LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Matahari Minggu pagi (21/6/2026) belum terlalu tinggi ketika langkah-langkah muda mulai menyusuri kawasan Tugu Adipura, Kota Bandarlampung. Di tengah riuh warga yang berolahraga dan menikmati suasana Car Free Day (CFD), sejumlah pemuda tampak membagikan bunga mawar merah-putih serta botol air mineral kepada para pengunjung.
Mawar-mawar itu bukan sekadar bunga. Kelopaknya membawa pesan tentang harapan, persatuan, dan keyakinan bahwa Indonesia harus terus dijaga bersama. Aksi yang mereka beri tajuk “Jaga Indonesia Bersama Presiden Prabowo” menjadi ruang sederhana untuk menyampaikan dukungan terhadap berbagai program pemerintah sekaligus mengajak masyarakat tetap mengedepankan semangat gotong royong dalam membangun bangsa.
Di balik kegiatan tersebut, tersimpan cerita yang berawal dari ruang diskusi mahasiswa. Mauldan Agusta Rifanda, salah satu inisiator aksi, menuturkan bahwa gagasan itu lahir dari diskusi terbuka yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung pada Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Mauldan, sebagian besar peserta yang hadir dalam forum tersebut menilai pemerintahan saat ini masih membutuhkan ruang dan waktu untuk menuntaskan berbagai agenda pembangunan yang telah direncanakan.
“Pemerintahan ini baru berjalan dua tahun. Kita perlu memberi kesempatan untuk bekerja mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa dengan mengembalikan asas ekonomi pada semangat Pasal 33 UUD 1945,” ujarnya.
Dalam perbincangan yang berkembang di tengah masyarakat, Mauldan juga menyoroti munculnya narasi yang mempertentangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sektor pendidikan.
Baginya, kedua program itu bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua jalan yang berjalan berdampingan menuju tujuan yang sama: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia menunjuk peningkatan anggaran pendidikan tahun 2026 yang mencapai Rp757,8 triliun sebagai salah satu bukti komitmen pemerintah. Program-program beasiswa seperti KIP dan LPDP pun, kata dia, tetap berlanjut untuk membuka akses pendidikan bagi generasi muda.
Pengalaman pribadi turut membentuk pandangannya. Saat menjadi asisten lapangan Program MBG di Lampung Utara, Mauldan melihat langsung bagaimana makanan bergizi yang tersaji di sekolah dapat menghadirkan rasa kesetaraan di antara para siswa. Pada saat yang sama, program tersebut juga menggerakkan roda ekonomi desa melalui keterlibatan pelaku UMKM dan masyarakat setempat.
Namun dukungan, menurutnya, bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Ia mengajak masyarakat untuk tetap memberikan kritik yang membangun terhadap berbagai persoalan tata kelola program pemerintah. Kritik diperlukan sebagai pengingat, bukan sebagai alasan untuk merobohkan apa yang sedang dibangun.
Dalam konteks tantangan ekonomi global, termasuk fluktuasi harga minyak nonsubsidi, ia menilai langkah pemerintah mendorong pengembangan energi alternatif seperti bioetanol merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Menjelang akhir kegiatan, ketika mawar-mawar merah-putih hampir habis terbagi dan keramaian CFD mulai berangsur reda, Mauldan menyampaikan sebuah perumpamaan sederhana.
“Mari jaga Indonesia. Jika di dalam rumah ada yang kotor, maka yang kita bersihkan adalah kotorannya, bukan mengganti kepala rumah tangganya, apalagi sampai menghancurkan rumahnya,” katanya.
Di pagi yang hangat itu, pesan tersebut mengalir bersama langkah warga yang terus berlalu-lalang. Sebagian membawa pulang setangkai mawar, sebagian lagi membawa pulang sebuah ajakan: menjaga Indonesia dengan cara yang lebih teduh, melalui dukungan, kritik yang konstruktif, dan semangat membangun bersama. (Rls/HBM)
