Naik Haji Tanpa Krodit, Bagaikan Sayur Tanpa Garam!

Jumat, 1 Mei 2026 15:21
GAF HELO LAMPUNG

Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz

PADA tahun 1999 ada teman yang baru pulang haji bercerita betapa kroditnya masalah bus angkutan jamaah haji dari Mekah, Mina, Armina. Bahkan sampai akhirnya saya harus duduk di atas atap bus.

Karena teman ini seorang pengusaha bus AKDP dan beberapa angkot, maka katanya: Ya Allah, apakah dosa yang saya perbuat dengan penumpang angkutan (bus dan angkot) sehingga Engkau timpakan ini (terlantar karena buruknya transportasi) dalam perjalanan haji kami.

Saya, yang nggak punya armada transportasi, juga sempat mengalami sport jantung menunggu angkutan bus jemputan jamaah dari Mina (tarwiyah) ke Arafah. Semula dijanjikan dijemput pukul 07-08.00 tetapi sampai pukul 10.00 waktu setempat belam datang.

Akhirnya, saya dan beberapa teman lari kesana kemari mencegati bus yang lalu lalang. Alhamdulillah akhirnya dapat dan rombongan kami sampai di Arafah saat teman teman di tenda kloter selesai mendengarkan khutbah Arafah. Rombongan kami melanjutkan sendiri.

Tidak aneh bila di beberapa media kita sering mendengar dan menyaksikan kisah serupa, kroditnya angkutan jamaah haji pada puncak haji. Baik yang terkatung katung di Mekah menunggu jemputan ke Arafah, ada yang terkandung katung dari Muzdalifah ke Mina dan sebagainya.

Logikanya karena ibadah haji sudah tiap tahun dilaksanakan seyogyanya sudah dilakukan berbagai perbaikan sistemnya. Dan bila benar itu sudah dilakukan, maka berbagai permasalahan yang kembali terjadi bisa dianggap sebagai keteledoran manajemen atau mungkin ujian bagi jamaah, dan semoga menjadi kafarat dari dosa dosa kita (yang mengalaminya).

Karena mengeluh dan marah, tidak akan mengubah keadaan di saat itu. Seperti kata pepatah, dari pada mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan obor...

Memang, tidak mudah mengatur mobilitas dua jutaan orang jamaah haji dengan tidak kurang melibatkan 50-60 ribu bus dan kendaraan lain dengan lintasan pendek dari Mekkah ke Arafah dan Mina yang total jaraknya hanya sekitar 40 km.

Jarak dari Mekah ke Mina sekitar 5-7 km, Mina ke Arafah sekitar 14 km, dan Arafah ke Makkah berjarak sekitar 21 km. Maka benarlah kepada para calon jamaah haji kita mendoakan, "Zawwadakallâhut taqwâ, wa ghafara dzanbaka, wa yassara lakal khaira haitsumâ kunta." ("Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada." (Hr. Tirmidzi dan Nasa'i)

Ceritanya, ada seorang sahabat yang akan menunaikan ibadah haji kemudian minta bekal kepada Nabi dan Nabi memberi bekal doa tersebut. 

Bila keletihan, kelelahan dan ketidaknyamanan bisa kita nikmati sebagai bumbu penyedap piknik maka kelelahan dan ketidaknyamanan dalam pelaksanaan ibadah haji seharusnya kita juga bisa menikmatinya sebagai bumbu penyedap ibadah.

Melaksanakan haji tanpa krodit, bagaikan sayur tanpa garam! Karena kaidahnya semakin berat pelaksanaan suatu amal atau ujian maka semakin banyak pahala yang akan didapatkan. Selain tentunya kenaikan kelas.

Oleh karena itu sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, kita menyambut mereka dengan suka cita sambil mendoakan dengan beberapa doa diantaranya: "Qabbalallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka. Artinya: "Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu."

Dan atau: "Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj. ("Ya Allah, ampunilah dosa jemaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun olehnya.")

Memang tidak sedikit orang yang minta atau nitip doa kepada seseorang yang berangkat haji. Dalilnya?

Suatu hari Shafwan bin Abdillah bertemu dengan kedua mertuanya, Abi dan Umi Darda di Syam, mengabarkan bahwa ia akan berangkat menunaikan ibadah haji. Kemudian Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi Saw pernah bersabda,” Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do'a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Dan engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Salah satu kebiasaan, kalau bukan budaya, masyarakat Indonesia termasuk kepada yang perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci, selain menitip doa, tidak sedikit yang menitip oleh oleh barang. Karenanya di Mekah dan Madinah, pembelanja oleh oleh yang paling banyak adalah dari jamaah haji asal Indonesia. Dari mulai penjual kaki lima di emperan, toko biasa sampai di mal atau shoping center dipenuhi oleh jamaah asal Indonesia.

Oleh karena itu walau sedikit sedikit pedagang dan pegawai toko di Mekah ngerti bahasa Indonesia pasar. Seperti murah murah, oleh oleh, Indonesia bagus dan lain sebagainya. Sampai ada kawan sesama jamaah yang pulang lebih lama dari menunaikan shalat di Masjidil Haram, kemudian saat ditanya dari mana kok lama amat?

Anu, thawaf dulu di pasar seng, sambil menunjukkan barang belanjaannya, oleh untuk saudara, teman dan tetangga, jawabnya. (Saat itu, 2006, pasar seng belum digusur untuk perluasan masjid) teman yang lain pun setali tiga uang. Sebenarnya bagaimana kedudukan meminta oleh oleh dari orang yang berpergian?

Dua hadits Nabi Saw berikut ini bisa jadikan renungan:

Dari Hakim bin Hizam dia berkata,
Saya pernah meminta kepada Nabi saw, maka beliau pun memberikannya padaku. Kemudian aku meminta lagi, maka diberikannya lagi. Kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun memberikannya lagi.

Sesudah itu, Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya harta ini adalah lezat dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapat berkahnya. Namun, siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat berkahnya, Dia bagaikan orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah’.” (HR. Al-Bukhari no. 1472 dan Muslim no. 1717).

Kemudian hadits yang lain:
"Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun," (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725). 

Memang hadits ini tidak khusus untuk orang yang berpergian, bahkan lebih umum untuk yang suka minta traktir atau malak. Adapun untuk saudara dan untuk teman yang akan berpergian, sebaik baiknya permintaan adalah permintaan doa. Pergi haji adalah sebuah safar yang berkah. Dan seorang yang safar (musafir) adalah salah satu golongan yang doanya mustajab.

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw bersabda. “Tiga doa yang tidak ditolak ; doa orang tua terhadap anaknya ; doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir” (HR. Baihaqi)

Adapun bila seorang yang berpergian kemudian menyiapkan oleh oleh tanpa diminta, itu adalah kebaikan. Karena Beliau Saw pernah bersabda: “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 6/169, hasan)

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

Berita Terkini

Rayap Besi

Ragam • 4 jam 30 menit lalu