Helo Indonesia

Filosofi Peperenian, Tradisi Kesehatan dan Kebugaran Adat Etnis Sunda

Jumat, 14 Februari 2025 01:09
    Bagikan  
Peperenian Sunda
Foto: pexels

Peperenian Sunda - Salah satu pakaian adat pengantin Sunda.

HELOINDONESIA.COM -Industri di bidang spa wellness itu bukan cuma dikenal Bali atau Jawa. Tapi juga terdapat tradisi kesehatan dan kebugaran khas Sunda.

Semula, tradisi ini dinilai sebagai sesuatu yang langka. Namun dengan kerja keras anggota Indonesia Wellness Master Association (IWMA), tradisi kesehatan Sunda yang dikenal dengan Peperenian bisa menjadi salah satu kekayaan budaya Nusantara.

Antropolog dari Fakultas Fisip Universitas Padjajaran (Unpad) Ira Indrawardana dalam webinar yang dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (13/2/2025) mengungkapkan bahwa Peperenian etnowellness Sunda dalam pandangan orang Sunda itu adalah berbagai hal yang tersimpan.

"Peperenian ini sebagai warisan. Ketika berbicara tersimpan, kita tidak tahu di mana saja yang tersimpan itu. Artinya saya juga punya keterbatasan gitu kan
Artinya apa yang saya paparkan adalah mungkin sebagian kecil dari khasanah budaya etnowellness Sunda yang masih tersimpan," papar Ira.

Baca juga: Pohon Besar Tumbang Timpa Lapak Durian, Samsul Luka Jalan Macet

Meski demikian, menurut Ira, dari beberapa hal poin dari yang tersimpan ini adalah berkaitan dengan tentunya pengetahuan atau pustaka budaya loka.

"Kearifan lokal ini berkaitan dengan kebugaran dalam konteks ini jadi sesuatu yang tersimpan sesuatu yang merupakan warisan budaya itu di antaranya berupa pengetahuan budaya, metode berupa ritual, berupa kesehatan yang memang dalam kaitan dengan kesehatan bagi manusia," ucapnya.

Kenapa Peperenian ini menjadi salah satu pilihan, sambung Ira, karena dalam pilihan-pilihan tema atau pilihan-pilihan ikon tentang etnowellness Sunda memang ada yang namanya terapi dan segala macamnya.

"Saya melihat dan mencoba menemukan sebuah konsep adalah Peperenian berarti berbicara sesuatu yang tersimpan. Ini artinya bisa menjadi suatu memori kolektif, bisa menjadi sesuatu yang dipakai oleh orang sewaktu-waktu," jelasnya.

Baca juga: Pelaku Penusukan Awak Bus Damri Mengaku Khilaf, Istri Baru Meninggal

Peperenian ini memberikan filosofi bahwa hidup manusia itu tidak selamanya sehat. Tapi juga manusia selalu menjaga kesehatannya setiap waktu.

"Nah apa yang disimpan digunakan atau kemudian disimpan kembali itu semua adalah bagian dari bagaimana manusia dalam hal ini pengetahuan-pengetahuan Sunda digunakan sewaktu-waktu," terangnya.

Karena ketika berbicara sewaktu-waktu, maka ada ruang ada waktu, ada tempatnya, ada caranya, ada metodenya kenapa demikian.

"Manusia itu hidup dalam sebuah lingkaran waktu. Kalau berbicara tentang lingkaran waktu berkaitan juga dengan konteks bahwa manusia hidup itu dalam keharmonian," ujarnya.