologis, kimia, fisik) per sistematis di setiap tahap proses produksi makanan dari bahan baku hingga konsumsi, cegah penyakit terkait makanan dan jamin produk aman bagi konsumen, yakni HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points).
Sistem preventif ini sesuai nama, Hazard Analysis (Analisis Bahaya), mengidentifikasi bahaya potensial (mikroba, kimia, fisik) yang bisa terjadi dalam rantai produksi pangan.
Dan, Critical Control Points atau Titik Kendali Kritis (TKK), titik-titik dalam proses di mana pengendalian dapat diterapkan untuk cegah atau mereduksi bahaya keamanan pangan, atau menguranginya ke tingkat yang dapat diterima.
HACCP mengurangi ketergantungan pada pengujian produk akhir, memiliki 7 prinsip dasar utama penerapan, mencakup analisis bahaya, penentuan TKK guna temu langkah di mana kontrol bisa diterapkan, penetapan batas kritis (batas aman untuk tiap TKK), pemantauan, tindakan koreksi (dilakukan jika pemantauan gagal), verifikasi (memastikan sistem bekerja efektif), serta dokumentasi (pencatatan semua prosedur dan catatan).
Sertifikasi HACCP yang lazim digunakan di seluruh industri makanan dan minuman (F&B) termasuk perhotelan, di Indonesia dilakukan Lembaga Sertifikasi Sistem (LSS) terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN); bertujuan bermanfaat mencegah kontaminasi dan penyakit bawaan makanan, sesuai watak: preventif, fokus pencegahan daripada mendeteksi masalah setelah, meningkatkan kepercayaan atas produk, dan mengelola risiko keamanan pangan di seluruh rantai pasokan.
Adapun MSC Chain of Custody (CoC) ini standar sertifikasi yang memastikan produk makanan laut berlabel Marine Stewardship Council (MSC) dapat dilacak (traceable) dan dipisahkan dari produk non-sertifikasi di seluruh rantai pasokan dari penangkapan hingga konsumen akhir, dengan setiap entitas dalam rantai (pengolah, distributor, supermarket, restoran) memilikinya untuk menjamin asal usul berkelanjutan dan memenuhi standar ketertelusuran nan ketat.
Sesuai fungsionalitas, MSC CoC utamanya memastikan produk bersertifikat MSC tak tercampur produk tak bersertifikasi di setiap langkah rantai pasok, memungkinkan produk dilacak kembali ke perikanan berkelanjutan yang telah tersertifikasi MSC.
Pun BMI, setiap bisnis empunya kepemilikan atau memproses produk makanan laut yang akan diberi label MSC nyata butuh sertifikasi ini, termasuk entitas pengolah (prosesor), distributor dan grosir, pengecer (peritel), restoran dan layanan katering, juga gudang.
Usai bisnis diaudit lembaga sertifikasi pihak ketiga independen, setiap produk berlabel MSC memiliki kode unik, kode CoC (format MSC-C-xxxxx), bisa dilacak ke produsen bersertifikat. Perusahaan harus punya prosedur identifikasi dan memisahkan produk bersertifikat, bahkan saat produk dikeluarkan dari kemasan asli. Dengan MSC CoC, konsumen dapat yakin makanan laut berlabel biru MSC bersumber dari perikanan terkelola berkelanjutan.
Selanjutnya, MSC Fishery (Perikanan MSC), perikanan tersertifikasi MSC sebagai praktik penangkapan ikan berkelanjutan, memenuhi standar global (jaga kesehatan stok ikan dan ekosistem laut) sehingga produknya boleh diberi label biru MSC, bantu konsumen pilih makanan laut ramah lingkungan, sekaligus menunjukkan perikanan tersebut dikelola bertanggung jawab agar sumberdaya ikan terus abadi bagi genre mendatang.
Ada triple point penilaian Perikanan MSC ini: memastikan stok ikan tetap sehat dan bisa pulih alami, tak ditangkap berlebihan; terkait ekosistem, penangkapan ikan dengan cara meminimalkan dampak terhadap lingkungan laut, struktur, dan keanekaragaman hayati; dan, memiliki sistem manajemen efektif dan taat asas pada aturan lokal, nasional, global.
