Papan Nama Tua LBH Garuda Patimura di Lapak Rongsok, Saya Temukan Indonesia Sesunguhnya

Selasa, 28 Juli 2026 12:27
Sepotong papan nama LBH Garuda di lapak rongsok. HELO LAMPUNG

Penulis Herman Batin Mangku
Jurnalis

SEKILAS, foto yang saya jepret pakai HP yang sudah cepat lowbet pekan lalu tak memiliki sesuatu yang istimewa. Hanya seorang pria paruh baya duduk di tengah tumpukan barang bekas. Sobekan kardus, besi berkarat, plastik kusam, dan aneka rongsok yang bagi sebagian orang hanyalah sampah.

Namun, kamera sering kali hanya menangkap bentuk. Mata manusialah yang mampu membaca makna. Sang pria yang akrab dipanggil Jawa. Wajahnya teduh. Senyumnya tenang. Nyaris tak terlihat beban, seolah hidup telah mengajarinya berdamai dengan kenyataan.

Di saat dunia dipenuhi kegaduhan, media sosial dijejali kemarahan, fitnah, dan saling menghujat, Jawa justru memilih menjalani hidup dengan cara paling sederhana: bekerja, sabar, dan ikhlas. Doa keluarga dilangitkan.

Setiap pagi, ia menunggu para pemulung datang. Mereka bukan tamu. Mereka adalah sahabat seperjuangan mengarungi kehidupan. Dari satu tong sampah ke tong sampah lain, dari satu gang ke gang berikutnya, dari satu jalan tembus ke jalan yang lain, mereka mendorong gerobak reyot atau memikul karung lusuh kiloan meter.

Matahari membakar kulit mereka, hujan membasahi tubuh mereka, tetapi langkah itu tak pernah berhenti. Di sudut kota tua Telukbetung yang jauh dari gemerlap jembatan JPO Singers Milenial dan jalan layang, rongsok-rongsok itu menemukan takdirnya. Sobekan kardus berubah menjadi uang sekolah. Botol plastik menjelma menjadi sebungkus beras. Kaleng bekas berubah menjadi harapan masih ada mentari pagi esok hari.

Jelang siang itu, saya menyaksikan sendiri. Tak sampai seperempat jam, ratusan ribu rupiah berpindah dari tangan Jawa ke tangan para pemulung. Uang tunai yang mungkin tak berarti bagi mereka yang hidup berkecukupan, tetapi menjadi napas bagi keluarga-keluarga kecil yang menggantungkan hidup dari barang-barang yang telah dibuang orang lain.

Ironisnya, sering kali mereka yang memungut sampah justru memiliki harga diri lebih tinggi daripada mereka yang gemar mengambil hak rakyat dengan jas mahal dan ruang kerja berpendingin udara. Para pemulung itu tak mencuri, tak menipu, tak menggelapkan uang negara, tak menjual jabatan.

Mereka hanya menjual tenaga dan kejujuran meski kerap berhadapan dengan orang yang memandang curiga dan sorot CCTV di setiap langkah rumah gedongan.

Barangkali sebagian dari mereka hidup dalam kemiskinan bukan karena malas, melainkan karena belum semua orang memperoleh kesempatan yang sama. Karena di negeri ini masih ada ketimpangan yang panjang, ketika kerja keras belum selalu sebanding dengan kesejahteraan. Namun mereka tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap percaya bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan diratapi dari fajar hingga larut malam.

Saat memperhatikan lebih saksama, mata saya tertuju pada sebuah papan kecil yang menggantung di dinding lapak kumuh tersebut bertuliskan "LBH Garuda Patimura." Tulisan itu sederhana. Nyaris tak menarik perhatian. Namun bagi Jawa, papan itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nama lembaga bantuan hukum.

Ia bercerita, sejak membangun usaha dari nol hingga kini mampu memutar uang tunai jutaan rupiah setiap hari, papan nama tua yang talinya sudah menghitam akibat debu jadi pendamping kejujuran usahanya. Papan tua itu membuatnya bisa percaya diri, tersenyum, dan tenang mengikuti roda kehidupan.

Bahkan, di masa-masa sulit, ia mengaku justru pernah mendapatkan bantuan modal usaha dari advokat yang tak pernah dibayarnya. Ternyata, rasa aman bukan lahir dari pagar besi yang tinggi melainkan dari keyakinan bahwa ketika hak kita dirampas, masih ada orang yang bersedia berdiri di samping kita.

Saya tersenyum dan dengan sedikit rasa bangga berkata kepada Jawa, pendiri LBH itu adalah sahabat saya: Samsul Arifin, SH, MH.

Saya percaya cerita Jawa. Logo yang masih terpajang adalah logo lama, burung garuda "ceper" saksi perjalanan ketika sang pendirinya baru memulai langkah sebagai advokat. Kini logonya telah berubah jadi monyet berpedang menunggangi gajah, sebagaimana perjalanan hidup yang terus menempa seorang advokat menjadi lebih matang.

Soal filosofi perubahan logo itu, biarlah sahabat saya yang yang kelak menceritakannya. Bagi saya, ada pelajaran yang jauh lebih penting dari sekadar sebuah lambang. Keadilan tidak selalu hadir di gedung-gedung megah kadang ia hidup di sebuah lapak rongsokan. Kemuliaan tidak selalu lahir dari jabatan. Kadang ia tumbuh dari tangan-tangan yang kotor oleh debu, tetapi bersih dari mengambil yang bukan haknya.

Saya kantongi kamera HP. Namun bayangan itu terus tinggal di kepala. Negeri ini mungkin tak akan runtuh karena miskin. Yang lebih berbahaya adalah ketika kita kehilangan empati kepada mereka yang setiap hari menjaga kehidupan dengan cara-cara yang sederhana.

Sebab sesungguhnya Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang pidatonya bergema di atas mimbar. Indonesia juga disangga oleh para pemulung yang memungut sisa-sisa kehidupan, oleh Jawa yang jujur membeli hasil jerih payah mereka, dan oleh orang-orang baik yang memilih menolong tanpa banyak meminta tepuk tangan.

Mereka mungkin tak pernah menjadi berita utama. Tetapi merekalah alasan negeri ini masih memiliki harapan. ***

Berita Terkini