Helo Indonesia

Kampanye Ekoliterasi untuk Bumi yang Berkelanjutan

Ajie - Ragam
Selasa, 26 September 2023 20:20
    Bagikan  
Theresia Tarigan ST MSi

Theresia Tarigan ST MSi -

Oleh: Theresia Tarigan ST MSi

HELOINDONESIA.COM - Menyiasati perubahan iklim yang semakin buruk dan sulit diprediksi, kita tidak dapat hanya beradaptasi tanpa upaya bersama menghentikannya.

Intensitas bencana alam yang meningkat, kemarau berkepanjangan yang mengganggu pertanian dan terjadi kekeringan, mendorong kita mesti memperhatikan tanah agar akarnya lebih dapat menyimpan air dan tajuknya dapat menyerap polusi gas metana dan udara panas.

Pada aspek lain, produksi sampah dari rumah tangga juga berkontribusi pada produksi gas metana (CH4) yang merupakan sumber emisi gas rumah kaca menciptakan lubang pada lapisan ozon sehingga sinar matahari semakin besar ke bumi. Terjadinya pemanasan global tak bisa kita hindari.

Realitas di atas, membuat penghijauan dan pengelolaan sampah menjadi dua hal yang kita dapat lakukan untuk memperbaiki dan merawat lingkungan hidup.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk merawat lingkungan dari rumah? Perilaku hemat, menanam, dan mengelola sampah sendiri semampunya. Alat apa saja yang dibutuhkan? Berbagi wadah.

Apa manfaatnya melakukan itu semua? Iklim mikro yang lebih baik, hemat karena produksi pupuk organik cair (POC), kompos, eco enzyme untuk mengurangi membeli bahan pembersih kimia, memperoleh pendapatan dari menjual barang yang tidak digunakan kembali, mendapatkan ketenangan batin atau peace of mind karena berkeyakinan sudah berkontribusi pada perbaikan alam dan sudah harmonis serasi sebagai bagian dari alam.

"Dunia macam apa yang ingin kita tinggalkan untuk mereka yang datang sesudah kita, anak-anak yang kini sedang bertumbuh kembang?" (Paus Fransiskus, Laudato Si' 160). Jawaban penulis paling tidak cukup pangan dan energi bagi manusia, semakin menurun suhu bumi, semakim sedikit bencana alam, dan lain-lain.

Bagaimana caranya yang lain juga memahami masalah lingkungan, mengetahui solusinya, dan melakukan aksi nyata? Dengan kampanye lingkungan hidup baik oleh Pemerintah maupun masyarakat.

Pada konteks ini, Green Solidarity Indonesia atau GreenSol adalah komunitas peduli keluarga dan lingkungan hidup yang berkeyakinan pendidikan formal dan media sosial sudah ada edukasi lingkungan hidup namun belum merupakan ekoliterasi yang lengkap. Dengan demikian, yang diperlukan adalah memudahkan memulai aksi nyata sebagai perubahan perilaku menjadi berkelanjutan pada penghijauan dan pengolahan sampah.

Ecoliteracy

Adalah suatu konsep peningkatkan kesadaran akan lingkungan hidup yang bertujuan menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Konsep eko literasi termasuk mendapatkan pengetahuan tentang lingkungan hidup, keahlian yang diperlukan untuk. mengatasi masalah lingkungan hidup, dan merealisasikan perubahan gaya hidup menjadi berkelanjuta (McBride dkk, 2013).

GreenSol melakukan ekoliterasi melalui kampanye pentingnya merawat tanaman dan membagi bibit gratis agar meningkat partipasipasi aktif menanam pohon dan diingatkan perlu perawatan dengan baik tanpa harus mahal. Ini pada aspek penghijauan kota Semarang.

Agar masyarakat mau melakukan imbauan pada kampanye ini, maka hal yang belum pernah dilakukan seperi membuat media tanam, kompos, eco enzyme, pupukorganik cari diberi pelatihan langsung ke masyarakat. GreenSol mendampingi P5 siswa SMA 11 penanaman manggrove di Pantai Tirang. Dalam mengolah sampah, GreenSol mendemo ke siswa SMP 9 dan SD 01 Banyumanik membuat eco enzyme.

Dengan penyebaran informasi masalah lingkungan, alternatif solusimya, memudahkan masyarakat melakukan upaya tersebut maka semakin besar masyarakat yang sudah berubah perilaku hidupnya memperbaiki masalah tersebut dan akhirnya menjadi perilaku tetap yang membuat bumi kita berkelanjutan untuk generasi berikutnya.

Apakah pemerintah kota Semarang sudah banyak melakukan kampanye lingkungan hidup? Kita dapat melihat 6 kampanye di kota Utrect Belanda sebagai berikut:


1.Waterproof030

Kampanye pemerintah melalui masyarkat (supaya tidak dianggap dari pemerintah) agar masyarakat membuat tamannya dapat menyerap air dan memiliki aneka tanaman. Diberi penekanan cuaca buruk yang terjadi sebagai pendorong masyarakat mau mencegah terjadi cuaca buruk dengan membuka perkerasan halaman rumah masing-masing dan manfaat tanaman dalam perbaikan kondisi alam.

2. Facade garden
Kampanye langsung kepada masyarakat bagaimana membuat taman hijau di bagian depan gedung/rumah. Mempunyai taman depan menjadi standar baru warga kota. Bagaimana desainnya taman depan dimuat di website yayasan UN yang dibiaya pemerintah Utrect juga dalam bentuk media cetak. Warga juga diminta menginformasikan warga lain untuk membuat taman depan.

3.Groen Doet Goed
Kampanye yang dilakukan oleh Institute for Nature Education (IVN) melaui aktivitas edukasi yang menyenangkan dengan sasaran anak-anak usia 4-12 agar mereka menjadi pelindung alam masa depan. Targetnya setiap anak harus mempunyai pengalaman yang menyenangkan paling tidak sekali sebelum ulang tahun ke-12.

4. Tiny Forest
Kampanye ini juga dilakuka institut IVN bersama warga sekitar lokasi dibuatnya hutan mini di kota Utrect. Hutan kecil ini dengan aneka tanaman sebagai edukasi manfaat hutan bagi warga setempat dan agar warga mendapat manfaat dari keberadaan hutan ini terhadap iklim.

5. Groen aan De Buurt
Kampanye ini untuk mengajak partisipasi warga menghijaukan lahan pribadi dan lahan publik melalui informasi dan pendanaannya.

6. Groen Moet je Doen
Kampanye penghijauan untuk setiap lingkungan (semacam RT di kita) agar mereka aktif melakukannya. Setiap tahu ada hari Groend Moet je Doen di mana setiap lingkungan bersepeda bersama mengunjungi semua lingkungan.
Bagaimana kampanye lingkungan hidup oleh masyarakat? Mari bersama-sama mengajak warga lain untuk melakukan hal yang ramah lingkungan dari rumah kita yaitu menanam untuk menahan air hujan (juga dengan membuat lubang biopori dan rumah mempunyai sumur resapan), mengelola sampah dengan baik.

Penulis, Founder GreenSol dan Koordinator Timpel Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup
Gereja Santa Fatima Banyumanik, Semarang