Terakhir, Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Unit Pengolahan Ikan yang terapkan Cara Pengolahan Ikan yang Baik (CPOB) dan memenuhi standar sanitasi. SKP bertujuan menamin mutu produk perikanan, perluas pasar, tingkatkan trust konsumen.
Dengan Cabang Lampung (1.500 karyawan) didalamnya; selaku korporat pengolahan hasil laut berorientasi ekspor, BMI yang telah menatausahakan semua itu: tersertifikasi; juga bagian dari Asosiasi Perikanan Poli & Line dan Handline Indonesia (AP2HI).
Adapun, portofolio persistensi BMI dalam meruwat sisi keberlanjutan, beranjak dari kesadaran, penting bagi BMI berdayakan masyarakat pesisir selaku bagian mitra pemangku utama, diiringi penguatan praktik budidaya perikanan berkelanjutan.
Seperti Direktur BMI, Hetty Diana, ujarkan circa November 2023 silam, keswadayaan merupakan sumber daya kehidupan yang abadi sekaligus modal utama masyarakat pesisir mengembangkan dan pertahankan diri di tengah masyarakat lainnya.
Masyarakat pesisir ujar ia, sangat berkait erat dengan kelautan dan perikanan. Dari itu, praktik kelautan dan budidaya perikanan harus memenuhi aspek keberlanjutan.
Ini jua yang jadi konsen BMI bahkan sejak pertama kali membesut pengembangan pembinaan tambak sebagai daya topang aspek keberlanjutan usahanya pada 2008.
Dibesut hingga sewindu kemudian gaet mitra berkompeten, pertama WWF via program Seafood Savers per November 2016 mendorong praktik budidaya perikanan berkelanjutan plus dorong petani tambak binaan dapatkan Best Aquaculture Practices (BAP) pun sertifikasi ekolabel Aquaculture Stewardship Council (ASC) Shrimps untuk tambak udang vaname metode intensif.
Tujuh tahun berselang, November 2023, program diganjar penghargaan Kementerian Kelautan dan Perikanan kerja sama dengan WWF-Indonesia dan Seafood Savers atas “Komitmen Dalam Perbaikan Perikanan dan Penyedia Seafood Ramah Lingkungan” yang diserahkan pada Hari Ikan Nasional 2023.
Senada WWF, juga dengan Yayasan Sustain Aqua Indonesia dan AP2HI untuk senada pendampingan, transfer pengetahuan dan teknologi ke ribuan petani tangkap dan tambak di delapan lokasi se-Indonesia.
Dalam prosesnya, petani tambak binaan terlibat menjalankan program Aquaculture Improvement Program (AIP) sebagai upaya lintas pemangku atasi tantangan lingkungan dalam produksi akuakultur. Bahkan, BMI jadi perusahaan pertama di dunia yang fasilitasi pelatihan auditor BAP sejak 2007.
Hetty Diana kala itu menjembreng berbagai inisiasi program BMI bukakan akses petani tambak atas teknologi modern dan pelatihan peningkatan produktivitas tambaknya, ulah peningkatan kemampuan petani tambak sebagai bekal kehidupan dan penciptaan perikanan tambak dan perikanan tangkap yang berkelanjutan, keduanya penting.
Nyaris sewindu berikut, ribuan nelayan dan petani tangkap asal dari 8 lokasi dimana BMI beroperasi tercatat jadi penerima manfaat program pembinaan masyarakat pesisir —diperkaya pendekatan berbasis lingkungan.
Untuk BMI Cabang Lampung sendiri, data menunjukkan kapasitas produksi pabriknya dengan produk udang beku (headless, PND, PUD), dimsum, produk makanan laut lainnya, mampu memproses 72 ton udang per hari setara 3.000 ton per bulan atau 36 ribu ton per tahun plus minus.
Natura Perisa Aroma, Produsen Atsiri Terbesar
Sesuai nama, pakai kata "perisa" berarti penguat rasa (flavoring); PT Natura Perisa Aroma (NPA) ini korporat produsen pengolah dan eksportir rempah alami dan aroma asal Indonesia (Nekaboga Grup) pengampu dia jenama dagang NEKABOGA dan NEKAROMA dan terhitung masih 'tetangga' BMI, berbasis di Jl Sutami KM 9, Desa Sukanegara, Tanjung Bintang, Lampung Selatan.
Sebagai pengolah rempah dan bahan baku pangan alami, NPA linifokuskan produksi rempah bermutu seperti lada hitam (utuh dan bubuk), minyak atsiri (essential oil), dan bahan aromatik untuk industri makanan dan minuman, non-makanan, ritel serta layanan private labeling dan contract manufacturing.
Dengan komitmen pada inovasi dan kualitas, terpantau terus menggerakkan lini ekosistem inovasi lewat terapan teknologi pengolahan alternatif seperti sterilisasi termal atau uap (steam sterilization) untuk jaga mutu produk rempah (terutama kandungan volatile oilnya) dan sistem sumber daya etis untuk produk berkelanjutan, juntrungannya NPA dikenal sebagai salah satu eksportir minyak atsiri terbesar di Indonesia.
Disitat dari SWA, diketahui Nekaboga Grup semula bernama Neka Boga Perisa, bidang pengolahan bahan penyedap atau perasa makanan yang kini jadi Natura Perisa Aroma.
Alkisah, 2017 silam, Nekaboga atau Natura jadi salah satu mitra korporat agrobisnis sawit Grup Djarum dirian 2008 lalu dikenal sebagai pemain agrobisnis terdiversifikasi lewat pengembangan dan pembibitan multi-crop sebagai kunci bisa memenuhi kebutuhan pasar lebih luas: PT Hartono Plantation Indonesia (HPI-Agro) pimpinan Iwan Suhardjo.
Berlokasi kebun awal di Kalimantan Barat mulai nanam 2010, area operasionalnya kini tersebar di Jakarta (kantor pusat), Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sumba Nusa Tenggara Timur; berkembang multi komoditas seperti cengkeh, tembakau, tebu, jarak kepyar, dan minyak atsiri. Hingga Lampung, di mana HPI-Agro di sektor hilir terintegrasi dengan Neka Boga atau Natura.
Terpisah sebelumnya, NPA melalui merek NEKABOGA raih Best Export of Value-Added Pepper Products 2024 dalam International Pepper Conference (IPC) 2025 di Kochi India pekan pertama bulan lalu. Penghargaan kali kedua sejak NPA gabung anggota pada 2017. Kini, dengan 129 korporat lain lintas negara.
NEKABOGA menerima pengakuan global untuk Kategori Indonesia, yang diberikan ke perusahaan dengan kinerja inovatif dalam meningkatkan nilai produk lada ekspor. Ini penghargaan pertegas reputasinya sebagai eksportir rempah RI yang mampu bersaing tak cuma dari sisi volume, tapi juga kualitas dan inovasi.
Ujar Managing Director NPA, Billy Laurence, di industri rempah yang kompetitif, pihaknya fokus olah lada dengan teknologi sterilisasi uap, pastikan produk rempah diolah penuhi standar mutu dan keamanan pangan global.
"Tujuan NEKABOGA sederhana, menjadikan rempah Indonesia bukan sekadar bahan mentah tetapi produk bernilai tinggi yang diakui di dunia. Pengakuan ini kami anggap hasil komitmen jangka panjang terhadap kualitas, inovasi dan keberlanjutan," ujar dia.
Dan, bagi Alu Cinta Padamu, Bumi Menara Internusa, dan Natura Perisa Aroma; malam penganugerahan Penghargaan Paramakarya 2025 selain bukti pengakuan dari negara, jua menjadi deret bukti pengakuan berikutnya bagi ketiga korporat atas jibaku siang malam raup cuan sekaligus terus rengkuh simpati, tempat di hati masyarakat Lampung.
Kisah inspiratif ketiganya ukir sejarah wahid bagi Lampung ini, bukan saja tentang kisah sukses industrialis bertumbuh dengan gempita kapitalisasinya semata, tetapi sinyal positif jua bagi paripurnanya kinerja proses huluisasi pun hilirisasi industri sini. Buat ketiganya, juga Gubernur Mirza, selamat! (Muzzamil)
